Suami Sensasional

Suami Sensasional
Empat Puluh


__ADS_3

Surat Al Kahfi, di dalamnya terdapat seratus sepuluh ayat. Azlan yakin akan sanggup menghafalnya.


“Hanya itu?” tanya Azlan terharu. “Tapi Mekka, aku masih mampu memberikan sesuatu yang bisa kamu manfaatkan, apapun itu.” Azlan ingin membahagiakan calon istrinya karena dia merasa mampu.


“Karena hanya keimananmu yang kuinginkan. Aku ingin mahar yang akan menambah keimanan calon suamiku, seperti yang pernah diminta Ummu Sulaim pada Abu Thalhah, berupa keimanan.”


Azlan mengingat satu hadis. ‘Bergegaslah dan ajarkan dia dua puluh ayat, maka dia resmi menjadi istrimu.’


Sungguh, Mekka benar-benar gadis baik. Dari caranya dalam menyinggung persoalan mahar saja, sudah kelihatan mulianya. Mekka tidak menginginkan mahar yang bersifat duniawi, dia mengharapkan mahar yang bersifat akhirati. Masyaa Allah.


“Terima kasih atas waktumu, Mekka.”


“Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu udah ngeluangin waktu ditengah kesibukanmu.”


“Maaf Mekka, boleh aku bertanya sedikit?”

__ADS_1


“Silakan, Mas.”


“Umurmu berapa?”


“Dua puluh empat tahun, Mas.”


Masih muda. Pikir Azlan.


“Ada lagi, Mas? Kalau nggak ada lagi kita tutup perbincangannya, kamu juga pasti sibuk, bukan?”


“Wa’alaikum salam,” jawab Azlan kemudian mematikan ponsel.


Azlan semakin mantap untuk menikahi Mekka. Meski tidak tahu seperti apa wajah Mekka, meski tidak ada perasaan yang muncul di hati Azlan kepada Mekka, namun Azlan yakin akan sanggup menjalani rumah tangga bersama Mekka. Azlan tidak membutuhkan cinta dalam pernikahannya. Cukup didampingi istri yang salihah, itu sudah mewakili kebahagiaannya kelak. Cukuplah rasa cintanya hanya tertuju kepada Yang Maha Mencintai, jangan diduakan. Karena yang pertama dia ingat adalah Allah. Dan jika dia mengingat sesuatu yang dia cintai selain Allah, dia takut zikir di hatinya akan hilang. Dia tidak ingin itu terjadi. Apa lagi akhir-akhir ini apa yang dia lakukan telah mengikis imannya sendiri. Dan dia ingin menebus semua itu dengan berperilaku lebih baik lagi dan memperbaiki diri di jalan yang benar. Dia akui dia begitu lemah dan penuh dosa.


Mekka membuat Azlan sejenak melupakan masalah Alexa.

__ADS_1


Sejurus pandangan tertuju ke pintu saat seorang gadis berhijab biru memasuki ruangan setelah mengetuk pintu. Tak lain Syafiqa, sekerataris Direktur.


“Permisi! Mas Azlan dipanggil Bapak Direktur. Mohon ke ruangannya sekarang,” ujar sekretaris itu kemudian berbalik dan pergi.


“Mampus! Pasti bakalan diinterogasi. Siap-siap aja!” komentar Arul dengan muka menegang.


“Jangan nakut-nakutin, dong,” timpal Yakub. “Kasian Azlan, kan?”


Azlan mengedarkan pandangannya ke wajah-wajah sahabatnya yang menegang. Ia tersenyum. “Gue yang bakalan diinterogasi, kenapa kalian yang tegang? Bismillah… Gue bisa atasi ini,” ucap Azlan meski sedkitit was-was. Ia berjalan menuju ke pintu.


“Tunggu!” seru Arul membuat Azlan berhenti dan menoleh. Arul berlari mendekati Azlan.


“Azlan, lo mesti persiapkan jawaban kalau Pak Joan nanya-nanyain kejadian di lift. Kalo jawabann lo nggak pas, bisa-bisa pekerjaan lo terancam. Inget, lo itu adalah pelindung putri direktur, keamanan Alexa ada di tangan lo, lo jadi kekuatan untuk Alexa. Jadi jangan mau kalah kalo Pak Joan bersikap semena-mena sama lo,” ucap Arul.


Azlan mengangkat alis. Sekarang ia sudah bisa berpikir lebih jernih setelah hatinya menyatu dengan zikir. Ia tidak mau merasa paling hebat hanya dengan jabatan yang dimiliki. Ia akan tetap rendah diri dan tidak akan merasa derajatnya lebih tinggi dengan segudang kemampuan dan jabatan yang dimiliki. Semua yang dimilikinya hanyalah titipan, yang sewaktu-waktu bisa diambil bila Yang Maha Berkehendak. Ia ingin mencari rizki halal yang diridhai, yang diraih tanpa kesombongan dan perasaan paling hebat. Sebab halalnya rizki akan dihisab dan haramnya akan diazab.

__ADS_1


TBC


__ADS_2