
Azlan menelepon Idris, meminta supaya bersiap mengantarnya ke rumah sakit karena Alexa mengalami kontraksi ringan. Azlan menyebutkan nama sebuah rumah sakit tempat biasanya Alexa control dengan dokternya.
Sesampainya di luar, Azlan melihat mobil sudah siap menunggu di halaman.
Azlan membukakan pintu mobil untuk Alexa, membantu wanita itu duduk. Setelah memastikan istrinya duduk dnegan nyaman, Azlan memutari mobil dan duduk di sisi Alexa. Mobil pun bergerak meninggalkan rumah.
Azlan menyenderkan lengannya ke sandaran kursi, menarik kepala Alexa dan menyandarkannya ke lengannya.
“Apa posisimu udah nyaman?” tanya Azlan sambil memperhatikan ekspresi Alexa.
“Ya, nyaman banget.” Alexa memejamkan matanya sambil tersenyum.
“Kamu masih bisa tersenyum, di sini malah aku yang cemas menjelang kelahiran buah hati kita.” Perasaan Azlan tak menentu. Ia kemudian mengucap istighfar berusaha menenangkan diri. Sederet doa mengalir dalam hati seiring nafasnya, memohon keselamatan istri dan anaknya kepada Yang Maha Kuasa.
“Kamu jangan terlalu cemas, sayang!” sebut Alexa masih dengan mata terpejam dan bibir menyungging senyum. “Aku kuat, kok.”
“Ya, aku tau kamu kuat, sayang!” Azlan meraih tangan Alexa dan mengcup singkat punggung tangan wanita itu.
“Kalau bayi kita lahir, kamu mau kasih nama anak kita siapa?”
“Menurutmu?”
“Jadi aku nih yang kasih nama?” Alexa membuka mata dan mengangkat wajah, menatap wajah suaminya.
Azlan mengangguk.
“Mm… Gimana kalau yang laki-laki dikasih nama Muhammad Al Ilyas? Dan yang perempuan dikasih nama Yasmin El Lian? Bagus nggak?”
“Bagus. Bagus banget.” Azlan mengecup singkat kenig Alexa.
“Apa kamu nggak punya rekomendasi nama selain itu?”
“Nama yang bagus, diberikan oleh ibunya udah cukup menjadi doa untuk anak, apa lagi yang mesti kuganti? Kecuali namanya semprul, ******, atau nama yang jelek-jelek, tentu aku akan mengubahnya.”
“Kalau anak kita lahir, siapa yang akan mengurusnya? Kita belum persiapan mengenai baby sitter, loh?”
__ADS_1
“Akan kita cari pengasuhnya nanti setelah bayi kita lahir.”
“Kita harus cari yang berpengalaman, aku nggak mau anak kita diurus sama orang yang nggak ngerti cara ngurusin bayi. Anak kita dua loh, tentu kita akan kerepotan mengurusnya jika tanpa pengasuh.”
“Ya, kamu benar. Kita butuh pengasuh,” sahut Azlan.
“Begini indahnya memiliki keluarga kecil, ada kebahagiaan tersendiri saat memiliki pendamping yang menjadi teman hidup, juga saat menanti kelahiran buah hati. Tapi kenapa Jesy nggak mau nikah? Dia bilang takut nikah.”
“Ooh… ada juga yang berpikir begitu? Memangnya kenapa Jesy takut nikah.” Azlan menanggapi.
“Katanya nikah itu kayak momok menakutkan. Dia kebayang suami selingkuh.”
“Ha haaa….” Akhirnya tawa renyah Azlan pun meledak. Sejak tadi dia kelihatan mencemaskan kondisi Alexa, namun penjelasan Alexa justru membuat tawanya pecah.
“Dia juga takut mertua kejam.”
“Lalu?”
“Takut kakak ipar nyinyir.”
“Adik ipar julid. Belum lagi ada pelakor.”
“Sepertinya Jesy terserang demam sinetron yang sering tayang di TV. Bawaannya jadi takut nikah.” Azlan geleng-geleng kepala.
Alexa memegang pinggangnya, kemudian mengelus-elusnya pelan. “Azlan, rasa ngilunya semakin parah. Sebentar datang sebentar pergi. Duuuh… ngilu rasanya pinggangku.” Alexa meringis menahan rasa ngilu.
“Tahan sebentar ya, sayang. Mudah-mudahan ini nggak akan lama. Kamu yang sabar, ya!” Kecemasan di wajah Azlan kembali muncul. Mukanya yang putih mendadak memerah.
“He’em. Nggak apa-apa, kok. Nggak usah secemas itu. aku bisa menahannya.” Alexa tersenyum.
Azlan heran dibuatnya. Alexa mengeluh kalau dia sedang merasakan kontraksi, namun wanita itu masih sanggup tersenyum dan mengatakan kalau dia tidak apa-apa.
Azlan mengusap-usap pinggang Alexa. “Idris, bisa agak cepetan dikit? Kita harus segera sampai di rumah sakit.”
“Jangan suruh Idris terburu-buru, keselamatan kita lebih penting. Aku mungkin udah terbiasa dengan kecepatan mobil yang kencang, tapi bayi di perut ini belum terbiasa,” sergah Alexa.
__ADS_1
Azlan mengulumm senyum tipis mendengar pernyataan Alexa.
“Apa kamu udah kabarin papa soal ini?” Tanya Alexa membuat Azlan mengangkat alis.
“Eh, aku belum kabarin,” jawab Azlan.
“Ya udah, nanti kalau udah sampai rumah sakit, cepet kabarin papa, ya! Sekarang aku yakin kalau persalinanku udah deket. Ini rasanya berbeda, dan aku yakin ini adalah saatnya bayi kita akan lahir.”
“Oh… Tuhan, aku bahagia mendengarnya.”
“Saat bayi kita lahir nanti, apa yang akan kamu lakukan pertama kalinya?” Alexa menatap mata Azlan lekat-lekat.
“Menciumimu sampai sepuasnya.”
“Iih, kamu nakal. Bayinya dong yang duluan diurusin. Kok, amlah mamanya?”
“Kamu yang berjuang untuk ngelahirin anak-anak kita, tentu kamu yang duluan kuurusin.”
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan pertama kalinya pada bayi kita?” Alexa masih penasaran.
“Mengadzankannya.”
Alexa tersenyum dan kembali memejamkan mata. Membayangkan betapa asiknya mengurus bayi kembar. Disaat satu bayi menangis, dan lainnya juga menangis. Kejadian itu akan membuatnya kuwalahan. Ia benar-benar sudah sangat menunggu suara tangisan bayi, lalu menggendong dan menciumi wajahnya. Hal itu tentu akan sangat mengesankan.
Azlan mengernyit saat menatap jalan di luar. Jalan yang ditempuh bukanlah jalan menuju rumah sakit. Kemana mobil melaju?
“Idris, mau dikemanain ini arah mobilnya? Kita mau ke rumah sakit, loh,” ucap Azlan menatap supirnya.
Belum sempat dijawab, ponsel di saku celana Azlan bordering. Azlan meraih dan langsung menempelkan ponsel ke telinga tanpa melihat ID penelepon.
“Ebuset dah ah, elu nyuruh gua nganterin Nona Alexa ke rumah sakit, tapi elu-nya malah pergi. Ini gue udah siap loh di depan rumah.” Suara Idris menyahut di seberang.
Azlan terkejut mendengar suara di seberang. Jika Idris sekarang tengah meneleponnya, lalu siapa yang sekarang menyetir?
BERSAMBUNG
__ADS_1