
Usai memohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa, dan mengadu segala keluh kesah yang dia alami, Azlan mengucap Amin. Ia mengganti pakaian shalat dengan kaos dan celana panjang, lalu ia berjalan menuju kamar sebelah, tak lain kamar Alexa.
Lidahnya hampir saja memanggil nama ‘nona Alexa’, tapi mereka sudah emnikah, tentu saja panggilan itu tidak cocok lagi dia lontarkan. Meski demikian, Azlan masih merasa canggung untuk emmanggil Alexa tanpa kata nona, sebab dari awal panggilan nona sudah melekat di lidahnya.
Dari pada bingung, Azlan lebih memilih zona aman dengan mengetuk pintu saja, tanpa memanggil Alexa.
Sunyi.
Tak ada jawaban dari dalam kamar.
Mungkin Alexa sedang tidur.
Azlan menekan handle pintu dan membukanya. Ia melihat Alexa sudah tertidur di ranjangnya dengan posisi miring menghadapnya. Selimut menutup tubuh wanita itu sampai ke leher. Lampu utama sudah dimatikan dan ruangan hanya diterangi dengan lampu nakas yang membuat pandangan menjadi remang-remang.
Azlan mendekati ranjang, kemudian duduk di sisinya. Ditatapnya wajah Alexa yang tertidur dengan pulas. Azlan tersenyum menatap bibir merah sensual, hidung mungil kecil, serta pipi putih bercahaya. Ia benar-benar menikmati kecantikan Alexa yang bila dipandangi ternyata sungguh sangat indah dan menawan hati. Kecantikan wanita itu benar-benar anugerah yang tiada duanya.
Sekarang, apa yang harus Azlan lakukan? Ia pun bingung. Perasaan enggan menyelimutinya. Enggan menyentuh Alexa, enggan memulai hubungan yang sering dikatakan malam pertama. Mungkin ini belum saatnya. Azlan lebih baik menundanya, mengingat Alexa tengah tertidur pulas dan ia tidak mau mengganggu istirahat wanita itu. Alexa mungkin kelelahan.
Lalu sekarang Azlan harus kemana? Apakah ia harus kembali ke kamarnya? Ia takut Alexa belum sepenuhnya menerimanya jika ia tidur di sisi Alexa mengingat pernikahan mereka terjadi atas titah Pak Joan.
Azlan akhirnya bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu.
“Azlan!”
Suara panggilan itu membuat Azlan menoleh. Tangannya yang sudah memegang handle pintu pun terhenti.
__ADS_1
“Ya?” Azlan menatap Alexa yang matanya sudah terbuka. Wanita itu kini dalam posisi duduk hingga tampaklah tubuh indah Alexa yang hanya mengenakan pakaian tidur bertali satu di pundak dan transparan. Entah bajunya yang kebesaran atau bagaimana hingga baju bagian dada melorot ke bawah dan memperlihatkan pemandangan yang membuat Azlan merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya.
“Kenapa pergi?” Tanya Alexa. wanita itu tetap terlihat cantik dan rambutnya juga masih rapi seperti semula meski ia baru saja bangun adri tidur.
Azlan kembali mendekati ranjang. “Aku takut mengganggu waktu istirahatmu.” Ia duduk di sisi ranjang.
“Aku istrimu sekarang. Kamu boleh menikmatiku kapan pun kamu mau.”
Kalimat itu membuat organ tubuh Azlan merasakan hal-hal aneh.
“Apa kamu nggak keberatan? Aku dulu pegawai papamu, dan kini menjadi suamimu,” tanya Azlan ingin mencari tahu apa yang dirasakan istrinya.
“Jangan bahas hal yang lain-lain. Kamu adalah suamiku, apapun yang menjadi hak seorang suami, kamu bisa dapatkan dariku.”
“Kamu nggak terpaksa kan nikah sama aku?” Tanya Alexa.
“Terpaksa? Kenapa harus terpaksa?”
“Kamu menikahiku karena perintah papa, bukan niat hatimu, juga bukan karena cinta.”
“Aku sama sekali nggak terpaksa.”
Alexa bangkit dalam posisi berlutut hingga Azlan dapat melihat pakaian wanita itu yang bawahnya hanya sejengkal dari pinggang. Gelenyar alam tubuh Azlan kian menjadi-jadi.
Alexa maju dan langsung duduk di pangkuan Azlan dengan posisi kaki kiri di sebelah kanan pinggang Azlan, dan kaki kanan di sebelah kiri pinggang Azlan, permukaan tubuhnya menempel di permukaan tubuh pria itu. Ia merasakan sentuhan itu tepat pada sisi sensitifnya. Ia mengalungkan kedua lengan tangannya di leher Azlan. Azlan membalas dengan meeluk wanita itu.
__ADS_1
Bismillah… Bisik Azlan dalam hati saat ia memulai dnegan mencium bibir Alexa.
Oh…
Alhamdulillah… beginilah nikmat dan indahnya menyentuh wanita yang telah halal baginya.
Alexa memelorotkan pakaiannya sendiri dan dengan penuh gairah membuka pakaian Azlan.
Azlan membaringkan tubuh Alexa ke kasur. Ia memulai dengan menciumi kulit Alexa tanpa melewatkannya walau satu inchi. Namun kemudian Azlan terdiam, ragu-ragu menatap Alexa yang terbasuh keringat.
“Lakukan, Azlan!”
Perintah itu membuat Azlan melanjutkan aksinya dan keragu-raguannya pun sirnah. Semangatnya terpacu, hasratnya naik, dan begitu indah saat mereka memadu kasih dengan kegiatan yang telah halal.
***
TBC
Aku udah update banyak, poin mana poin?
😭😭😭😭
Kok poinnya hemat yaaak...
Sumbangin poin bagi yg kaya 🥰🥰🥰😘
__ADS_1