
Alexa memasuki sebuah kafe dengan langkah terburu-buru. Di jalanan tadi ia terjebak macet hingga membuat perjalanannya memakan waktu yang cukup lama. Sampai saat ia kini berdiri di kafe sambil celingukan mencari-cari keberadaan Mekka, otaknya diserbu berbagai macam pertanyaan yang dia sendiri pun tidak bisa menjawabnya. Semuanya tentang Mekka. Mungkin tindakannya sekarang justru hanya membuat dirinya tersakiti, tapi entah kenapa ia tidak peduli dnegan semua itu. ia lebih memilih mengutamakan kemauannya sendiri untuk beretmu Mekka. Ia sendiri bahkan tidak tahu apa maksudnya ingin menemui Mekka. Tapi inilah yang dia lakukan.
Ada banyak pengunjung di kafe itu. Dan Alexa tidak tahu dimana keberadaan Mekka. Ia menoleh ke kiri dan kanan ketika akhirnya pundaknya ditepuk dari arah belakang. Ia menoleh dan mendapati sosok gadis berkerudung tersenyum ramah. Sekilas otak Alexa mengingat-ingat, apakah wanita itu adalah wanita yang sama dengan sekretaris pak Syarif?
“Aku Mekka.” Wanita itu memperkenalkan diri dengan senyum yang tak putus.
Deg!
Jantung Alexa berdetak kencang mendengar nama itu. seharusnya ia tidak perlu sekaget itu saat melihat Mekka, namun pada kenyataannya respon jantungnya tidak normal.
Alexa melangkah mengiringi Mekka menuju sebuah meja dan mereka duduk di sana. Keduanya berhadapan. Ada tas dan ponsel yang tergeletak di meja tersebut, tentunya barang-barang milik Mekka yang sudah lebih dulu duduk menunggu di sana.
“Aku udah memesan minum, kamu mau minum apa?” tanya Mekka.
Alexa melirik segelas jus yang sudah tinggal sedikit di meja itu. sepertinya Mekka sudah terlalu lama menunggunya hingga minumannya pun sudah hampir habis.
Bola mata Alexa beralih menatap wajah Mekka, gadis berkerudung berwajah sederhana, yang matanya memiliki cirri khas seperti orang India.
Alexa melirik ke sekeliling. “Kurasa kita nggak bisa bicara di sini. Aku udah booking tempat.” Alexa bangkit berdiri dan menuju ke sebuah ruangan lain yang lebih ke dalam dan hanya dibatasi dengan kaca hitam. Ruangan itu jauh lebih sunyi dan jarak meja antara satu dengan yang lain cukup jauh. Suasananya tenang dan keramaian di luar tidak mengganggu sampai ke dalam. Mulai dari hiasan dinding, meja, kursi dan lampu-lampunya terlihat istimewa, wajar jika setiap satu meja dibanderol dengan harga mahal meski sajian yang dipesan tidak terlalu mahal.
Alexa menarik sebuah kursi dan Mekka duduk di hadapannya.
“Ada perlu apa sehingga kamu mengajakku bertemu di sini?” Tanya Mekka.
“Sebelumnya aku tanya padamu, apa kau mengenalku?” Alexa balik Tanya.
“Sebenarnya enggak. Tapi namamu banyak terpajang di media masa. Bahkan di sosial media namamu juga bukan hal asing lagi.”
“Kurasa, orang sepertimu nggak akan searching namaku di sosial media jika nggak mengenalku.” Alexa memulai dengan tatapan intens.
__ADS_1
Mekka jadi gugup mendengar pertanyaan yang rasanya seperti sedang menginterogasinya. “Maksudmu apa?” Tanya Mekka dengan seulas senyum.
Huh, wanita ini! Dia begitu ramah, sopan dan terlihat berpendidikan! Alexa membatin penuh kecemburuan.
Perbincangan terhenti saat pelayan datang dan menanyakan pesanan. Alexa menyebutkan salah satu minuman, Mekka tidak memesan minuman.
Setelah kepergian pelayan, Alexa dan Mekka kembali bertukar pandang.
“Kamu tahu kalau aku adalah Alexa Lian, bukan? Dan kamu tahu kalau aku adalah istri Azlan?” Alexa menegakkan punggungnya dan melipat tangan ke meja.
“Iya, benar,” jawab Mekka.
“Kamu juga pernah menikah dengan Azlan. Itu benar bukan?” Alexa setengah berbisik supaya suaranya tidak terdengar ke sekeliling. Raut wajahnya memerah menahan kecemburuan yang mendidih dalam dada.
Mekka terkejut. Ya Tuhan, jadi Alexa sudah tahu? Dan inikah alasan Alexa mengajaknya bertemu? Dia ingin membicarakan masalah Azlan.
Alexa tidak menjawab, ia hanya membalas tatapan Mekka dengan pandangan nanar.
“Alexa, jika ini adalah alasanmu untuk menemuiku, maka aku akan menjelaskan semuanya. Aku dan Mas Azlan menikah atas perjodohan orang tua. Aku bahkan nggak tahu kalau Mas Azlan udah punya istri saat aku menikah dengannya. Aku juga korban. Aku…”
“Aku udah tahu semuanya,” potong Alexa dengan nada dingin.
“Aku hanya nggak ingin kamu medengar cerita dari sebelah pihak dan mungkin aja cerita yang kamu dengar merugikan sebelah pihak. Aku nggak mau kamu salah menilaiku dan menganggapku sebagai pelakor. Sebab di sini aku juga korban.”
Alexa tidak menjawab. Ia sudah cukup jelas mendengar cerita yang sama dari Azlan, juga dari Bunda Dinda. Kisah itu tidak pernah ditambah-tambahi dan seperti itu adanya, sama seperti yang mekka kemukakan sekarang.
Alexa sebenarnya ingin marah, tapi ia marah pada siap? Mekka jelas tidak bersalah dalam hal ini.
“Apa benar kamu udah bercerai darinya?” tegas Alexa.
__ADS_1
“Hakim udah memberi putusan atas perceraian kami.”
“Apa kamu mencintai Azlan?”
“Apapun yang kurasakan, itu nggak akan mengubah keadaan.”
“Kau jawab aja pertanyaanku!” hardik Alexa kesal.
Mekka tersenyum menatap ekspresi gundah di wajah Alexa. Ia berusaha menenangkan. Entah siapa yang seharusnya ditenangkan di sini. Tapi kenyataan, Mekka mengalah untuk situasi sekarang. “Alexa, Azlan hanya mencintaimu. Dan itu dia katakan terus terang kepadaku. Hubunganku dengan Azlan hanyalah sebatas masa lalu. Kalian memiliki masa depan.
Sungguh Alexa tidak menyangka, awalnya ia berniat ingin melabrak Mekka, meminta supaya Mekka tidak mengganggu suaminya, atau hanya sekedar menelepon Azlan meski untuk urusan pekerjaan, kini niatnya itu lebur seketika. Bagaimana mungkin ia akan merealisasikan niatnya sementara Mekka bersikap sebaik itu padanya. Sosok yang juga menjadi korban dan teraniaya batin, kini justru menguatkan dirinya. Sungguh itu tidak adil untuk Mekka. Tapi Alexa bisa apa? Oke, Alexa akan berdamai dengan situasi ini, bahwa Mekka hanyalah bagian masa lalu hidup Azlan. Ia tidak perlu mencemaskan hal itu.
Raut kesal di wajah Alexa berubah, tatapannya pun menjadi teduh.
“Mekka, kehidupanku sangat rumit dan Azlan adalah satu-satunya penguat hidupku. Maaf kalau aku seegois ini,” ucap Alexa yang akhirnya mengalah pada keadaan.
Mekka mengangguk. “Aku mengerti. Azlan nggak mungkin salah memilih wanita. Percayalah, aku bekerja semata-mata hanyalah untuk mencari rejeki. Sama sekali nggak ada niatku untuk kembali mendekati Mas Azlan meski aku dan dia aka nada kemungkinan untuk sering bertemu dalam urusan pekerjaan.”
Pelayan muncul membawakan pesanan. Alexa meraih gelasnya dan meneguknya.
***
BERSAMBUNG
Cerita ini update nya gantian sama ceritaku SALAH NIKAH, jadi ya mesti sabar.
Jangan lupa follow instagramku @emmashu90
biar kita kenal lebih deket 🤗
__ADS_1