
Langkah Mekka dan Yakub gegap gempita memenuhi koridor rumah sakit yang telah sepi. Yakub mengikuti Mekka menuju kamar Azlan yang disebutkan oleh resepsionis yang ia temui di depan tadi. Ia sebenarnya tidak sedang mengikuti Mekka, namun entah kenapa Mekka bisa berada di depannya dengan tujuan yang sama. Bukankah seharusnya Mekka menuju kamar Alexa karena saat ini mereka sedang bagi tugas? Tapi kelihatannya tidak, Mekka kini melangkah ke arah tujuan yang sama.
Apakah Mekka salah arah? Atau informasi di telinganya tertukar? Seharusnya ia menuju kamar bersalin, ini malah menuju ke ruang IGD. Ataukah niat Mekka memang mau mengunjungi Alzan? Tapi bukan begitu rencana awalnya. Azlan adalah tugas Yakub, dan Alexa adalah tugas Mekka.
Mekka berhenti ketika berpapasan dengan suster yang baru saja keluar dari sebuah kamar.
“Sus, apa pasien bernama Alexa ada di sini? Dia mau melahirkan,” Tanya Mekka dengan raut cemas.
“Maaf, Nona! Di sini bukan untuk penanganan ibu bersalin, kalau Nona mau menuju ke ruang persalinan, silahkan ke lantai 2, ada satpam di sana, boleh bertanya kepada satpam yang bertugas letak persisnya,” jawab Suster tersebut.
“Ya ampun, aku salah arah. Seharusnya aku nggak ke sini,” sesal Mekka.
Nah, benar dugaan Yakub. Informasi yang diterima oleh Mekka tertukar. Tapi ia memaklumi, sebab situasi pikiran Mekka sedang benar-benar keruh di saat seperti sekarang ini.
“Lalu, kamar Azlan dimana?” serobot Yakub menanyakan keberadaan Azlan. Ia bingung melihat begitu banyaknya pintu di sekitar sana.
__ADS_1
“Ini kamar Tuan Azlan!” Suster menunjuk pintu kamar yang baru saja dia masuki.
“Bagaimana kondisinya, Sus?” tanya Yakub sangat khawatir.
Sebelum sempat suster menjawab, dokter keluar dari. Sejurus pandangan tertuju ke arah dokter berseragam putih.
“Dokter yang akan menjelaskan! Permisi!” ujar suster kemudian berlalu pergi.
“Dok, kami keluarga Azlan. Bagaimana kondisi Azlan?” serang Yakub tanpa aba-aba.
Mekka terdiam seribu bahasa mendengar pertanyaan itu. Bukan istri, tapi mantan istri. Mekka ingin sekali menganggukkan kepala, mengakui kalau dia adalah istrinya Azlan, sebab pengakuan itu seperti piala baginya, yang bila dikatakan terasa menyenangkan, bila didengar terasa menyejukkan.
“Nyonya Mekka, mohon Nyonya bersabar. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain. Nyawanya tidak bisa diselamatkan,” jelas dokter setelah melihat anggukan kepala Mekka yang anggukannya tanpa disadari oleh tuannya.
Ya Allah….
__ADS_1
Penjelasan dokter seperti sambaran petir yang sangat mengejutkan. Detakan jantung mekka langsung lemah, tubuhnya pun lemas. Bukankah Azlan bukan lagi siapa-siapan dalam hidupnya? Lalu kenapa begini respon Mekka saat mendengar kabar buruk tentang Azlan? Sedih sekali. Dia merasa sangat kehilangan.
Meski demikian, Mekka juga memikirkan nasib Alexa. Bagaimana hancurnya perasaan Alexa saat mendengar kabar itu? di saat ia seharusnya merasa bahagia atas kelahiran buah hatinya, ia juga harus menangis karena kehilangan sosok lainnya.
Langkah Mekka terseret menuju ke kamar, mendekati bed. Tubuhnya semakin lemas melihat tubuh yang terbujur di atas bed dengan selimut menutup sampai ke kepala. Inikah jalan akhir Azlan? Dia harus meninggalkan Alexa dan juga Mekka, tanpa satu pun wanita yang bisa memilikinya.
Mekka menangis sesenggukan di sisi bed. Hatinya sedih sekali. Entah kenapa ia merasa sesesih itu saat harus berpisah dengan Azlan? Sosok Azlan adalah sosok yang sangat dia cintai, tak tergantikan. Sampai detik ini perasaan Mekka tidak berubah, dan bahkan rasa kehilangan itu amat terasa dan menyayat hati.
TBC
.
.
.
__ADS_1