Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Tujuh Puluh Enam


__ADS_3

Alexa duduk berhadapan dengan Jesy, sahabatnya di meja makan. Kebetulan Jesy mampir ke kantor dan Alexa langsung mengajak Jesy makan di kantin. Tentu saja dengan iming-iming traktiran.


Siang itu, Alexa sedang merasa lapar dan lebih memilih kantin kantor untuk menghabiskan waktu. Mood-nya sedang tidak baik untuk keluar kantor karena ia harus berada satu mobil dengan Azlan jika ia memilih untuk makan siang di luar. Dia berangkat kerja bersama Azlan pagi tadi. Mulanya ia berniat pergi bersama Sandi, supir barunya. Namun Azlan sudah lebih dulu berada di depan rumah lengkap dengan mobilnya yang sudah stand by di depan pintu, tak lupa Azlan menarik Alexa masuk ke mobil dan mengajak berangkat ke kantor bersama-sama. Andai saja ia memilih keluar kantor untuk makan siang, tentu saja ia juga harus berduaan lagi dengan Azlan sebab pria itulah yang membawa kunci mobil. Alexa sedang tidak mood berduaan dengan Azlan. Ia sedang ingin menjauhi pria itu. hatinya masih kebas sampai saat ini.


“Gue lagi chatingan sama si doi, astaga ternyata doi perhatian banget sama gue. Dia bilang gue ini manja, pipinya gemil dan cantik. Aduduh…. Idung gue kembang kempis ini jadinya. Plis deh jangan puji gue begini.” Jesy heboh sendiri, bertepuk tangan, mengusap-usap ponsel, juga menghentak-hentakkan kaki ke lantai. “Ya ampun, gini banget rasanya jatuh cinta. Setelah dua tahun nggak pacaran, rasanya kangen juga dengan yang namanya jatuh cinta. E eh, tapi kok dia nggak nembak-nembak gue juga ya? Menurut lo, cowok yang begini tuh beneran suka sama gue apa Cuma PHP doang ya, Lex?”


Tidak mendapat jawaban, Jesy mengangkat wajah dan menatap Alexa. Ia menggigit bibir melihat Alexa mengaduk-aduk minuman menggunakan sedotan dengan gerakan kasar hingga jusnya muncrat keluar gelas, ekspresinya terlihat kesal tingkat akut.


“Heh cendol keplindes truk, gue ngomong sama lo. Lo ngapain malah emosi sendiri? Sekalian aja tuh tumplekin isi gelasnya. Atau lo telan gitu. Gedeg gue ngeliat lo kejer begitu.” Jesy menatap Alexa manyun.


“Gue lagi bete, Jes. Jangan nambah-nambahin emosi gue. Bisa-bisa ini sedotan masuk ke mata lo, loh,” geram Alexa.


Jesy terkekeh. Alexa jika sedang emosi main gertak sembarangan saja. “Sori, deh. Lo jangan kayak harimau jadi-jadian gitu ngapa? Emangnya kenapa kok bisa sebete ini?”


“Udah, jangan banyak Tanya. Lo di sini adalah untuk ngebuat otak gue jadi fresh, bukan malah nambah-nambahin beban,” kesal Alexa.

__ADS_1


“Lah, jadi gue mesti gimana? Diem aja gitu? Emangnya kenapa sih lo bisa sebete ini?”


“Jes, gue mau nangis ini. Boleh nggak gue nangis di depan lo sekarang?” Ekspresi wajah Alexa yang emosi, kini berbaur dengan ekspresi mendung. Matanya berkaca-kaca.


Jesy tertegun menatap ekspresi wajah Alexa yang mendadak campur aduk tak menentu. “Ya udah, lo nangis aja sepuasnya. Nggak apa-apa, gue dengerin.”


Sebelum Jesy sempat menyelesaikan kata-katanya, air mata Alexa sudah menganak sungai, tangisnya pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dengan pundak yang bergetar hebat. Alexa tidak tahu sampai kapan ia harus merasa terluka setiap kali membayangkan Azlan bersama denganw anita lain. Hatinya seperti tersayat-sayat benda tak kasat mata. Bagaimana caranya ia bisa melupakan semuanya dengan mudahnya? Sungguh, Alexa tidak bisa melupakan hal itu semudah mengedipkan mata. Menatap wajah Azlan saja, rasanya ia sudah terbayang kalau pria itu bercumbu dengan wanita lain. Ia sangat tahu bagaimana pintarnya Azlan dalam melemahkan lawan bercintanya, dan Alexa merasa cemburu jika Azlan membagi kehangatan dan kepintarannya itu kepada wanita lain.


“Astaga, Alexa. lo sedih banget begini. Apa Azlan yang ngebuat lo jadi begini?” tebak Jesy sambil menggeser kursi hinga merapat ke kursi Alexa.


“Ya udah deh, lo nggak usah ngomong apa-apa sekarang. Lo nangis aja sepuasnya. Itu pasti akan mengurangi beban lo.” Jesy merangkul Alexa sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling, kantin cukup ramai. Dan beberapa karyawan yang makan di sana ada yang memperhatikan Alexa yang sedang menangis.


“Lexa, nangisnya disambung nanti lagi gimana? Soalnya orang-orang di sini pada ngeliatin elo, malu tauk!” Jesy berbisik.


“Bodo amat,” balas Alexa di sela isak tangisnya.

__ADS_1


Jesy terkejut mendengar jawaban Alexa.


“Gue bisa ngebuat mereka kehilangan mata pencaharian kalau gue mau.” Alexa berkomentar meski bernada kesal.


Jesy pun terdiam.


Tak berapa lama kemudian Alexa membuka telapak tangannya dari wajah. Mengusap air matanya dengan tisu dan membuangnya ke sembarang arah. Jangan ditanya kenapa Alexa tidak bisa membuang sampah pada tempatnya, sebab dia sedang gondok sekali. Meski Azlan sudah bersikap sangat baik padanya, terus-terusan memanjakan dirinya, namun kecemburaunnya tetap saja membuat dadanya panas bak disiram bara api.


Alexa bangkit berdiri dengan gerakan kasar hingga membuat kursinya bergerak mundur agak jauh. Ia hampir bertabrakan dengan seseorang saat balik badan. Kikan? Wanita itu tersenyum tipis sambil membawa makanan di talam yang akan dia bawa ke meja.


“Selamat pagi, Nona Alexa!” sapa Kikan yang entah kenapa mendadak jadi sopan.


Alexa tidak menjawab. Tumben rada sopan tuh orang.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2