Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

Azlan berpikir, apa yang akan dibicarakan oleh Mekka. Namun ia tidak mendapati jawaban pertanyaan di benaknya itu hingga ia berdiri di pintu kamar tempat dimana adik-adik dan bundanya tertidur. Tangannya memegangi handle pintu, ia menatapadik-adiknya yang berguling tidur di satu ranjang. Mereka kelihatan akur sekali. Sedangkan Bunda tidur di bagian tepi.


Azlan masuk dan mendekati ranjang. Ia mengusap kening si bungsu dengan seulas senyum. Dinda yang belum terpejam pun menatap tingkah sulungnya hingga sulungnya itu melenggang dan keluar kamar.


Azlan melangkah menuju kamar Mekka. Ia melihat Mekka duduk di sisi ranjang menunggunya. Azlan menutup pintu dan duduk di sisi Mekka.


“Ada apa, Mekka? Apakah masih ada lagi yang perlu dibicarakan?” tanya Azlan dengan lembut. Ia tidak ingin menyakiti Mekka lagi meski hanya dengan satu kalimat.


“Apa hanya aku yang merasa sangat bersedih di sini?”


“Aku juga bersedih karena harus melukaimu. Dan aku juga merasa bersalah. Aku berdosa.”


“Apakah kamu ingin menebus rasa bersalahmu itu?” Mekka menoleh ke arah Azlan.

__ADS_1


Azlan mengangkat alis tak mengerti. Apa maksud perkataan Mekka?


“Tentu. Aku ingin menebusnya. Apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku padamu?”


Mekka terlihat menarik nafas dalam-dalam. “Setelah ini kita nggak akan bersama lagi, Mas. Kita nggak akan seatap lagi. Aku merasa sangat terluka setiap kali membayangkanmu tidur bersama wanita lain. Dan aku memilih mundur.”


“Maafkan aku, Mekka. Dan jika kamu bersedia mendengarku meminta maaf ribuan kali, mungkin itu akan aku lakukan. Aku nggak tahu bagaimana caranya menebus dosaku ini padamu. Satu hal yang perlu kamu tahu, aku masih harus bersama Alexa karena kami udah menjalin hubungan selayaknya suami istri. Sedangkan kamu masih menjadi wanita terhormat yang tetap akan bisa memberikan mahkota wanitamu pada suamimu berikutnya. Kamu sempurna sebagai wanita.”


“Aku nggak perduli soal itu, Mas. Aku belum menyebutkan apa yang harus kamu lakukan untuk menebus kesalahanmu bukan? Aku hanya memikirkan bahwa malam ini adalah malam terakhir kita menjadi suami istri sebelum kamu menceraikanku. Aku ingin kamu memberikan hakku sebagai istri.”


“Nafkahi aku. Nafkah batin,” ucap Mekka dengan pandangan ke depan, tanpa menatap Azlan.


“Mekka, aku memilih untuk meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini agar kamu bisa memberikan mahkotamu pada suamimu kelak, kenapa kamu menuntut itu padaku?”

__ADS_1


“Karena aku mencintaimu, Mas. Aku nggak perduli dengan kejadian kelak, aku hanya ingin merasakan kebahagiaan bersama orang yang aku cintai.”


Azlan menghela nafas. Hatinya entah kenapa begitu dingin terhadap Mekka. Bahkan ia kini hanya terdiam setelah mendengar permintaan wanita cantik itu.


“Aku nggak pantas melakukan itu padamu, Mekka. Kamu terlalu berharga untuk disentuh.” Azlan menatap mata Mekka.


Kini keduanya bersitatap. “Tapi bukankah kamu belum pernah menunaikan kewajibanmu itu? Aku nggak perlu merasa malu untuk mengatakan hal ini, ini halal untukku.”


“Kehormatanmu yang begitu berhargalah membuatku ingin melihatmu pergi jauh dari kehidupanku, aku juga nggak pantas dan nggak sanggup membahagiakanmu. Dan aku hanya akan memupuk dosa dengan selalu menjauhimu.”


Ampuni aku, Ya Tuhan. Azlan memohon dalam hati. Dia sedang bersama wanita yang telah halal, namun justru merasa tidak kuasa untuk melakukan hal yang halal.


“Aku kedengaran seperti orang bodoh dengan memberimu permintaan konyol ini. seharusnya aku nggak mengatakn ini padamu.” Mekka bangkit berdiri dan melenggang menuju pintu. Ia terus melenggang meski mendengar suara Azlan berseru memanggil namanya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2