
Klik.
Lampu menyala.
Azlan lega.
Semuanya kembali normal. Beberapa menit saja terjebak di dalam lift, rasanya seperti sudah sehari. Berkali-kali Azlan mengucap hamdalah. Bersyukur. Bukan karena terlepas dari maut, tapi lebih kepada rasa syukur karena akan secepatnya setelah ini menjauh dari tempat sempit yang membuatnya terjebak hanya berduaan dengan wanita.
Lift kembali bergerak.
“Nona, tolong lepaskan tangan Anda!” seru Azlan sedikit frustasi.
“Enggak!”
“Lampu sudah menyala, Nona!”
__ADS_1
Terlambat. Kalimat itu Azlan lontarkan setelah pintu lift bergerak terbuka tanpa Azlan menyadarinya. Pikiran Azlan begitu panik sampai tidak menyadari sudah sampai ke lantai bawah.
Azlan merasakan tubuhnya lemas saat menoleh dan mendapati beberapa karyawan sudah berdiri di depan lift memelototinya heran. Tamatlah riwayatnya! Tubuhnya yang berdiri membelakangi pintu dengan posisi seperti sedang berciuman dengan Alexa, membuat semua orang yang melihatnya terbengong kaget.
Alexa yang baru menyadari keadaan di sekitar, sontak menjauhkan tubuhnya dari Azlan.
Bukankah seharusnya jam segini para karyawan sudah berada di ruangan masing-masing? Tentunya para karyawan yang sekarang memelototinya itu adalah karyawan pemalas yang kesehariannya selalu datang terlambat. Dan tentu saja mereka mengenali Azlan, meski baru sebentar Azlan bekerja di sana, namun nama Azlan sudah cukup terkenal akibat sering diperbincangkan oleh kaum hawa.
“Azlan? Nona Alexa?”
“Apa yang mereka lakukan?”
Gituan? Apa maksud gituan yang mereka katakan? Ah, Azlan malas memikirkannya. Sekarang, nasib Azlan benar-benar sangat buruk. Dalam hitungan detik, mereka yang ada di kejauhan pun berlari mendekat dan berkerumun layaknya orang sedang menyerbu es cendol.
***
__ADS_1
“Astaga, Azlan!” Arul geleng-geleng kepala dan berkacak pinggang di depan Azlan. “Apa yang lo lakukan? Sumpah, orang sekantor heboh gara-gara elo. Lebih heboh dari gempa bumi. Semua orang ngomongin elo. Semua ngebahas elo. Adududuuuuh… Gimana bisa lo dan Alexa di dalam lift dalam keadaan peluk-pelukan gitu? Huuufth…”
Azlan tidak memperdulikan serentetan kata-kata Arul. Tubuhnya setengah terbaring di kursi putar ruangan Yakub dengan muka tertutup buku yang halamannya terbuka. Dia memang berada di ruangan Yakub, tapi Arul gercep sekali menyusul ke ruangan itu setelah mendengar kabar heboh mengenai kejadian di lift.
“Apa yang lo lakukan dengan nona Alexa? Apa bener ciuman di dalam lift?”
Azlan masih tidak merespon. Ia sendiri malas membahas masalah itu.
“Azlan!” Arul mengambil buku yang menutup muka Azlan dan meletakkannya di meja. “Lo ngapain aja di dalam lift sama Alexa?”
“Jangan ambil itu dariku!” Azlan kembali mengambil buku yang tadi menutup mukanya. Namun Arul menggeser buku tersebut dan menjauhkannya dari jangkauan tangan Azlan.
Pandangan Azlan beralih ke luar, beberapa karyawan yang melintas terlihat menoleh ke arahnya. Kaca pembatas yang bening membuat ruangan tempatnya kini duduk dapat dengan mudah dilihat dari luar.
“Azlan, lo belum jawab pertanyaan gue. Sebenernya apa yang lo lakukan dengan Alexa sampai Alexa menangis di dalam lift? Apa lo memaksanya?” Arul benar-benar terlihat sangat penasaran. “Kayaknya kening lo perlu dikompres. Gaya lo aja sok jual mahal, eeeh nggak taunya begitu deket sama Alexa langsung ajep-ajepan, nggak tanggung-tanggung, lo lakuin itu di lift lagi, kayak nggak ada tempat lain aja.” Arul sengaja meledek.
__ADS_1
“Ternyata lo belum mengenal gue,” jawab Azlan. “Kalo lo kenal gue, apa lo pikir gue sanggup ngelakuin hal itu?”
Tbc