
Sepanjang perjalanan, Alexa tampak diam saja, sesekali ia melihat ponsel untuk mengecek pesan. Tidak ada pesan yang menarik untuk dibuka meski ada banyak pesan masuk minta disentuh. Bahkan notifikasi social medianya membanjir. Ada banyak like, followers, dan komentar yang terus mengalir. Alexa yang biasanya gemar mengotak-atik sosial media pun kini terlihat tak bersemangat. Ya ampun, Alexa baru sadar ternyata begitu besar pengaruh Azlan di hidupnya. Lihatlah, dia tidak lagi bersemangat setelah merasa kesepian tanpa adanya Azlan di sisinya.
Azlan kemana? Dia tidak dalam posisi bertugas, tapi dia menghilang begitu saja.
“Kemana, Non?” tanya supir taksi yang melihat penumpangnya hanya terdiam sejak taksi melaju sekian lamanya.
“Kemana aja, Pak,” jawab Alexa dengan pandangan ke luar jendela.
Supir melajukan taksi tanpa bertanya lagi mengingat penumpangnya terlihat sedih. Mungkin sedang mendapat tamu bulanan.
“Kita sudah hampir satu jam muter-muter, Non,” ucap supir.
__ADS_1
“Terus aja, Pak. Gue bayar, kok.”
Supir tidak lagi bertanya.
***
“Halo, Alexa! Apa kabar? E eeeh… Anak kesayangan Ibu datang.” Sosok wanita paruh baya menoleh ke arah Alexa yang berjalan gontai ke arahnya. Wanita itu setengah terkejut juga tampak sumringah.
Alexa menghambur memeluk wanita paruh baya itu dan dibalas dengan usapan lembut di pucuk kepalanya.
“Masyaa Allah… udah lama sekali kamu nggak ke sini. Ibu pikir kamu udah lupa dengan Ibu. Apa kabarmu, Nak?” Senyum di wajah wanita paruh baya itu seketika memudar begitu ia mendengar suara isak tangis. Alexa menangis. “Lho lhoooo... Ini kenapa kamu menangis?” Wanita paruh baya itu kemudian membimbing Alexa duduk di kursi.
__ADS_1
Alexa membiarkan air matanya deras mengalir. Ia menatap wajah keriput di depannya.
“Jangan membuat Ibu jadi bingung. Ibu tidak pernah melihatmu menangis begini sebelumnya. Ibu mengenalmu sebagai putri yang kuat. Lalu ada apa ini?” Wanita paruh baya itu mengerutkan kening menatap tangisan Alexa.
Alexa membiarkan wanita yang dia panggil Ibu itu bertanya-tanya, sementara dirinya memuaskan tangis. Dia ingin mencari ketenangan dan melepas beban dengan menangis. Alexa mengedarkan pandangan dan tersenyum tipis menatap anak-anak yang tertawa riang main perosotan di kejauahan sana.
Dulu, panti asuhan itu adalah tempatnya bermain saat SMP hingga SMA. Awal ia mengenal panti asuhan adalah saat menemani asisten rumah tangganya mengantar sembako ataupun nasi kotak yang Mamanya berikan sebagai sedekah di bulan ramadhan. Anak-anak panti menyambutnya dengan hangat hingga menumbuhkan rasa nyaman dan merasa memiliki keluarga besar di sana. Lama kelamaan ia tidak lagi diantar oleh asisten rumah tangganya untuk bisa pergi ke panti, ia pergi sendiri dan akan pulang sendiri pula saat selesai bermain.
Siapa yang perduli dengan ketidakhadirannya di rumah? Tidak ada. Karena setelah Mamanya meninggal, ia seperti tidak memiliki tempat di rumahnya. Terlebih papanya sibuk bekerja. Beliau lebih sering menghabiskan waktu bersama Atika ketimbang dengan Alexa yang merupakan anak semata wayang. Bahkan Pak Joan akan langsung pergi ke luar kota ketika istrinya itu minta dijemput untuk liburan dan jalan-jalan ke luar negeri. Dan satu lagi, kehadiran mama barunya justru menambah beban bagi Alexa. Bahkan sekarang, Atika malah seperti monster yang siap menggerogoti kehidupannya melalui papanya.
TBC
__ADS_1