
Berbeda dengan Mekka, yang langsung menampilkan ekspresi kaget saat pertama kali melihat wajah Azlan. Setelah bersusah-payah ia mencoba untuk move on, namun wajah Azlan kembali muncul di hadapannya. tak dapat dpungkiri, mendadak mukanya langsung memucat dan gusar. Azlan membuatnya merasa ingin meronta. Dia terluka melihat Azlan bersama dengan Alexa.
“Bapak bisa dijamu oleh suami saya. Dan maaf saya harus segera pulang untuk urusan lain,” ujar Alexa pada Pak Syarif.
“Tidak masalah. Silahkan! Saya sudah cukup ditemani Pak Azlan dan juga sekretaris saya, ini sekretaris baru saya,” jawab pak Syarif menunjuk Mekka di sisinya.
Pandangan Alexa beralih ke arah wanita yang ditunjuk. “Maaf aku nggak bisa berlama-lama. Kamu dan bosmu akan ditemani suamiku,” ujar Alexa kemudian pandangannya beralih ke arah mobil yang baru saja berhenti di depan kantor. Tak lain mobil miliknya.
“Aku pulang dulu!” pemit Alexa pada Azlan yang berdiri di sisinya. Kemudian ia memajukan tubuhnya dan mencium singkat pipi suaminya. “Baay..”
Azlan mengangkat tangannya membalas lambaian tangan Alexa yang kemudian wanita itu masuk ke mobil yang menghampiri.
Pandangan Azlan kembali ke arah Pak Syarif. “Baiklah Pak Syarif, Nona Mekka, mari kita ke restoran. Ada di sebelah sana!” Azlan melangkah menuruni teras.
Pak Syarif dan Mekka mengikuti. “Tunggu dulu, Pak Azlan mengenal Nona Mekka?”
__ADS_1
“Ya, Anda membawa Nona Mekka kemari, tentu saya jadi kenal dengannya,” jawab Azlan ringan. Ia melangkah melintasi pintu restoran, kemudian menarik kursi paling dekat dengan pintu. “Silahkan!” Ia menunjuk kursi di hadapannya.
“Sepertinya ada yang salah. Pak Azlan memanggil Nona Mekka sebelum saya memperkenalkannya.” Pak Syarif menarik kursi di hadapan Azlan dan duduk di sana. Menyusul Mekka duduk di sisinya.
Azlan menahan nafasnya sebentar. Ya ampun, ia sampai keceplosan memanggil Mekka sebelum Pak Syarif memperkenalkannya. Di sana, ia memegang nama baik keluarga Pak Joan, dia tidak ingin membuat isu buruk lagi setelah dulu kasusnya dengan Kikan.
Azlan tersenyum. “Ha haaa… Mungkin nona Mekka bisa jelaskan!” Azlan melirik Mekka.
Mereka bertukar pandang.
Mekka sebenarnya ingin segera pergi jauh dari meja itu. Ia tidak kuat menatap senyuman Azlan, pria itu tampak sempurna di matanya. Kenapa ia harus merasa jatuh cinta pada pria yang tidak berjodoh padanya? Bagaimana caranya ia membunuh rasa itu?
“Ooh… Jadi seperti itu.” Pak Syarif mengangguk sambil tersenyum.
“Ya begitulah,” sahut Azlan ringan. “Baiklah, ini saatnya kita memesan menu makanan.” Azlan menatap pelayan yang datang dan berdiri di sisi meja.
__ADS_1
Azlan menunjuk menu makanan yang dia pilih di kertas menu, demikian juga Pak Syarif dan Mekka.
“Saya menyukai kepemimpinan pak Azlan, mengenai produk yang dipilih untuk disalurkan sangat bagus, juga cara promosi ke konsumen sangat mumpuni. Ini baik sekali untuk kemajuan perusahaan. Hanya saja, saya masih belum yakin jika pimpinan sehandal Bapak bisa memiliki dua wanita sekaligus.” Pak Syarif terkekeh setelah mengucapkan kalimat itu.
Serentak, Azlan dan Mekka terkejut mendengar pernyataan itu. Maksudnya apa?
Azlan melirik Mekka, demikian juga Mekka yang menatap Azlan dengan pandangan bingung.
“Bagaimana dengan Kikan?” Tanya Pak Syarif dengan seulas sneyum hingga membuat matanya menyipit. “Maaf, bukannya saya ingin mengupas masalah rumah tangga Bapak Azlan. Tapi masalah Pak Azlan sudah menyebar dan viral di media masa, semua orang tahu itu.”
Azlan tersenyum tipis. “Iya iya, saya maklumi. Jujur saja saya ini bukan publik vigur, mereka salah jika mempublikasikan rumah tangga saya. Kikan hanyalah sebatas karyawan di kantor, dan soal itu hanya kesalahpahaman.”
“Ooh… Saya saja yang sudah setua ini, setia pada satu wanita. Yaitu istri yang melahirkan tujuh anak-anak saya. Masak Anda yang masih muda begitu sudah bosan dengan satu wanita? Saya rasa itu tidak adil untuk wanita.”
Azlan kembali tersenyum dan mengangguk. Mekka melirik Azlan yang tampak tenang.
__ADS_1
Perbincangan terhenti oleh pelayan yang menyajikan hidangan.
TBC