
Azlan masih berdiri menatap Arga yang tak bergerak dan tak megucapkan sepatah kata.
“Kau akan mempertanggungjawabkan perbuatanmu, arga,” ucap Azlan kemudian balik badan. Saat baru dua langkah kakinya berjalan, Arga memanggilnya.
“Tuan Azlan!”
Azlan berhenti dan menoleh. Arga menatapnya.
“Katakan pada Nona Alexa, aku sungguh-sungguh minta maaf,” lirih Arga dengan mata berair.
Azlan melihat penyesalan di mata itu. Ia tidak bisa bicara banyak, andai saja berada di posisi Alexa, mungkin ia juga akan sulit memberi maaf, namun ia hanya berharap Alexa tidak mendendam dan memberi maaf. Azlan balik badan kemudian melangkah pergi. Ia menelepon Alexa, menanyakan keberadaan istrinya itu. Sebab setelah keluar kamar, ia tidak melihat Alexa. Istrinya itu mengaku sudah keluar dari rumah sakit. Azlan menyusul Alexa yang sudah lebih dulu duduk di mobil.
Azlan duduk di bagian kemudi. Ia menatap ke luar, lokasi tempat mobilnya terparkir itu tidak terjangkau oleh sinar lampu, mengakibatkan kondisi di dalam mobil juga gelap tanpa ada penerangan. Mungkin lampu di sekitar sana putus. Sebab Azlan ingat, saat ia memarkirkan mobilnya tadi, area di sekitar mobilnya itu terang benderang.
“Di sini gelap, kamu nggak takut gelap lagi?” Tanya Azlan sambil menyalakan lampu baca. Ia kemudian menatap Alexa yang kini duduk di sisi jok kemudi. Ekspresi wajah Alexa tampak masih tegang.
“Enggak. Setiap malam kamu membuat kamar tidurku dalam keadaan gelap gulita. Aku udah mulai terbiasa.”
“Syukurlah.” Azlan tersenyum senang.
__ADS_1
“Kamu yang membuat banyak perubahan untukku.”
Azlan mengacak rambut Alexa singkat.
“O ya sayang, Arga minta maaf kepadamu.” Azlan menyampaikan pesan.
“Semudah itu?” Alexa menatap Azlan dengan dahi mengernyit. “Dia sudah membuat nyawa Sunil melayang. Dia juga hampir melenyapkanku, jika aku benar-benar mati di tangannya, dia menyandang predikat seorang pemb*nuh.”
Azlan mengusap punggung tangan Alexa dan tidak lagi mengucapkan apa-apa. Ia mengerti dengan kekesalan istrinya. Namun ia yakin, kemarahan Alexa akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu.
“Baiklah, kita pulang!” ajak Azlan sambil menyalakan mesin mobil.
“Loh, jadi mau pulang kemana?”
Mobil keluar dari area basement, bergerak menuju portal dan kemudian keluar ke jalan raya.
“Ke rumah Bunda,” jawab Alexa.
“Bunda Dinda?”
__ADS_1
“Iya. Aku hanya memiliki bunda Dinda, kan? Nggak ada Bunda lainnya lagi.”
Azlan tersenyum. “Baiklah. Kita ke sana. Kamu merindukan Bunda?”
“Banget. Kamu baru sekali mengajakku ketemu Bunda. apa aku boleh tidur di rumahmu? Aku ingin punya banyak waktu bersama-sama dengan Bunda.”
Lagi, Azlan tersenyum simpul. “Tentu.”
Alexa tertawa.
Azlan memperhatikan tawa itu, kegembiraan Alexa terlihat sempurna saat begini. Dia merasa sangat bahagia diperbolehkan untuk bertemu dnegan bunda disaat ia baru saja merasa sangat kesal dan marah. Ternyata Bunda sangat berharga di mata Alexa.
Mobil berbelok dan berhenti.
“Kok, berhenti? Ini kan belum smapai di rumah bunda?” Alexa menatap ke luar. Ia melihat tulisan MAsjid Al Ikhlas yang terpampang di papan nama. “Ooh…” ujarnya memahami niat Azlan.
“Aku belum shalat isya,” ujar Azlan. “Aku mau turun dan shalat. Ayo, shalat!”
Mendengar ajakan itu, Alexa mengangguk tanpa sadar. Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia shalat. Sudah beberapa kali Azlan mengajaknya shalat, dan baru kali ini Alexa menganggukkan kepala. Ia turun dari mobil dan mengikuti Azlan menuju ke keran tempat mengambil air mudhu.
__ADS_1
TBC