
Plak!
Tamparan itu terasa sangat keras di pipi Azlan, pria itu sekilas mengusap pipinya yang sedikit pedih dan memerah. Ia menatap Alexa yang duduk di sisinya dengan nanar. Di dalam mobil keduanya duduk bersisian, namun saling berhadapan karena tubuh keduanya berputar Sembilan puluh derajat.
“Pukul aku, Nona. Aku tahu aku salah. Kamu boleh menamparku sepuasnya.” Azlan masih berusaha menguasai diri, menguasai nafsunya yang terus merongrong dan mendesak. Bahkan Alexa tidak tahu jika Azlan saat itu merasa sangat tersiksa berada di dekat Alexa, gadis cantik yang mengundang hasratnya. Dengan segala kekuatan yang ada, Azlan berusaha melawan nafsu bejat dalam dirinya yang menginginkan wanita. Bahkan kalimat istighfar terus terlantun di hatinya.
“Memukulmu aja nggak cukup. Apa kamu tahu apa yang kamu lakukan barusan? Kamu hampir melakukan hubungan s*ks dengan Kikan. Kamu bisa menghamilinya, atau bahkan kejadian buruk lainnya. Apa kamu tahu resikonya? Apa jadinya jika Kikan hamil? Apa jadinya jika keluarganya menuntutmu? Kenapa kamu nggak mikir sebelum berbuat hal itu? Apa yang kamu lakukan itu bener-bener gila.”
__ADS_1
Azlan menahan nafasnya yang terasa memburu. “Apa nona nggak salah bicara?”
“Tindakanmu ceroboh, Azlan. Kamu dengar aku nggak? Kamu ceroboh dan kelewatan.”
Mendengar kata-kata Alexa, kini giliran Azlan yang akan memanfaatkan kalimat Alexa sebagai senjatanya. “Bukankah aku hanya bekerja denganmu, nona?”
“Ya. Lalu apa maksud pertanyaanmu?”
__ADS_1
Alexa terdiam dan bahkan mulutnya membungkam. Ya, Azlan benar. Hubungannya dengan Azlan hanyalah sebatas bos dan bodyguard, lalu kenapa ia bisa sampai ikut campur dan bahkan melarang Azlan berbuat mesum terhadap Kikan? Ya, itu adalah urusan pribadi Azlan. Ya ampun, Alexa baru sadar kalau ternyata dia tidak rela Azlan menyentuh wanita lain. Sejak pertama kali melihat Azlan menyentuh Kikan, Alexa mendadak merasa gusar dan marah, ada rasa kecewa dan tidak rela. Itulah alasannya kenapa dia sebegitu marah atas perbuatan Azlan dengan Kikan. Setahunya, Azlan begitu dingin dan cuek terhadap wanita, bahkan sama sekali tidak tertarik pada diri Alexa, tapi tiba-tiba pria itu terlihat gila saat bersama Kikan. Apakah sehebat itu Kikan di mata Azlan? Apakah Kikan terlihat jauh lebih indah disbanding dirinya? Alexa merasa tersisih. Perasan itu muncul begitu saja. Ia memalingkan wajah.
“Ya, kamu benar. Seharusnya aku nggak seprotektif ini sama kamu. Aku hanya kesal karena kamu berbuat lancang pada wanita di hadapanku, seharusnya kamu melakukannya tanpa sepengetahuan bosmu ini.” Alexa melunak. Meski ia yakin lidahnya telah mengkhianati dirinya.
Alexa kemudian kembali menatap Azlan. “Bukankah kamu juga melakukan hal yang sama? Apa yang hamu harapkan dari melarangku terjun ke club?”
“Aku ingin bukan hanya aku aja yang berbenah diri menjadi orang yang lebih baik, tapi juga orang-orang disekelilingku.” Azlan mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa aneh yang terus mendesak dalam dirinya tak kunjung mereda. Dia bahkan sangat menginginkan Alexa. Azlan mengesah merasakan organ tubuhnya yang berlawanan dengan hati kecilnya. Ia menyetir mobil dengan kelajuan di atas rata-rata.
__ADS_1
Alexa tidak lagi bicara. Sepanjang perjalanan ia hanya diam dan berharap akan cepat sampai rumah. Sampai detik itu, perasaannya masih tidak karuan. Kepalanya terngiang saat bibir Azlan bertautan dengan bibir Kikan.
TBC