
Azlan menyelesaikan sarapannya dan meneguk air mineral. Ia menoleh saat melihat kursi di sisinya ditarik. Alexa duduk di sana. Wanita itu sudah terlihat rapi dan wangi.
“Apa kabar, sayang?” bisik Azlan sambil mendekatkan kepalanya ke wajah Alexa.
Alexa tidak menjawab. Dia diam saja, kemudian menyantap sarapan.
Azlan menunggui Alexa sarapan hingga selesai. Ia tersenyum kemudian memutar posisi duduk hingga menghadap Alexa.
“Alexa, kamu tahu seberapa besar rasa perduliku sebagai suamimu? Sangat besar. Aku ingin kamu meninggalkan barang haram itu.” Azlan menyentuh tangan Alexa.
Alexa menoleh dan menatap Azlan. “Kamu ingin menyakitiku?”
“Justru aku ingin menyembuhkanmu.”
Alexa hanya diam.
“Hari ini aku ingin membawamu ke panti rehabilitasi.” Azlan mengangkat tangan yang dia pegang kemudian mendaratkan bibirnya ke punggung tangan itu sangat lama. “Plis!”
Azlan tidak mendengar jawaban. Ia mengangkat wajah dan menatap mata Alexa yang berkaca-kaca. Kemudian kepala Alexa mengangguk.
“Syukurlah!” Azlan memeluk Alexa. “Terimakasih, sayang.”
Alexa balas memeluk tubuh kekar itu.
***
Azlan bertukar pandang dengan Alexa saat mereka sudah berada di panti rehabilitasi. Satu jam yang lalu keduanya sampai di sana dan Azlan masih menemani Alexa. mereka akan berpisah di waktu yang cukup lama, sebab Azlan akan bergumul dengan proyek baru di luar kota dalam waktu yang belum tahu berapa lamanya. Sehingga Azlan sengaja menghabiskan waktu bersama Alexa di sana.
Azlan sudah menjelaskan pada Alexa kalau ia akan mengurus proyek ke luar kota atas perintah Pak Joan, dan kantor akan dihandle oleh wakil Azlan, yaitu Yakub selama Alexa masih berada di panti rehabilitasi. Alexa tidak mempermasalahkan hal itu.
Azlan dan Alexa duduk di sebuah kursi bersisian. Seakan-akan keduanya akan berpisah sangat lama hingga keduanya diam dan membayangkan hal-hal yang tak menentu.
__ADS_1
“Aku…” Alexa dan Azlan serentak. Keduanya bertukar pandang lagi.
“Kamu duluan aja, katakan!” ujar Azlan.
“Aku ingin sembuh,” lirih Alexa.
Azlan tersenyum. Hatinya entah kenapa mendadak terasa dingin seperti disiram air es. Sejuk sekali.
“Kamu pasti bisa,” jawab Azlan. “Yakinlah!”
“Apa yang akan kamu lakukan saat nggak ada aku, saat aku nggak di sampingmu? Apa kamu akan menggodai wanita lain?”
Azlan mengulas senyum tipis. “Nggak ada wanita yang menarik selain kamu.”
“Jangan gombal, gombalanmu receh.”
“Kamu mau nggak janji sama aku?”
“Jangan ada wanita lain.”
“Sebegitu nggak percayanya kamu sama aku?” Azlan menautkan alis.
“Belajar dari pengalaman, pria yang udah menikah dan jauh dari istri akan merindukan hasrat untuk bercinta sehingga menyalurkannya pada yang lain.”
“Aku nggak seburuk itu.”
“Janji?”
“Janji.”
“Jangan celup sana celup sini.”
__ADS_1
Lagi-lagi Azlan tersenyum tipis. “Kamu pasti mengenaliku.”
“Ya, kamu pria yang dingin terhadap wanita, tapi panas saat di ranjang.”
“Ha haaa…” Tawa Azlan meledak. “Aku akan sering menghubungimu.”
“Ah, bohong! Lokasi proyek akan jauh dari jangkauan listrik, tentu jaringan ponsel pun akan sulit. Mana mungkin kamu akan sering menghubungiku.”
“Aku belum tahu kondisi lokasi proyek, mana mungkin aku paham dengan keadaannya yang jauh dari jangkauan listrik.”
Sunyi.
Keduanya diam.
“Azlan, pergilah! Kamu harus menjalankan tugasmu! Sampai kapan kamu di sini terus?”
Azlan bangkit berdiri. Ia meletakkan lututnya di lantai, kemudian menghadap Alexa hingga pandangan mereka sejajar. Ia memegang tangan Alexa dan menatap wajah wanita berparas cantik itu.
“Aku pasti akan sangat merindukanmu,” ucap Azlan.
Alexa menyentil ujung hidung Azlan yang mancung. Azlan bangkit berdiri.
“Aku pergi, jaga diri baik-baik di sini. Aku nggak akan mungkin bisa menjengukmu.” Azlan mencium punggung tangan Alexa.
“Ya.” Alexa mengangguk, ia ingat bagaimana Azlan mendoakan dirinya dalam shalat. Ia ingat bagaimana Azlan memeluknya dan mengharap perubahan dalam dirinya.
Azlan balik badan kemudian melenggang.
TBC
SILAHKAN DUKUNG CERITA INI DENGAN KLIK VOTE DAN SUMBANGIN POIN 😘😘
__ADS_1