
Mobil berbelok dan memasuki pekarangan rumah.
Sasha menegakkan punggung saat melihat sebuah rumah berukuran lumayan besar dan kelihatan elit. Meski demikian, adik-adik Azlan menganggap rumah itu sangat mewah di mata mereka, sebab jauh berbeda dari rumah di kampung yang ukuran dan modelnya ketinggalan jaman.
Sasha langsung menyerbu masuk ke rumah, berlarian melihat-lihat isi rumah serta meneliti setiap bagian kamar. Sasha dan Lala berteriak kegirangan melihat setiap ruangan.
Azlan menarik koper, membawanya masuk ke rumah. Rara membantu membawa beberapa tas. Dan Bunda juga mengangkati beberapa barang.
“Bunda, jangan mengangkat apapun. Biar aku aja yang kerjakan!” ucap Azlan melarang bundanya mengeluarkan tenaga untuk proses pemindahan barang dari bagasi.
Setelah Azlan selesai mengangkati barang-barang dan meletakkannya ke kamar, dibantu oleh Rara, Azlan duduk di sisi bundanya, tepat di sisi ranjang.
“Bunda, maafkan aku kalau aku belum bisa menjadi anak yang dibanggakan,” ucap Azlan.
“Jujur saja Bunda kecewa padamu, bunda sangat kecewa. Tapi ya sudah, semua sudah berlalu. Bunda harap kamu perbaiki semuanya. Kamu tunjukkan satu hal saja untuk dapat mengobati rasa kecewa bunda terhadapmu,” sahut Dinda.
“Iya, Bunda. semoga aku bisa menebus kesalahanku dan membuat Bunda kembali mempercayaiku. Sekarang aku pergi dulu. Aku harus ke pengadilan untuk mengurus perceraianku dengan Mekka.”
__ADS_1
“Pergilah.”
Azlan bangkit bangun, ia menatap Rara yang berdiri di ambang pintu. “Ra, jagain Bunda. jagain adik-adik. Kakak pergi dulu. Setelah ini kakak nggak balik ke sini, jadi kamulah yang kakak minta untuk ngejagain bunda dan adik-adik.”
“Iya, Kak,” jawab Rara patuh.
Azlan melangkah keluar sambil merogoh kantong celana. Ia mengetik pesan dan mengirimkannya pada Mekka.
Azlan
Salam,
Kamu tentu membutuhkannya untuk mengurus banyak hal
Itu adalah nafkah dariku.
Ya, baru saja Azlan mentransfer uang sepuluh juta untuk Mekka. Dan ia menganggap uang itu adalah hak Mekka sebagai istrinya.
__ADS_1
Di sisi lain, Mekka melangkah mendekati kedua orang tuanya yang sudah menarik tas menuju pintu. “Maaf, aku nggak bisa mengantar Ayah dan Ibu. Aku harus secepatnya menyelesaikan urusanku di sini.”
Anjas mengangguk, menatap wajah Mekka dengan iba. Berbeda dengan Veti yang menatap putrinya dengan pandangan bangga. Sesama wanita, ia memang turut merasakan bagaimana sedih dan sakitnya perasaan Mekka, namun justru karena ia wanita pula, ia mengaku sangat bangga dan salut pada sikap dan prinsip putrinya. Luar biasa tabah, berjiwa besar dan tegar. Tidak semua wanita bisa sekuat Mekka saat berada di posisi itu. Andaikan saja orang lain yang mengalaminya, apakah akan bisa menerima kenyatan itu? Belum tentu. Ia dinikahi pria yang selama ini memberi janji suci pernikahan, namun faktanya ternyata suaminya sudah memiliki istri. Siapa pun wanita yang berada di posisi itu pasti akan terluka. Namun Mekka kini tetap bisa tersenyum di tengah perasaannya yang gundah gulana. Dia wanita yang luar biasa.
“Kamu baik-baik di sini. Jaga diri, dan jangan lupa untuk tetap bersujud, meminta petunjuk pada semua masalahmu. Berdoalah, kekuatan doa akan bisa mengubah segalanya, percayalah! Doa adalah segala-galanya,” ucap Veti sambil memeluk singkat Mekka.
Mekka mengangguk. Ia mengantar kedua orang tuanya menuju mobil travel yang sudah menunggu di pekarangan. Setelah melakukan aksi peluk cium dan tangis perpisahan yang cukup mengharukan, juga berbagai macam pesan dan petuah bijak yang disampaikan Anjas dan Veti, mereka pun akhirnya pergi.
Mekka mengamati travel hingga menghilang dari pandangan. Ia meraih ponsel di saku saat benda itu bergetar. Ada pesan masuk dari Azlan. Kemudian ia membalas.
Mekka
Terima kasih, Mas
Mekka bergegas melangkah ke jalan, menghentikan taksi yang melintas. Tujuannya kini adalah pengadilan agama.
TBC
__ADS_1
Masih stay gak nih ??? 😊😊
Kok poinnya menipis? Hadeeuh 🤔🤔🤔😭😭