
Sembilan bulan mengandung bukanlah waktu yang singkat untuk seorang Alexa, juga wanita-wanita yang lain. Namun inilah yang dijalani oleh para wanita demi memiliki keturunan. Segala keluhan dialami, mulai dari kehamilan awal yang sering mual-mual, membenci berbagai macam aroma, sakit-sakit pinggang, nyeri perut, sensasi tinjuan dan tendangan si kecil dalam perut, serta banyak lagi lainnya.
Alexa yang memiliki kehidupan sosialita kelas atas, di usia yang belum tua, ia bersedia hamil dan menjalani kehidupannya sebagai ibu muda. Tidak seperti teman-temannya yang lain, yang tidak berminat hamil di usia muda karena takut tubuhnya menjadi rusak.
Hamil, bagi Alexa memiliki kesan tersendiri. Dan ia seperti menjadi sempurna sebagai istri. Justru dia sangat menunggu kapan tiba masa lahirnya sang buah hati. Memiliki anak bukan hanya sebatas pelengkap keluarga saja, melainkan juga sebagai wujud dari kesempurnaan sebagai wanita untuk menikmati anugerah yang Maha Kuasa.
Ada banyak kebahagiaan yang didapatkan ibu hamil selain dari rasa sakit yang dia derita, dan kebahagiaan itu tidak didapatkan oleh wanita yang sengaja tidak mau hamil.
Malam itu, Alexa duduk di ranjang. Membaca komentar-komentar yang baru hari itu sempat ia baca. Sesekali ia terkekeh pelan membaca komentar jail. Saking gemasnya pada Alexa, sampai ada yang langsung direct message dan menulis kalimat super heboh mengandung pujian dan rasa gemas.
Azlan keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang dililit di pinggang. Ia melirik Alexa yang tertawa renyah pada ponselnya. Azlan tersenyum melihat istrinya tampak gembira. ia duduk di sisi ranjang setelah mengenakan pakaian lengkap.
“Sayang!” panggil Azlan sambil meletakkan telapak tangan ke atas paha Alexa.
“Hm?” Alexa tidak menoleh, hanya mengangkat dagu saja dan tatapannya masih fokus ke ponsel.
“Apa kamu mau minuman hangat?”
“Boleh sih. Suruh aja Weni bikinin teh hijau hangat-hangat kuku, gulanya dikit aja, jangan terlalu kental. Kasian bayinya kalau minum teh terlalu kental. Kasihan juga akunya kalau kebanyakan minum manis, entar bayinya gede, susah keluarnya. He heee…” Alexa menatap Azlan saat tergelak.
“Ya udah, aku ke bawah dulu.” Azlan keluar kamar. Ia ke dapur dan menuju lemari.
“Wen! Weni!” panggil Azlan sambil mencari-cari teh hijau.
“Ya, Pak bos!” Weni tergopoh menemui Tuan mudanya. “Tuan ganteng ada apa ya memanggil saya?”
__ADS_1
“Kamu ini, panggil aku tuan ganteng, mau kena semprot Alexa?” Azlan menaikkan alis.
“E ehh… Ya nggak maulah. Ini bibir memang sukanya nerabas gini nih. Mangap eh maap.”
“Aku nyariin teh hijau dari tadi nggak ketemu. Tehnya ditarok mana?”
“Ada. Ini, Tuan!” Weni mengambil teh hijau di dalam lemari sebelah kanan atas.
“Ooh… Aku cari di lemari kiri tadi.” Azlan menyambut kotak teh.
“Tumben tuan minumnya teh hijau?”
“Untuk Alexa.”
“Mau saya bikinin tehnya, Tuan?”
“Ce’ileh… Non Alexa beruntung banget punya suami kayak Mas eh Tuan Azlan, udah baik, perhatian, soleh, penyayang, ganteng lagi. Perfect.”
“Hus!” Azlan melintasi Weni dan berjalan menuju kamar menbawa segelas teh hangat kuku. Ia duduk di tepi ranjang. “Ini tehnya, sayang. Ayo minum!”
Alexa meraih gelas yang diberikan dan meneguk separuh. “Makasih udah ambilin.”
“Bukan hanya ngambilin doang, tapi juga buatin buat kamu.”
“O ya? Jadi itu tehnya kamu yang bikin?”
__ADS_1
“Ya.” Azlan mengambil gelas dari tangan Alexa dan menaruhnya ke meja samping ranjang. “Bagaimana perasaanmu saat mendekati proses persalinan?”
“Gimana yaa…” Alexa pura-pura berpikir, wajahnya tampak riang, tak sedikit pun terlihat cemas. “Biasa aja. Malah kepingin cepet-cepet proses lahir.”
“Kamu nggak takut?”
“Takut apa?”
“Melahirkan itu kan sakit,” jawab Azlan dengan lirih. “Terkadang orang lebih memilih Caesar dari pada lahiran normal karena takut merasakan kontraksi yang menyakitkan.”
“Itu kan orang lain. Aku nggak kayak gitu. Aku maunya normal. Itu akan lebih indah.” Alexa percaya diri.
“Aku pasti akan sangat mencemaskanmu saat waktunya tiba.”
“Tenang aja, ada triliunan ibu-ibu yang punya anak bukan? Aku salah satunya. Apa yang ditakutkan?”
Azlan tersenyum samar. “Kamu benar.”
“Kalau takut melahirkan, ya jangan nikah. Masak mau main ranjang tapi hasilnya nggak mau. He heeee…”
TBC
.
.
__ADS_1
.