
“Apa kamu mencintai Azlan?” Kali ini Alexa menatap mata Mekka dengan tatapan intens. Ini bukan kali pertamanya Alexa menanyakan hal yang sama. Pertanyaan itu seperti belum terjawab dan Alexa terdesak untuk mengucapkannya.
Mekka mengalihkan tatapannya ke sungai. Berusaha menghindari pertemuan matanya dengan mata Alexa. “Kamu tenang aja, aku nggak ada rasa sama Mas Azlan. Mungkin pernikahanku dengan Mas Azlan terlalu singkat hingga perasaan itu belum sempet hinggap. Dan mungkin memang kami nggak berjodoh. Dan inilah jalan hidupku.”
“Andai aja kamu merasa berat kalau harus bertemu Azlan terus karena tuntutan kerja, aku hanya ingin memindahkan Azlan dari posisinya supaya nggak ketemu kamu. Mungkin dnegan begini kamu bisa akan cepat move on dari dia. Aku kepikiran kamu soalnya. Aku nggak kebayang gimana perasaanmu saat harus melihat mantan suamimu berada di dekatku.”
“Kamu jangan cemas. Apapun yang kurasakan udah jadi resikoku. Lagi pula aku biasa aja, kok. Seperti yang kubilang tadi, aku belum sempet jatuh cinta. Dan aku menghargaimu, juga pernikahanmu dengan Mas Azlan. So, jangan cemaskan perasaanku.” Mekka memperlhatkan ekspresi tenang. Sempurna, Alexa tidak mendapati kesedihan di wajah itu.
“Kamu yakin?” Alexa mengernyit berusaha meyakinkan diri.
“Yakin,” tegas Mekka dengan anggukan mantap.
“Amazing. Kamu benar-benar wanita luar biasa.”
“Jangan puji aku. Nanti aku bisa menjadi sombong karenanya. Di sini, justru kamulah wanita yang luar biasa, liat deh kamu sanggup menerima kenyataan disaat suamimu ternyata udah menikah lagi dnegan wanita lain. Aku salut pada jiwa besarmi.”
“Awalnya aku justru ingin memperingatkanmu supaya jangan mendekati suamiku, tapi sekarang kondisinya malah kebalik. Andai aja anakku lahir, dia seharusnya memiliki ibu yang kayak kamu.”
Mekka mengangkat alis sambil geleng kepala. “Kamu ngelantur, yah. Jalan hidup ini udah diatur dan kamu masih berandai-andai. Ya ampun.” Mekka tertawa setelah mengucapkan kalimat itu.
Alexa ikut tergelak. “Aku nggak yakin bisa jadi ibu yang baik. Entah kenapa aku bisa hamil secepat ini.”
__ADS_1
“Itu artinya Tuhan mempercayaimu, kamu diyakini bisa mengemban amanah itu. optimis, dong!”
“He heee… Ya kamu benar. Aku harus optimis.”
Dering ponsel yang bersumber dari dalam tas membuat Alexa langsung merogohkan tangan masuk ke dalam tas yang dia letakkan di sisi duduknya dan menyambar ponsel.
“Sebentar, Azlan nelepon,” ucap Alexa yang diangguki oleh Mekka. Tangan kanan Alexa menempelkan ponsel ke telinga dan segera menjawab telepon. “Halo!”
Posisi duduk Mekka yang berada di sebelah kanan Alexa, membuat telinganya mampu menjangkau suara Azlan dari ponsel Alexa. meski suaranya kecil, namun terdengar cukup jelas sampai ke telinganya.
“Alexa, kamu dimana, sayang?” tanya Azlan diseberang.
“Aku sedang jalan-jalan.”
“Cari angin seger. Aku bersama Mekka.”
Suara Azlan langsung menghilang. Seperti ditelan bumi.
“Halo, Azlan!” panggil Alexa mengira sambungan terputus.
“Ya ya. Apa yang kamu lakukan dengannya?”
__ADS_1
“Ngobrol doang.”
“Masih lama?” Azlan sudah seperti wartawan saja, nanya mulu.
“Ah enggak. Bentar lagi juga pulang.”
“Ooh… Oke, kutunggu di rumah. Aku merindukanmu. Rasanya berbeda saat aku pulang tanpamu di rumah. Aku nggak melihat senyuman menyambutku.”
“Ya ya… Aku akan segera pulang.”
“Aku bawain makanan untukmu. Aku yakin kamu suka. Kita makan berdua ya!”
“Iya. Baaay…” Alexa memutus sambungan telepon.
Mekka tergugu di tempat. Suara Azlan benar-benar terjangkau di telinganya. Ia mengira kalau dirinya akan baik-baik saja saat mendengar perbincangan antara Alexa dan Azlan. Tapi dugaannya salah. Hatinya nyeri sekali. Bahkan saatmendengar Azlan emmanggil Alexa dengan sebutan sayang, seperti ada benda tajam menyayat hatinya. Sakit. Selama bersamanya, Azlan bahkan belum pernah menyebut panggilan itu. ya, panggilan itu seperti hanya teruntuk Alexa seorang. Mekka harus sadar jika di hati Azlan benar-benar tidak ada tempat untuknya. Entah sampai kapan ia harus menghadapi situasi itu?
Mekka hanya berharap semoga dia akan cepat melupakan Azlan sehingga perasaan itu juga akan cepat berlalu. Tuhan Maha Baik, segalanya sudah diatur dengan sangat baik. Mekka sedang berusaha menjaga perasaan wanita lain dengan mengesampingkan perasaannya sendiri. Meski harus terluka, dia akan berusaha tegar. Karena berbeda rasanya sakit yang tak berdarah, dengan rasa sakit yang tampak secara fisik.
“Mekka! Ayo, pulang!” seru Alexa yang sudah berjalan agak jauh meninggalkan tepi sungai.
Mekka tergagap dan segera bangkit berdiri sesaat setelah meraih tasnya. Ia sampai tidak sadar sejak tadi Alexa memanggil-manggil dan mengajaknya pulang. Ya ampun, pikirannya benar-benar sedang kalut. Mekka setengah berlari mengejar Alexa.
__ADS_1
***
BERSAMBUNG