
Sepanjang perjalanan, masih terjalin obrolan hangat dipadu gurauan ringan yang membuat tawa antara Alexa dan Mekka pecah. Tidak pernah terpikir oleh keduanya kalau mereka akan bisa seakur ini, dan itulah yang terjadi.
Mekka sempat meminta singgah di sebuah rumah makan untuk membeli makanan yang dijadikan sebagai bahan cemilan di sepanjang perjalanan. Alexa terlihat antusias menyantap makanan yang dibeli oleh Mekka. Tangan kanannya sampai harus menyilang demi mengambil makanan yang diletakkan di antara jok, sebab tangan kirinya memegang bundaran stir.
Alunan musik pop menggema, membuat suasana semakin renyah. Disaat sedang fokus berbincang-bincang, Mekka menjawab telepon yang baru saja berdering. Ia pun kini beralih fokus ke ponsel, mengobrol dengan ibunya yang menanyakan kabar, mengutarakan kerinduan dan banyak hal lainnya.
Sepuluh menit berlalu, dan Mekka masih asik mengobrol dengan ibunya. Ia tampak bahagia sekali setiap kali mendengar suara yang setiap malam selalu ia rindukan.
Disaat Mekka sedang curhat dengan sang ibu, mendadak mobil oleng. Bergerak ke kiri dan ke kanan tak menentu. Mekka terkejut hingga ponsel di tangannya pun terlepas. Ia menoleh, menatap Alexa yang menyetir sambil memjamkan mata. Satu tangan Alexa menyentuh kening.
Di depan, tampak sebuah mobil melaju. Sementara mobil yang dinaiki Alexa berbelok ke kanan mengarah pada mobil yang melaju. Dalam hitungan detik, sebentar lagi kedua mobil yang berpapasan itu akan bertabrakan.
Mekka spontan menjerit saat mobil di depan sudah sangat dekat.
__ADS_1
Barrrr!!!!
Mekka mengangkat kepalanya yang baru saja membentur bundaran setiran, darah segar mengalir di pelipisnya. Ia melongok menatap ke arah luar. Mobil menabrak tiang listrik. Entah bagaimana keberaniannya bisa muncul dalam sekejap mata hingga dengan gesit ia menjulurkan kedua tangannya untuk meraih bundaran setiran dan membuat mobil banting stir ke kiri. Proses tabrakan dengan mobil berhasil digagalkan, namun mobil menabrak tiang listrik.
Mekka menatap Alexa yang kepalanya terkulai lemas di sandaran jok dengan mata terpejam.
***
Azlan berlari secepat kilat menyusuri koridor rumah sakit. Langkahnya lebar hingga tanpa sadar ia menabrak beberapa orang yang dilintasi. Beberapa kali pula ia mengucap kata maaf pada korban.
Mekka menoleh ke arah Azlan. Ia kini malah fokus pada wajah mantan suaminya itu. wajah yang amat dia cintai. Dengan pria itu berdiri sangat dekat dnegannya begitu, perasaannya sungguh tidak bisa terbendung lagi. Ya, cinta di hatinya masih sangta hangat.
“Bagaimana kondisi Alexa?” tanya Azlan dengan raut cemas dan nafas yang terdengar snagat keras.
__ADS_1
“Alexa masih ditangani dokter,” jawab Mekka. Perasaannya kacau sekali saat itu. memang benar ia sedang merasa bahagia saat berada di dekat Azlan, namun sisi lain hatinya tersakiti karena Azlan bahkan tidak mempedulikan kondisinya yang saat itu tidak baik-baik saja. Keningnya berdarah. Dia memang sudah membersihkan darah yang mengalir di pelipis dnegan tisu. Namun lukanya masih jelas, dan bercak darah juga mengotori jilbab di area pelipis. Apakah itu tidak terlihat di mata Azlan?
Mekka harus bisa memahami, bahwa Azlan tidak akan mungkin bisa mencemaskan dirinya, karena skearang dia bukanlah siapa-siapa di mata Azlan. Dan saat ini pikiran Azlan juga sedang dalam kondisi tidak stabil karena mencemaskan Alexa, bagaimana mungkin ia akan bisa mencemaskan orang lain disaat pikirannya sedang mengkhawatirkan seseorang?
“Ya Tuhan, apa yang terjadi, Mekka? Bagaimana bisa begini?”
Mekka kemudian menceritakan seluruh kronologi yang terjadi sesuai dengan yang sebenarnya.
“Aku nggak seberapa tahu bagaimana awalnya hingga akhirnya mobil yang kami naiki oleng dan entah sejak kapan Alexa memegangi kepalanya, dia terlihat sangat pusing dan nggak bisa mengendalikan setiran. Kemudian inilah yang terjadi,” ungkap Mekka.
Azlan mengusap wajah kasar. Ia berjalan ke sana kemari sambil sesekali mengucap istighfar. “Ya Tuhan, Alexa sedang hamil muda. Apa yang terjadi dengannya? Semoga dia baik-baik aja.” Azlan memukul-mukul dinding dengan kepalan tangannya.
Melihat Azlan frustasi, Mekka tidak tahu apakah ia harus turut cemas atau harus bersedih. Ditengah perasaannya yang merasa tersisih, dia juga mengkhawatirkan kondisi Alexa.
__ADS_1
TBC