
Alexa mengusap air mata yang terus berderai di pipinya. Namun air matanya membandel, tidak pernah kering meski terus dihapus. Ia duduk di teras samping masjid dengan kakai terlipat ke samping, tanpa mempedulikan celananya yang akan menjadi kotor oleh sekelumit debu yang mungkin menempel di lantai. Kedua tangannya dipangkuan. Bunda Dinda duduk di hadapannya.
“Bunda kenapa memberitahukan ke Azlan kalau aku di sini? Aku sedang nggak ingin bertemu dengannya,” ujar Alexa sesenggukan. Ucapannya terputus-putus oleh tangisannya.
“Jangan biarkan suamimu mencemaskanmu. Dia pasti akan mengkhawatirkanmu selama nggak tahu keberadaanmu,” jawab Bunda Dinda lembut.
“Azlan membohongiku, dia menikah dengan wanita lain dan merahasiakannya dariku. Dia menikah saat dalam keadaan lupa denganku, tapi pada saat dia udah mengingat semuanya, dia menutupi hal itu dariku. Dia bahkan masih hidup dan tinggal bersama wanita itu disaat dia udah mengingatku. Bunda, aku nggak bisa memaafkannya.”
Bunda Dinda membiarkan Alexa berbicara banyak hal untuk meluapkan emosi. Setelah ia mendapat jeda untuk bicara, ia pun mulai angkat bicara. “Alexa, Azlan melakukan hal ini bukan tanpa alasan. Tidak ada yang salah dalam hal ini, baik kamu, Azlan atau pun Mekka. Situasilah yang telah membuat keadaan menjadi begini. Artinya Tuhan sedang memberi ujian pada kalian. Kamu harus kuat, Nak.” Dinda mengelus lembut punggung tangan Alexa dengan seulas senyum kalem.
Melihat senyum dan nada lembut Bunda, tangis Alexa sedikit mereda.
“Bunda sangat paham dengan semua yang kamu rasakan, tapi jangan sampai kamu lupa satu hal, bahwa Azlan sesungguhnya sangat menyayangimu. Dia nggak akan menceraikan Mekka jika memang dia lebih berat kepada Mekka.” Bunda Dinda menatap Alexa dengan teduh.
__ADS_1
“Tapi aku belum bisa menerima semua ini, perasaanku sakit. Aku nggak bisa ngebayangin suami yang aku cintai bersama dengan wanita lain.” Bahu Alexa bergetar seiring dengan sesenggukannya.
“Bunda mengerti. Bunda juga wanita, bunda bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi perlu kamu tahu, bahwa dalam kasus ini, bukan hanya kamu saja yang menjadi korban. Mekka pun adalah korban dalam hal ini. Mekka dinikahi oleh seorang pria yang telah menjanjikannya akan menjadi suami seutuhnya. Dan setelah menikah, dia diceraikan begitu saja karena suaminya ternyata mencintai istri lain yang belakangan baru dia ketahui kalau suaminya itu ternyata sudah menikah. Bayangkan jika kamu berada di posisi Mekka!”
Alexa terdiam. Sekilas otaknya membayangkan posisi Mekka seperti yang Bunda ceritakan. Benar, bukan hanya dirinya saja yang tersakiti. Benar, Mekka pun korban. Dan benar, Azlan juga tidak berniat menduakan.
“Bukan maksud Bunda membuatmu untuk memikirkan posisi Mekka, tapi di sini semuanya adalah korban,” lanjut Bunda Dinda. “Kamu masih memiliki setingkat di atas Mekka untuk dapat memaafkan Azlan, kamulah yang dicintai Azlan dan dia pertahankan karena Azlan hanya mencintaimu. Tapi Mekka, dia bahkan nggak mendapatkan apa pun. Dinikahi, lalu diceraikan dan ditinggal. Ini untuk membri gambaran kepadamu, bahwa ada yang jauh lebih menderita atas keadaan ini. Disaat situasi yang menimpa kita sulit, jangan jadikan itu keluhan. Jadikan motivasi ke depannya. Bahwa masih banyak orang-orang yang mengalami kesulitan disbanding kita.”
“Satu-satunya alasan, karena Bunda menyayangimu. Bunda ingin kamu tetap menjadi menantu Bunda, menjadi istri Azlan selamanya,” jawab Bunda.
Alexa langsung menjatuhkan diri ke dada Bunda. memeluk Bunda sambil menangis haru. Ternyata masih ada orang yang mengharapkannya, masih ada orang yang menyayanginya meski belum lama mereka saling mengenal. Sosok bunda Dinda memberi kehangatan di hati Alexa.
Bunda memeluk Alexa dan mengelus punggung wanita itu.
__ADS_1
“Bunda menutupi masalah ini darimu karena bunda nggak ingin kamu menangis seperti sekarang saat mengetahui semuanya, meski pada akhirnya bunda yakin cepat atau lambat hal ini pasti akan terdengar olehmu. Dan ternyata Tuhan nggak memberi waktu yang lama untuk menutupi semua ini darimu,” lanjut Bunda. “Harapan Bunda dan Azlan sama, sama-sama nggak ingin kamu terluka. Sama-sama ingin mengharapkanmu tetap menjadi bagian dari hidup kami.” Bunda menghela nafas mendengar setiap isak tangis wanita yang wajahnya terbenam di dadanya. Entah bagaimana perasaan sayang itu muncul begitu saja untuk wanita yang tengah memeluknya itu.
Alexa tidak bisa bicara apa pun. Ia hanya bisa menangis terharu. Sikap dan kelembutan Bunda membuatnya merasa betah untuk tetap berada di pelukannya.
“Di dalam hidup kami, pernikahan itu adalah hal yang mulia. Bukan main-main. Janji dalam pernikahan adalah janji pada Tuhan. Bagaimana mungkin Bunda ingin anak bunda menikahimu hanya untuk main-main saja, tentu saja untuk kehidupan yang mulia demi tujuan akhirat. Jangan berpikir buruk tentang Azlan, dia suamimu yang sangat mencintaimu.”
Alexa memejamkan matanya. Namun dengan terpejam, air matanya masih terus mengalir. Hatinya benar-benar rapuh. Dan ia menemukan kekuatan di pelukan bunda, meski hatinya masih teriris ketika membayangkan Azlan tidur dengan wanita lain.
BERSAMBUNG
MASIH ADA TULISAN BERSAMBUNG, JADI CERITA INI MASIH UPDATE.
JANGAN FOKUS SAMA COVER YG ADA TULISAN END. CERITA INI MASIH LANJUT
__ADS_1