
Tak lama kemudian dokter menyembul keluar. Azlan langsung menghambur menemui dokter. Dokter tersebut memberi penjelasan banyak hal mengenai kondisi Alexa, bahwa Alexa sedang dalam keadaan lemas dan butuh istirahat. Fisiknya lemah karena terjadi perubahan hormon dalam tubuhnya.
Saat Azlan menanyakan kondisi janin dalam kandungan Alexa, dokter mengatakan bahwa janinnya baik-baik saja.
Azlan menghambur memasuki kamar. Tapak Alexa tengah terbaring dengan mata terpejam. Azlan memegang tangan Alexa dan mengusap punggungnya lembut. Kecemasan di wajah Azlan mulai memudar melihat keadaan Alexa yang ternyata tidak seburuk dugaannya. Tangannya terjulur dan mengelus kening Alexa.
“Aku yakin Alexa adalah wanita yang kuat,” ucap Mekka yang sudah berdiri di sisi Azlan.
Azlan menatap Mekka dan mengangguk. “Aku mencemaskan keadaanya. Dia tidak sendiri sekarang. Ada calon anak di dalam kandungannya. Dia nggak hanya menjaga satu nyawa, tapi juga calon anaknya.”
“Kamu percaya kalau Alexa akan sanggup menjaga calon anaknya kan?”
Azlan berpikir sebentar. Kemudian menghela nafas. “Nggak seperti yang kamu duga, Mekka. Alexa bisa aja ceroboh, atau melakukan sesuatu yang membahayakan janinnya tanpa sepengetahuannya.”
“Kalau begitu kamu harus menjaganya dengan baik.”
“Apa yang Alexa lakukan selama bersamamu? Dia nggak makan sembarangan, kan? Dia nggak berlarian atau apalah yang bisa membahayakan janinnya kan?”
“Azlan, kamu tenang aja, selama bersamaku, Alexa nggak melakukan apapun yang membahayakan kondisi janinnya. Kami juga nggak makan apa-apa.”
Azlan mengangguk.
“Mungkin Alexa merasa pusing saat sedang menyetir trus akibatnya begini. Sebaiknya lain kali dia nggak dibiarkan menyetir sendiri,” ucap Mekka.
“Ya. Aku sebenernya juga khawatir jika dia menyetir mobil sendiri.”
Pandangan Azlan kembali fokus ke wajah Alexa. tangannya mengelus kening wanita itu sampai ke rambut.
__ADS_1
Melihat kehangatan sikap Azlan terhadap Alexa, Mekka berangsur melangkah mundur dan keluar kamar.
Gerakan tangan Azlan yang mengusap kening Alexa pun membuat wanita itu terjaga. Matanya terbuka dan menatap Azlan yang setengah membungkukkan tubuh hingga membuat wajah keduanya berjarak cukup dekat.
Alexa menggelengkan kepala sebentar mencoba mengingat-ingat kejadian terakhir. Ia kemudian menatap ke sekeliling, melihat dinding polos, jendela dengan tirai warna putih, Ac, dan infus yang menggantung di atasnya.
“Aku di rumah sakit?” Tanya Alexa dengan lirih.
“Iya, sayang,” jawab Azlan. “Bagaimana kondisimu sekarang? Masih pusing?”
“No no no. aku nggak apa-apa.” Alexa hendak bangun untuk duduk. “Aw!” pekiknya sambil emmegangi kepala saat kepalanya itu terasa pening.
“Hati-hati!” Azlan memegangi tubuh Alexa dan membantunya duduk menyandar. Beginilah Alexa, dia bilang baik-baik saja tapi untuk duduk pun, dia harus dibantu.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa ada di sini?” Tanya Alexa.
“Mm…” Alexa mengingat-ingat. Kemudian ia berkata, “Saat itu aku menyetir mobil, semuanya baik-baik aja. Aku bahkan sempet makan cemilan yang dibeliin Mekka di dalam mobil. Tapi berangsur kepalaku terasa pusing banget.”
“Makan cemilan?” Azlan mengernyit. Seingatnya, Mekka mengatakan kalau Alexa tidak makan apapun.
“Iya.”
“Apa yang kamu makan?”
“Entahlah, apa itu namanya. Tapi enak banget rasanya. Udah deh, kenapa malah ngebahas makanan sih? Fokus dong sama pembahasan kita tentang keadaan sebelum kecelakaan.” Alexa melambaikan tangan ke sembarang arah.
“Aku hanya takut makanan yang kamu makan berpengaruh pada kondisimu. Siapa tahu kondisi tubuhmu sebenernya nggak bisa menerima makanan itu, dan itulah yang emnjadi penyebab utamanya sehingga kamu jadi pusing.”
__ADS_1
“Lupakan itu. aku pusing karena kehamilanku ini. Aku juga sedikit mual. Tapi nggak masalah, aku bisa mengatasinya. Aku sampai nggak sadar kalau monil udah berada dalam posisi hampir bertabrakan saat aku fokus dengan rasa pusing di kepala. Setelah itu aku merasa lemas dan nggak tahu apa yang terjadi.”
“Ya, kamu nggak sadarkan diri.” Azlan duduk di sisi bed, ia menyentuh tangan Alexa dan mengangkat tangan tersebut, menempelkannya ke bibirnya. “Sayang, seharusnya kamu nggak menyetir mobil sendiri. Ini nggak baik untukmu.”
“Ya ya, lain kali aku nggak akan menyetir mobil sendiri. Aku akan menggunakan jasa supir atau mungkin aku bisa pergi bersamamu.”
“Ya, memang harus begitu. Jangan bandel, jangan makan sembarangan, jangan kecapekan, dan ikuti kata-kataku! Kamu ingin anak kita lahir dengan selamat, kan? Kamu ingin menjaganya dengan baik, bukan?”
“Hm.” Alexa tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Maka jangan lakukan apapun yang bisa membahayakan dirimu, juga calon anak kita.” Azlan meletakkan telapak tangannya ke permukaan perut Alexa dan mengusapnya pelan. “Dia masih sangat kecil, dia akan tumbuh besar dan menjadi anak yang baik.”
“Hm.” Alexa mengusap singkat pipi Azlan dengan jempol tangannya.
BERSAMBUNG
Silahkan follow instagramku @emmashu90
Kita bisa kenal lebih dekat.
.
.
.
.
__ADS_1
.