Suami Sensasional

Suami Sensasional
Tujuh Puluh Satu


__ADS_3

“Azlan!” Tatapan mata Pak Joan terarah ke mata Azlan. Tatapan itu lebih seperti mata burung hantu yang tajam menusuk.


“Ya, Pak?” Azlan tegas seperti tanpa masalah. Memang harus bersikap demikian untuk menjaga situasi agar ia tetap terlihat tidak bersalah karena kenyataannya dia memang tidak bersalah. Ia hanya berharap Pak Joan tidak salah paham atas kejadian barusan. Manik matanya sekilas melirik ke arah Alexa, gadis itu malah sibuk memainkan ponsel. Ia seperti tidak perduli dengan kejadian barusan. Ya ampun, Alexa.


“Kau…” Tatapan Pak Joan kemudian tertuju ke arah Alexa. “Apa kalian ada hubungan?”


Alexa seperti tidak perduli dnegan pertanyaan papanya, dia masih sibuk dengan ponselnya.


Pandangan Pak Joan kemudian terarah ke wajah Azlan. “Jadi kau menyimpan hubunganmu dengan anakku?”


“Bukan begitu, Pak. Bapak salah paham, saya tadi terjatuh dan Nona Alexa tanpa sengaja juga terjatuh akibat tersenggol oleh kaki saya. Kemudian kebetulan Bapak datang.” Penjelasan Azlan terdengar seperti mengada-ada. Tapi kenyataannya memang begitu dan Azlan harus menyampaikan kejadian sesuai apa adanya.


Pak Joan menanggapinya dengan sudut bibir kanan tertarik sedikit, terlihat speerti sedang menertawakan. “Kau berbicara begitu setelah kemarin kau membawa Alexa pulang ke rumahmu dan bahkan bermalam di rumahmu? Aku tahu kau dan Alexa sudah dewasa. Jangan menutupi apa pun dariku. Aku akan marah besar jika kau menutupinya.”


“Tapi apa yang saya katakan ini sudah benar,” sahut Azlan.


“Sudah cukup, Azlan! Aku paham dengan jiwa muda seperti kalian. Kalau kau menyukai anakku, nikahilah dia!” tegas Pak Joan membuat Azlan terkejut. “Leksa, apa kau memiliki hubungan dengan Azlan?”


Pertanyaan tu tidak ditanggapi serius oleh Alexa, gadis itu hanya mengedikkan bahu dan kemudian pandangannya kembali fokus ke ponselnya. Astaga, seakan-akan ia tidak sedang berada di ambang ketakutan karena diberi maklumat untuk menikah dengan bodyguardnya sendiri. Ucapan papanya seperti dianggap angin lalu olehnya.

__ADS_1


“Kalau kau menyukai Azlan, menikahlah dengannya,” lanjut Pak Joan tidak main-main. Pandangannya kembali beralih ke wajah Azlan. “Azlan, tidak ada penolakan untukmu selain menikahi putriku. Jangan kau ajak dia bercinta tapi tidak ada ujung temunya. Aku tidak akan membiarkan kau dan Alexa berhubungan tanpa kejelasan. Jika saja bukan kau yang kupergoki sedang bermain-main dengan Alexa, aku tidak akan pernah mengijinkannya menikahi Alexa. Aku restui kau dengan Alexa karena aku yakin kau sanggup menjaga anakku.”


“Tapi, Pak. Semua ini nggak seburuk yang Bapak lihat. Aku dan Alexa benar-benar nggak memiliki hubungan apa-apa. Kami…”


“Bicaralah padaku tiga hari lagi,” potong Pak Joan.


Azlan tidak bisa bicara lagi. Ia akan mengumpulkan ide untuk menjawab dan membicarakan masalah itu tiga hari ke depan. Pak Joan hanya memberi waktu tiga hari untuknya. Ia harus bisa memanfaatkan waktu yang diberikan.


“Lalu bagaimana dengan istri barumu? Apakah dia akan datang di pernikahanku?” Alexa buka lagi membahas tentang dirinya dan Azlan.


Tapi tunggu dulu, mendengar kalimat pertanyaan yang dilontarkan oleh Alexa, sepertinya dia tidak mengelak permintaan Pak Joan untuk menikahkan Alexa dengan Azlan karena dia mengakui akan menikah.


“Dan hari ini adalah hari ulang tahunku, apa papa bisa makan malam bersama denganku?”


“Tidak. Papa sibuk.” Pak Joan melenggang keluar ruangan. Tidak perduli dengan ekspresi Alexa yang mendadak mendung. Tak heran jika Pak Joan kurang menanggapi perkataan Alexa. Ia hanya perduli tentang keselamatan putrinya, cukup itu saja. Selebihnya, ia malas berdebat. Dan sekarang ia beranggapan kalau Alexa sudah ada yang menjaga, yaitu Azlan.


Azlan menoleh Alexa yang mendadak murung. Gadis itu menatap kepergian Papanya hingga hilang dari pandangan.


Azlan merasa iba menatap kesediahn Alexa yang tiba-tiba muncul ke permukaan wajah gadis itu. Alexa jelas kekurangan kasih sayang orang tuanya, kurang diperhatikan, pasti dia terpukul atas kurang perdulinya Pak Joan menanggapi ucapannya.

__ADS_1


“Nona, kenapa nona nggak membantah perkataan Pak Joan yang bilang akan menikahkan kita?” Azlan menatap Alexa intens.


Alexa balas menatap pria yang kini berdiri di hadapannya. Mata gadis itu tampak berair. Alexa selalu saja bersedih setiap kali membahas ibu barunya.


“Aku nggak perduli, Azlan.” Alexa mengibaskan tangan ke depan wajahnya. Ekspresinya yang ditekuk tidak berubah. “Aku sangat kesal pada papa. Dia nggak pernah bisa ngertiin aku. Dia bersenang-senang dengan mama barunya yang sangat menjijikkan itu.” Alexa melepas nafas panjang.


Bagaimana Azlan bisa membahas pernikahan pada Alexa jika gadis itu saja tampak terpuruk dengan suasana hatinya yang dipenuhi tekanan batin.


“Aku muak dengan semua ini. Kapan semua berakhir?” Alexa melenggang keleuar ruangan.


Ya ampun, Alexa malah fokus dengan masalahnya, bagaimana Azlan akan membicarakan urusan nikah yang dititahkan Pak Joan? Azlan menyambar kemeja yang disampirkan di sandaran kursi lalu mengenakannya sembari berjalan keluar mengikuti Alexa. Dia mengernyit heran saat melihat tatapan orang-orang di sekitarnya, seperti sedang menghakiminya.


Kedekatan Azlan dengan Alexa memperkuat isu yang beredar. Berarti yang menjadi gosip selama ini adalah kenyataan, kalau Azlan memang ada hubungan dengan Alexa. Bagaimana mungkin Azlan tidak sedekat itu dnegan Alexa, pekerjaannya adalah mengawasi nonanya itu.


Azlan mendengar suara jerit Amira yang pura-pura menangis, juga tatapan Syafiqa yang sendu. Sempurnalah keyakinan mereka tentang hubungan Azlan dan Alexa. Keduanya naik mobil meninggalkan area perkantoran.


Azlan hanya diam, Alexa pun diam. Gadis itu menatap ke luar jendela di sepanjang jalan.


Azlan melirik Alexa yang terlihat murung. Alexa yang banyak bicara, mendadak terdiam setelah membahas mama barunya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2