
Alexa melakukan shalat dengan gerakan cepat. Bacaannya juga kilat. Tidak sampai lima menit, empat rakaat telah selesai dia kerjakan. Alexa melepas, melipat serta mengembalikan mukena dan sajadah ke lemari di sudut ruangan masjid. Tidak ada wanita yang melaksanakan shalat di shaf bagian perempuan. Waktu shalat Isya sudah berlalu satu jam, wajar saja tidak ada jamaah di sana.
Alexa melongok melihat ke shaf laki-laki yang dibatasi korden putih. Azlan masih berada di posisi duduk tahiyat awal, artinya baru dua rakaat yang dia kerjakan. Ya ampun, Alexa sudah selesai shalat dan Azlan masih berada di posisi gerakan itu pada shalatnya? Padahal mereka tadi masuk ke masjid bersama-sama setelah berwudhu, dan sekarang Azlan belum selesai.
Ada seseorang lain yang juga melakukan shalat tak jauh dari Azlan duduk. Mungkin orang yang bernasib sama seperti Azlan, yaitu dalam perjalanan dan singgah ke masjid untuk melaksanakan shalat.
Alexa keluar dari masjid, kemudian berdiri menyandar di badan mobil. Ia memainkan ponsel sembari menunggu Azlan selesai shalat. Hampir sepuluh menit, Azlan akhirnya keluar dan menghampiri Alexa.
“Udah?” tanya Alexa menatap Azlan yang rambutnya tampak sedikit basah.
“Ya, udah. Ayo, masuk ke mobil,” ajak Azlansambil membukakan pintu mobil untuk Alexa.
“Hm.” Alexa masuk dan Azlan memutari mobil lalu menyusul masuk.
Mobil melesat meninggalkan pelataran masjid.
__ADS_1
Tak lama kemudian Alexa dan Azlan sampai ke rumah Bunda Dinda. Alexa langsung turun dari mobil dan penuh semangat menuju ke teras. Ia tak sabar ingin bertemu Bunda Dinda. Entah kenapa Bunda Dinda seperti motivasi besar baginya, yang membuatnya merasa gembira saat ingin bertemu. Azlan mengikuti Alexa menuju ke teras.
“Assalamu’alaikum.” Azlan mendorong pintu depan dan pintu yang belum dikunci tersebut langsung terbuka.
Sepi.
Tidak ada yang menjawab salamnya.
Azlan dan Alexa bertukar pandang melihat ruangan sepi tidak ada seorang pun yang muncul menyambut kedatangan mereka.
Sunyi.
“Mungkin mereka pergi?” ujar Alexa menerka-nerka.
“Mereka pasti akan mengunci pintu depan jika pergi keluar.”
__ADS_1
“Tapi kenapa sepi begini? Apa mungkin mereka di belakang?”
“Kita cari ke dalam.” Azlan memasuki ruangan lain sambil memanggil nama-nama adik-adiknya. Alexa mengikuti Azlan.
Tiba-tiba Lala muncul dari arah kamar dan senyumnya langsung mengembang lebar melihat kedatangan kakak sulungnya.
“Kak, Azlan?” Lala tampak girang.
“Dari tadi Kakak panggil-panggil kamu tapi kamu nggak jawab. Kamu kemana?” sahut Azlan.
“Maaf Kak, aku nggak denger, soalnya aku lagi nonton TV di kamar sama Sasha.” Lala mendekati Azlan dan menyalami punggung tangan kakaknya itu kemudian menciumnya penu takzim.
“Salim gih sama Kakak iparmu, ini Kak Alexa.” Azlan menunjuk Alexa yang berdiri di sisinya.
Lala tersenyum menghormati Alexa, kemudian menuruti perintah Azlan untuk menjabat dan mencium tangan Alexa. Ia ingat, pesan Azlan yang pernah bilang supaya tidak menyebut Mekka di hadapan Alexa. Ia juga ingat Azlan pernah berpesan bahwa Alexa adalah satu-satunya kakak ipar untuk Rara, Lala dan Sasha. Dan wanita cantik di hadapannya itu adalah Alexa, ia pun menunduk hormat pada wanita itu sama seperti ia menghormati Azlan.
__ADS_1
TBC