
“Nona yang salah, kenapa nona nggak minta bantuan Weni atau siapa aja wanita di rumah ini. aku laki-laki dan aku kurang mengerti dengan pakaian wanita,” ucapa Azlan membela diri.
“Azlan, ngikat doang. Apa susahnya sih?” ketus Alexa membuat Azlan pasrah.
Pria itu kembali menjulurkan tangan untuk mengikat kain itu saat Alexa memposisikan tubuhnya membelakangi Azlan.
“Ayo, kita berangkat ke kantor,” ajak Alexa sembari melangkah memasuki mobil.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam. Masing-masing memikirkan apa yang sedang dipikirkan oleh orang yang duduk di sisi mereka. Astaga. Andai saja mereka mengutarakan pikiran masing-masing, pasti obrolan pun nyambung.
Lima belas menit berlalu dan masih tanpa perbincangan. Alexa kini sibuk dengan ponselnya.
Azlan konsentrasi menyetir meski sesekali manik matanya melirik ke samping, mencuri tahu apa yang dikerjakan nonanya. Sudah sekuat mungkin ia berusaha untuk tidak melirik ke arah nonanya yang selalu saja mengundang godaan, namun matanya berkhianat pada tuannya.
Sesampainya di basement kantor, Azlan membiarkan Alexa turun sendirian. Dia tetap diam duduk di mobil. Azlan tidak mau jalan bareng Alexa. Hal itu akan memperkeruh gosip yang muncul, dan dia harus menghindari Alexa saat berada di area kantor.
“Hei!” Alexa mengetuk kaca mobil dan Azlan membukanya. “Kenapa nggak turun?”
“Aku masih ada urusan.”
“Ooh.. Oke, tapi nanti susul aku ke atas. Aku membutuhkanmu.”
__ADS_1
“Baik.”
“Aku duluan.” Alexa melenggang pergi.
Azlan cepat-cepat memalingkan pandangan saat sadar telah beberapa detik memandangi gerak anggun langkah Alexa yang menjauhinya. Sekilas kepalanya menggeleng.
Lima empat tiga dua satu...
Azlan menghitung detik demi detik, memastikan Alexa sudah jauh. Dan ketika sudah menit ke lima, dia turun dari mobil. Syukurlah, dia tidak melihat batang hidung Alexa lagi. Soalnya hidupnya terasa rumit jika ada Alexa. Semua mata akan menatapnya dengan pandangan menghakimi, belum lagi kasak-kusuk isu yang semakin menjadi-jadi.
Azlan mengambil ponselnya di saku kemeja saat benda itu berdering. Alexa memanggil. Belum sempat bia menarik nafa tenang, sudah mendapat ultimatum baru dari nonanya.
“Azlan, cepatlah! Aku menunggumu,” titah Alexa di seberang.
Alexa duduk di kursinya menatap kedatangan Azlan.
“Apa ada yang perlu kubantu?” tanya Azlan sambil memasuki ruangan.
“Aku akan ada pertemuan dengan klien baru. Kuharap kamu ada di sisiku.”
“Apa perlu sampai harus begitu? Aku rasa nona akan aman selama berada di kantor tempat nona bekerja.”
__ADS_1
“Kamu ikuti aja aturanku. Jangan protes!” sergah Alexa.
“Nona berlebihan.”
“Aku baru pertama kali ini bertemu dengan klienku ini. hanya antisipasi. Aku nggak mau ada kejadian buruk seperti yang terjadi beberapa bulan lalu. Kerja sama nggak jadi, dan aku hampir disiram kopi. Sudahlah, jangan protes.” Alexa kemudian membuka aplikasi kontak di ponselnya dan menelepon Syafiqa. “Fiqa, sudah siap semua datanya? Baiklah. Aku ke sana.” Alexa berjalan keluar dan Azlan mengikutinya. Sepanjang perjalanan, primadona dan si tampan menjadi pusat perhatian semua orang yang dilintasi.
Alexa berhenti memasuki seuah ruangan dan Azlan mengikutinya.
“Kita mau apa di sini? bukankah ruangan meeting ada di sebelah?” tanya Azlan.
“Kamu tunggu di sini aja. Jangan jauh dariku.”
Azlan tersenyum tipis. “Kuturuti kemauanmu.”
“Jangan mengejekku.”
“Aku nggak mengejek,” elak Azlan.
“Itu kamu senyum-senyum begitu.”
“Ooh... Nona terlalu sensitif.”
__ADS_1
Alexa melenggang pergi begitu saja dan memasuki ruangan meeting.
TBC