Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Empat Puluh Lima


__ADS_3

Seampainya di rumah, Azlan menghentikan mobil tepat di pekarangan depan teras. Alexa menarik pergelangan tangan Azlan saat pria itu membuka pintu hendak turun. Azlan menoleh, menatap wajah Alexa yang keningnya kini terlipat.


“Kenapa?” tanya Azlan dengan lembut.


“Apa bundamu akan menerimaku?”


Azlan kembali menutup pintu, ia memutar pinggang dan menghadap Alexa. “Bunda adalah orang yang baik. Beliau pasti akan sangat menghargaimu sebagai menantunya.”


“Itu menurutmu, bukankah kita menikah tanpa kehadirannya? Bahkan kamu nggak sempet mengabarinya waktu itu. Sampai sekarang papa juga belum ketemu bundamu.”


“Alexa plis, jangan memikirkan apapun tentang hal ini. Temuilah bunda dan tunjukkan hal yang baik padanya, percayalah bunda nggak akan mungkin membuatmu merasa kecewa. Aku percaya bunda memiliki nurani yang baik, dia pasti nggak akan menyakitimu.”


Alexa menatap Azlan ragu-ragu.


“Common baby, percayalah padaku!” Azlan berusaha meyakinkan. Meski Azlan sendiri tidak tahu apa tanggapan bundanya terhadap Alexa nanti, namun ia tetap berusaha meyakinkan Alexa kalau semua akan baik-baik saja. Mengingat kini Alexa telah menjadi menantu bunda Dinda, maka apapun tanggapan bunda Dinda, Alexa tetap harus menemui mertuanya. “Jangan cemas, aku ada di sisimu. Aku suamimu, aku yang akan bertanggung jawab atas dirimu.”


Kini ekspresi wajah Alexa berubah tenang, ketegangannya memudar. Kata-kata Azlan mampu melunakkan keteganggannya. Azlan memang super. Alexa turun dari mobil mengikuti Azlan menuju ke rumah.


Azlan mengucap salam sesaat setelah memasuki pintu rumah. Sepi. Tidak ada orang. Ruangan depan kosong.


Azlan menoleh ke arah Alexa dan dibalas dengan kedikan bahu oleh wanita itu. Azlan melenggang memasuki ruangan lain diikuti oleh Alexa, ia mendapati bundanya tengah mengelap televisi di ruang keluarga. Bunda membungkukkan tubuhnya untuk menjangkau badan televisi bagian belakang.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum, Bunda.” Azlan mendekati bundanya.


“Wa’alaikumsalam.” Dinda mengangkat tubuhnya dan menoleh. Ia tersenyum mendapati sulungnya yang sudah berdiri di sisinya.


“Loh, kok Bunda ngerjain ini sendirian? Kemana adik-adik?” Tanya Azlan.


“Adik-adikmu ada di belakang, mereka main di taman belakang rumah. Biarkan saja mereka menikmati rumah baru ini.”


“Tapi Bunda jangan sampai kecapekan, ya. Kerjaan rumah biar adik-adik aja yang kerjakan. Mereka kan belum masuk sekolah karena administrasi kepindahan masih diurus. Kalau ada apa-apa bilang ke aku.”


“Iya iya, Bunda tahu.”


Dinda menatap Alexa. Ia terdiam dan bahkan tidak muncul sepatah kata pun dari mulutnya. Ekspresinya berubah, seperti kurang bersahabat, atau sedang menilai-nilai, atau… entahlah. Yang jelas ekspresi wajahnya tidak lagi secerah tadi.


“Alexa, salam dengan bunda,” ucap Azlan sembari menoleh ek arah Alexa.


Alexa bergegas maju dan menjulurkan tangannya menyalami tangan Dinda. “Bunda, apa kabar?”


Dinda menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum. “Baik, Nak. Ayo, duduklah!” Ia menunjuk sofa.


Alexa mengangguk kemudian duduk di sofa.

__ADS_1


“Biar Bunda bikinin minum dulu. Kamu biasa minum apa, Nak?” Tanya Dinda pada Alexa.


“Jangan dibikinin minum, Bun. Aku akan bikin sendiri kalau haus,” tutur Alexa.


“Kamu yakin?”


“Iya.” Alexa tidak tahu harus bicara apa. Ia hanya menjawab seperlunya. Ia sadar kalau lidahnya itu pedas, ia takut akan menyinggung bunda dinda jika bicara banyak hal.


“Kalau begitu biar Bunda bikinin minum untuk Azlan.”


“Nggak usah, Bun. Kami ke sini bukan untuk ngerepotin Bunda. kami ke sini untuk menjenguk dan melihat kondisi Bunda,” ujar Azlan. “O ya Bun, maaf kalau pernikahan kami berlangsung sangat mendadak dan tanpa sepengetahuan Bunda. Aku juga udah pernah bicarakan hal ini kepada Bunda, tapi percayalah kalau kami akan mengemban amanah sebagai suami istri.


“Jangan lagi membahas apa yang telah tejadi, semuanya sudah terjadi dan nggak perlu untuk dipermasalahkan. Sekarang kamu hanya perlu memikirkan masa depanmu bersama Alexa. kalian memiliki masa depan yang masih panjang, jadikan keluarga kalian keluarga yang sakinah, mawardah dan warahmah. Ingat, pernikahan adalah ikatan antara dua manusia yang berebda, membangun tujuan dari dua kepribadian yang berebda, jadi jangan sampai terpecah,” jawab Dinda bijak.


Alexa tersenyum, merasa lega. Ternyata ia benar-benar mendapatkan kasih sayang yang dia harapkan dari bundanya Azlan.


“Bunda, aku seneng banget bisa ketemu Bunda. maafin aku karena baru sekarang bisa jumpain Bunda,” sahut Alexa penuh semangat.


Dinda tersenyum.


TBC

__ADS_1


__ADS_2