Suami Sensasional

Suami Sensasional
Dua Ratus


__ADS_3

Pandangan Azlan kini tertuju ke perut Alexa. hasil USG menunjukkan kalau bayi di dalam kandungan Alexa kembar, tapi perut Alexa kecil. Seperti tidak sesuai antara isi dua bayi dengan besarnya perut tersebut. Sebulan yang lalu, prediksi berat badan bayi adalah 1 kg dan 1.1 kg. Azlan meletakkan telapak tangannya ke permukaan perut Alexa, mengelusnya sebentar. Kemudian ia membungkuk dan memasukkan kepalanya ke balik baju Alexa, membuat Alexa terkejut dan langsung menunduk menatap kepala Azlan yang menyeruduk masuk ke dalam bajunya.


“Azlan, eh kamu ngapain ngintip disana?” Alexa menegakkan punggungnya.


Lama Alexa melihat Azlan hanya diam. Namun kemudian ia mendengar Azlan bicara.


“Nak, kamu jangan nakal ya! Kamu harus bisa menguatkan mamamu. Papa ingin kamu segera lahir dan melihat dunia, tapi plis jangan bikin mamamu susah. Keluarlah dengan proses yang cepat. Kasihan mamamu.” Azlan mendaratkan bibirnya sangat lama di kulit perut Alexa. kemudian ia menempelkan pipinya ke permukaan perut tersebut, merasakan setiap tonjolan yang dihasilkan oleh sang janin.


“Udah, Azlan! Pegel nih begini terus,” pinta Alexa yang berada di posisi duduk tegak lurus.


Kepala Azlan bukannya keluar dari baju Alexa, pria itu malah bermain dengan tendangan-tendangan kecil yang dihasilkan dari perut Alexa dnegan cara mengusap-usapkan telapak tangannya.


Alexa mundur, membuat kepala Azlan otomatis keluar dari kurungan.


“Nakal!” Alexa menjewer telinga Azlan.


Yang djewer mengikuti arah tangan sehingga daun telinganya tidak seberapa sakit. “Hentikan! Kamu akan mendapat hukuman dari dua calon anakmu jika melakukan ini pada papa mereka.”


“Biarin!”


Azlan tersenyum saat Alexa melepas jewerannya. “Makasih udah mau melepas jewerannya.”


“Aku ngelepasin jeweran karena mau ke WC. Udah nyesek nih.” Alexa menurunkan kedua kakinya ke lantai, lalu melangkah ke kamar mandi. Tak lama berselang, ia keluar sambil berkata, “Aku entah udah berapa kali keluar masuk ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil. Ya ampun. Parah banget sih bentar-bentar asik mau pipis mulu.”


Azlan mengernyit heran. “Jangan-jangan posisi bayinya udah di bawah banget, makanya kamu nyesek buang air kecil terus.”


“Masak sih?” Alexa melambaikan tangan ke sembarang arah. “Prediksi lahiran masih dua mingguan lagi. Kamu laki-laki tapi sok tahu aja sama urusan perempuan.”

__ADS_1


“Bukan lantas aku laki-laki lalu nggak punya ilmu tentang hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Apa kamu merasakan sesuatu yang berbeda?”


Alexa terdiam, berpikir. “Memang pinggangku rasanya sedikit pegel gitu. Mungkin kecapekan karena belanja di mol tadi.”


“Kamu yakin? Apa itu bukan faktor dari tanda-tanda persalinan?” Azlan tampak cemas.


“Pegel doang. Entar juga sembuh kalau udah tidur.” Alexa duduk di sisi ranjang, kemudian merebahkan tubuhnya dalam posisi miring. Alexa tidak mau tidur dalam posisi telentang karena hal itu akan membuatnya tidak nyaman dan kesulitan bernafas.


Azlan merasa kasihan melihat Alexa yang melakukan setiap gerakan dengan susah payah. Saat hendak berbaring pun dia mesti harus membetulkan terlebih dahulu posisi duduknya supaya merasa nyaman saat berbaring.


Azlan duduk saja di sisi Alexa, ia membuka Al Qur’an dan membacanya dengan suara pelan. Sesekali matanya melirik ke wajah istrinya yang terpejam. Dan saat kelopak mata Alexa bergerak-gerak, Azlan pun menghentikan bacaannya dan bertanya, “Lexa, kamu belum tidur?”


Alexa membuka matanya dan menatap Azlan. “Pinggangku makin lama makin ngilu. Sebentar ngilunya datang, sebentar ngilang. Duuuh… Ngiluuuu banget.”


Azlan sontak meletakkan Al Qur’an ke laci dan mendekatkan wajahnya ke wajah Alexa. “Mungkin kamu akan melahirkan. Ayo, kita ke rumah sakit.”


“Alexa, jangan mengambil resiko, ini demi keselamatanmu. Meskipun belum saatnya lahir, kseenggaknya ita bisa lakukan pengecekan.” Azlan meraih tubuh Alexa berusaha membantunya untuk bangkit bangun.


"Huuufth.. Aku jadi nggak sabar pengen segera menggendong anak." Alexa membayangkan dirinya menciumi putra putrinya.


"Mereka pasti akan mirip denganmu."


“Oke, kita ke rumah sakit, ambilin switerku. Badanku rasanya dingin.” Alexa yang masih dalam posisi duduk, menunjuk switer yang tergantung di lemari kaca.


Azlan bergegas menyambar switer yang diminta lalu memasangkannya pada kedua lengan Alexa.


“Kalau ternyata aku belum lahiran, kamu yang tanggung jawab ya!” ucap Alexa sambil berjalan dengan lincahnya keluar kamar.

__ADS_1


“Tunggu!” Azlan melangkah dengan lebar menyusul Alexa, lalu memasangkan jilbab di kepala istrinya. “Ini adalah tugas ke empat untukmu. Masih ada tiga tugas lagi untukmu. Tetaplah memakai jilbab itu. Kamu sangat cantik memakainya.”


Alexa tersenyum. “Aku sampai lupa kalau mulai hari ini aku harus hijrah. Oya, aku ingat satu hal, bukankah kamu akan mengajakku ke suatu tempat jika aku menyelesaikan buku bacaanku kan? Tempat apa itu? kapan kamu mengajakku?”


Azlan tersenyum simpul. “Jannah.”


Alexa mengangkat alis.


“Surga-Nya. Jangan bahas itu dulu, kita harus segera ke rumah sakit sekarang. Ayo!” Azlan menggandeng Alexa.


Yang digandeng menghela nafas. “Aku merasa baik-baik aja, jangan terburu-buru. Aku malu kalau nantinya dokter bilang waktu persalinanku masih lama lagi. Kan zonk.”


Azlan hanya mengulumm senyum saja.


BERSAMBUNG


Sekali lagi, buat yang mau kepoin instagramu, boleh follow akun ig @emmashu90


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2