Suami Sensasional

Suami Sensasional
Lima Puluh Enam


__ADS_3

Kelopak mata Alexa terbuka sempurna. Bola mata biru berputar dan tangan berjari lentik mengucek mata berkali-kali. Gadis itu bangkit bangun sambil memegangi pelipis, kepalanya agak pusing. Dia menyingkap selimut yang menutup separuh tubuhnya, menyingkirkan jas yang menutup bahunya dan berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh sempoyongan. Pandangannya goyang, rumah seperti miring-miring.


Gadis cantik itu keluar kamar mandi usai mencuci muka. Sesaat dia tampak bingung menatap seisi kamar. Kemudian ia berdiri di depan cermin, menatap wajahnya sendiri.


“Alexa!” Gadis itu menyentuh cermin dengan mata berair. Kemudian dia duduk di sisi ranjang, menatap sebuah jas yang tergeletak di kasur. Dia meraih jas tersebut dan mencium aromanya. Wangi. Pemilik jas itu memiliki aroma yang sama seperti dirinya, diantara merek dan aroma berbagai jenis parfum, mereka menggunakan merek dan aroma parfum yang sama.


Dahinya berkerut mengingat-ngingat kejadian sebelumnya. Dia ingat, dia pergi ke nigh club dan sempat dijahili oleh Leo. Kemudian ia melarikan diri dari Leo namun tertangkap dan dibawa ke rumah pria itu. Lalu dia terjatuh ke kolam saat dalam pelariannya dikejar oleh Leo. Dan ia sempat merasa seperti hampir mati saat mulut dan hidungnya dimasuki air. Detik berikutnya, dari dalam air, ia melihat Azlan datang. Setelah itu, dia lupa apa yang terjadi. Dan sekarang dia sudah berada di kamar asing yang remang-remang mengenakan pakaian kedodoran, hanya diterangi lampu nakas.

__ADS_1


Dimana dia berada? Kamar itu terlihat asing. Kepalanya masih sedikit pusing. Ia meraih ponsel dari dalam tas di atas nakas. Jari-jari lentiknya menggeser-geser layar ponsel, menggulir aplikasi instagram. Dia berusaha menghibur diri dengan membuka-buka video yang tampil di berandanya. Sayangnya justru video mengerikan yang terlihat olehnya. Sosok menyeramkan tiba-tiba muncul begitu saja di sebuah video yang diunggah seseorang bersamaan dengan matinya lampu nakas.


Gelap.


“Aaaaa….” Alexa berteriak, ketakutan. Ia seperti berada di kuburan. Satu kejadian buruk silam di malam gelap, membuatnya merasa takut dan trauma dengan gelap. Jika saja masih ada seseorang di sisinya, dia tidak akan setakut itu. Tapi sekarang dia sendirian, tidak ada yang bisa diajak bicara. Dia berlari menghambur menuju pintu. Meski di kamar tidak lagi ada penerangan, namun ia masih bisa melihat bayang-bayang benda-benda di depannya melalui sorot sinar penerangan dari luar yang masuk melalui celah pintu.


Alexa menerobos keluar kamar. Dia berhenti dan pandangannya mengedar ke seluruh ruangan luar kamar. Terdampar di mana dia? Rumah itu terasa amat asing. Kemudian pandangannya kembali tertuju ke dalam kamar. Kulit halus Alexa meremang mengamati isi kamar yang remang-remang. Andai saja ia menutup pintu, maka sempurnalah kegelapan di kamar.

__ADS_1


Dia berjalan menuju ke ruangan lain dan mencari manusia yang siapa tahu ada di sana.


“Hello… Ada orang di rumah ini?” teriak Alexa dengan pandangan mengitari ke seluruh ruangan.


Trang…


Sebuah gelas melamin di atas meja terjatuh akibat tersenggol lengannya. Dia tak perduli, terus berjalan menuju ruangan yang dia sendiri tidak tahu ruangan apa itu.

__ADS_1


“Aw! Shit!” Dia mengibas-ngibaskan tangannya yang baru saja terjepit engsel pintu.


TBC


__ADS_2