
Azlan sedang mempelajari file perusahaan ketika Kikan muncul dan berdiri di hadapannya sesaat setelah mengetuk pintu.
Azlan mengangkat wajah, menatap Kikan yang tersenyum.
“Ada apa?” tanya Azlan.
“Aku hanya ingin menyerahkan file ini ke kamu, Azlan. Ups, maaf aku memanggilmu tanpa sebutan ‘Pak’, sebab terlanjur sejak awal udah panggil nama.” KIkan duduk di kursi sebelum Azlan mempersilahkan.
“Oke, file nya kuterima. Apa ada yang perlu dibahas lagi?”
Kikan diam saja, matanya nanar menatap wajah Azlan.
“Kalau nggak ada urusan pekerjaan yang perlu dibahas lagi, silahkan keluar!” Azlan dengan tegas menunjuk pintu.
“Ck ck ck… Pantas saja Alexa menjadikanmu suami, kau benar-benar menggairahkan, Azlan. Aku terpana padamu. Dan aku masih penasaran terhadapmu.”
Azlan mengesah. “Aku nggak mengerti kenapa Pak Joan masih mempertahankamu, orang yang telah mempermalukan menantunya sendiri. Sama saja kamu mencoreng nama baik keluarga Pak Joan. Tapi apa yang ada di dalam pikirannya sampai-sampai kamu masih dianggap perlu.”
“Tanyain aja ke Pak Joan, kenapa dia mempertahankanku.” Kikan tampak rileks mengelus-elus kuku tangannya yang panjang.
Malas berdebat, Azlan bangkit berdiri meninggalkan ruangan, tak perduli suara Kikan yang berseru memanggil-manggilnya. Ia berpapasan dengan Alexa di ambang pintu. Azlan tersenyum menatap wanitanya itu.
Alexa memiringkan kepala untuk melihat isi ruangan Azlan, ia mendapati Kikan yang berdiri di tengah-tengah ruangan.
__ADS_1
“Aku ingin mengajakmu makan siang, Baby!” Alexa yang sebenarnya berniat ingin menamani Azlan di ruangan pria itu, mengubah niatnya. Males banget kalau harus melihat Kikan.
“Oke.” Azlan tersenyum mengangguk.
“Aku akan pesankan makanan spesial yang mungkin kamu belum pernah merasakannya.” Alexa mendekatkan bahunya ke dada Azlan agar terlihat semakin mesra, lalu mengelus kemeja dada pria itu agar terlihat seperti membersihkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada benda yang mengotori.
Kikan berpaling dengan wajah muak. “Aku hanya terlambat selangkah darimu, Alexa. Jangan di atas angin!”
Azlan menyentuh pergelangan tangan Alexa ketika istrinya itu hendak maju mendekati Kikan sehingga tubuh Alexa tertahan.
“Tenang Baby, aku akan tetap rileks saat menghadapi jin.” Alexa tersenyum kemudian menatap wajah Kikan yang merah padam, Alexa yakin Kikan sedang kebakaran jenggot. “Jangan terlalu ambisi untuk mengharapkan seseorang, gue takut lo bunuh diri setelah tau hasil akhirnya. Lo emang bener-bener telah gagal ngedapetin pria sehebat Azlan. Ya, Azlan memang sangat hebat dalam segala hal. Seperti yang dia lakukan malam tadi bersamaku.” Alexa mengerlingkan sebelah mata kemudian melenggang pergi diikuti oleh Azlan.
“Kenapa kamu berbicara begitu pada Kikan? Itu justru akan membuat Kikan mersa lebih penasaran padaku,” ujar Azlan saat menyusul Alexa memasuki lift.
“Alexa, ini hanya akan…”
“Azlan, plis! Jangan ngajak rebut. Gitu doang dipermasalahin. Sebel aku!” Alexa memalingkan wajah ke dinidng lift supaya tidak menatap wajah Azlan di sisinya.
Azlan menoleh ke arah Alexa yang memunggunginya. Ia tersenyum kemudian meraih pundak wanita itu dan memutarnya supaya menghadap ke arahnya. “Aku hanya ingin wanita itu menjauh dariku. Bukan malah merasa lebih penasaran padaku. Itu aja. Aku hanya ingin kamu yang merasa penasaran padaku. Apa aku salah, hm?”
Alexa diam saja menatap mata cokelat Azlan. Mata teduh itu membuat hatinya terasa dingin, suara lembut itu juga membuat batinnya tenang, kekesalannya meluntur. Azlan selalu mampu membuat lawan bicaranya takluk. Pria jenis apa yang dia hadapi sekarang?
Azlan tersenyum kemudian menarik bahu yang dia pegang hingga tubuh Alexa bergerak menempel di dadanya.
__ADS_1
“Jangan menggodai istrimu!” sergah Alexa pura-pura menampilkan ekspresi kejam.
“Itu halal untukku.”
“Ooh.. Kamu menentangku? Kalau begitu, cium aku!”
Azlan malah tersenyum tipis mendengar permintaan Alexa. Ya ampun, sedang dalam kondisi marah begitu kok minta cium?
“Aku nggak akan melakukannya di sini. Tunggu pulang nanti aja,” ujar Azlan.
“Penakut!”
“Ada cctv. Tuh!” Azlan menunjuk kamera cctv dengan mengangkat dagunya, membuat Alexa diam dan mengalah.
Pintu lift terbuka. Beberapa orang yang mengantri berdiri di depan lift, tertegun menatap Alexa dan Azlan yang begitu mesra di dalam lift.
Azlan masih meletakkan tangannya di pundak istrinya saat melenggang keluar dari lift.
“Romantis banget mereka,” celetuk salah seorang karyawan dan ditanggapi dengan serbuan komentar yang lainnya.
***
TBC
__ADS_1