
Azlan mengangkat takbir, shalat tahajud.
Sederet kalimat indah berisi doa dia bisikan di setiap gerakan shalatnya dengan khusu’.
Usai shalat, Azlan menengadahkan tangan dengan mata terpejam. Memohon ampun atas kesalahannya malam ini, yang telah membawa Alexa pulang ke rumah, sehingga banyak dosa yang dia lakukan. Dia juga memohon ampun karena merasakan gelenyar aneh saat bersentuhan dengan Alexa, dan dia meyakini kalau itu adalah nafsu syahwat.
“Ya Allah Ya Rabb, Yang Maha Melihat Lagi Maha Mendengar, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ampunilah dosa hamba-Mu yang kotor dan hina ini, hamba-Mu yang berlumuran dosa ini. Engkau pasti tahu yang terjadi denganku saat tubuh ini memberi respon negatif ketika bersentuhan dengan Alexa. Engkau Maha Tahu dan Engkau mengetahui segala yang tersembunyi dalam hatiku, ampuni aku Ya Allah. Ampuni aku. Jika memang Engkau hadapkan aku pada gadis itu untuk menguji imanku, maka kuatkanlah aku Ya Allah. Bantu aku untuk tetap pada jalan yang benar. Jauhkan aku dari segala perbuatan maksiat yang dapat merusak imanku dan menjauhkanku dari-Mu. Aku takut, Ya Allah. Aku takut pada murka-Mu. Bantulah aku untuk menjadi manusia yang selalu menjaga lisan dan pandangan. Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar. Laa illaha illalah. Walhamdulillahirobbil’alamin.” Azlan mengusap wajah yang tanpa sadar sudah basah oleh permata bening.
***
Setelah matahari menyembul dan Alexa dapat merasakan sentuhan hangat sinarnya yang menembus lewat jendela, Alexa mandi. Dia mengenakan handuk yang tersedia. Setelah itu dia pergi ke kamar Azlan.
Azlan kaget dan spontan mengucap istighfar, sebab yang sekarang berdiri di depan pintu kamar yang baru saja ia buka adalah Alexa yang hanya dililit handuk. Astaga.
__ADS_1
“Aku butuh pakaian. Baju yang tadi malam kotor,” ucap Alexa dengan begitu tenangnya.
Mau tak mau, Azlan segera memberikan pakaian miliknya yang ia ambil dari lemari.
Kini Alexa tampak kedodoran mengenakan kaos lengan panjang milik Azlan, tapi malah kelihatan cantik di mata Azlan karena tubuh gadis itu tertutup. Sementara untuk pakaian bawahannya, gadis itu memilih sendiri celana di lemari milik Azlan. Dia menemukan celana bola yang biasa digunakan sehari-hari di rumah oleh Azlan. Kaos besar yang dikenakan Alexa tampak kedodoran hingga celana bola yang dia pakai hanya kelihatan ujungnya di atas lutut.
Alexa keluar rumah diikuti oleh Azlan. Pria itu memasuki mobil yang sejak tadi malam terparkir di depan rumah, sebab rumah itu tidak memiliki garasi, sehingga Azlan memarkirkannya begitu saja di depan rumah.
Alexa menyusul masuk ke mobil. Ia tidak tahu kenapa dia senyaman itu berada di sisi Azlan.
“Azlan!” panggil Alexa setelah lama keduanya diam membisu.
“Ya, nona?” Pandangan Azlan tertuju ke depan.
__ADS_1
“Apa kamu hidup sendirian? Dimana orang tuamu?”
“Di kampung.”
“Jadi kamu merantau?”
“Sepertinya begitu.”
“Kamu nggak boleh pulang kampong sebelum masa kontrakmu habis.”
“Aku tahu itu.”
“Sebab kalau kamu pergi, aku nggak ada bodyguard.”
__ADS_1
TBC