Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Delapan Puluh


__ADS_3

Azlan memasuki sebuah taman tak jauh dari rumah, masih dengan merangkul pundak Alexa. Kakinya terus melangkah hingga sampai ke sebuah kursi sederhana yang terbuat dari kayu. Tempat duduknya berukuran sedang, tidak muat jika untuk duduk berdua, namun juga bersisa banyak jika untuk duduk sendiri. Hah, sepertinya tukang yang membuat kursi tersebut kekurangan bahan. Entah bagaimana Azlan malah memikirkan ukuran kursi yang tanggung.


Azlan duduk di kursi tersebut. Alexa melirik kursi yang hanya bersisa sedikit dan memilih untuk tetap berdiri.


“Kemarilah!” Azlan menunjuk kursi di sisinya.


“Apa bagusnya di sini?” Alexa terlihat malas, bahkan taman seindah itu pun tak membuat situasi batinnya menjadi mood.


Azlan menatap sekeliling. Suasana di sana sangat bagus, pemandangan asri, sejuk, dingin dan segar. Tapi Alexa masih bersikap demikian. Azlan tidak bisa menyalahkan istrinya itu. sebab ia tahu kalu perasaan wanita sangatlah sensitif dan lembut, sedikit saja tergores maka akan berpengaruh besar. Apa lagi masalah yang sekarang dihadapi adalah perkara snsitif, yaitu wanita lain. Azlan akan bersabar menghadapi sikap Alexa. Ia sungguh merindukan sosok Alexa yang panas, genit, dan selalu memulai dalam setiap kemesraan.


“Di sini cukup nyaman untuk menikmati pemandangan. Apa tempat ini nggak bagus menurutmu?” Azlan menarik tangan Alexa hingga wanita itu terhempas duduk di sisinya. Tempat duduk yang sempit membuat keduanya duduk dalam posisi rapat.

__ADS_1


Alexa tidak mau berdebat dengan menjauh dari Azlan meski sesungguhnya ia sedang tidak ingin berdekatan dengan pria itu. ia merasakan lengan berotot melingkar di punggung tepat pada sisi bagian yang tidakk menyandar di sandaran kursi. Ujung tangan Alzan meraih pundaknya. Pria itu duduk dengan posisi agak miring menghadap ke arah Alexa.


“Alexa adalah wanita pertama yang membuatku tahu bagaimana mencintai dengan tulus, Alexa juga wanita yang membuatku mengerti seperti apa pengorbanan yang sesungguhnya.” Azlan berbicara sambil menatap pepohonan di sekelilingnya. Sesekali melirik wajah Alexa yang berada sangat dekat dengan wajahnya. “Bukan hanya omong kososng atau gombalan receh kalau au bilang bahwa Alexa nggak akan tergantikan. Ini kenyataan.”


“Bicaralah! Kalau udah selesai bangunkan aku.” Alexa memejamkan mata.


“Hei, beraninya kamu mencemeehkanku dengan bicara begitu.” Azlan mengecup singkat pipi Alexa. “Ya, aku akan terus bicara sampai kamu bisa menerima keadaan. Aku pun sulit menerima situasi ini. Aku mencintaimu, Alexa. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Ya ampun, au nggak bosan mengatakannya. Dan mungkin kamu udah mulai bosan mendengarnya.”


Azlan menahan nafas sesaat, ia kembali menatap Alexa. “Kenapa harus kamu yang menyebut namanya? Jangan sebut itu disaat kita sedang berdua begini. Mekka sama sekali nggak mengubah apapun dalam perasaanku. Apa kamu nggak percaya itu? dan harus berapa kali aku mengatakannya?”


“Aku masih belum bisa ngerti dengan keadaan ini, Azlan. Aku udah sangat bahagia saat menikah denganmu, tapi kenapa pernikahan kita harus begini? Kenapa harus ada Mekka diantara kita?” kesal Alexa yang masih belum bisa menerima kenyataan.

__ADS_1


“Alexa, plis! Tolong jangan lagi pikirkan Mekka. Semua udah berlalu. Kenapa harus diingat-ingat lagi? Aku hanya mencintaimu.” Azlan tidak bosan mengucapkan kalimat yang sama.


“Tapi mukamu membuatku ingat kepadanya.”


“Kalau begitu, aku tutupi begini aja.” Azlan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


Alexa memalingkan wajah, tak ingin menanggapi gurauan Azlan. “Nggak lucu!”


Azlan terkekeh.


TBC

__ADS_1


__ADS_2