Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Tujuh Puluh Empat


__ADS_3

Alexa memasuki rumah, menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa pun di ruangan luas rumahnya. Untung saja ia tidak menemukan Atika. Disaat sedang galau begini, tidak baik baginya bertemu dengan wanita itu karena bisa saja terjadi perang dunia ketiga. Mungkin Atika sedang keluar bersama Joan, papanya. Alexa tida peduli mengenai hal itu. Akhir-akhir ini mereka jarang di rumah.


Alexa menuju ke ruang makan, ia berdiri dengan kedua tangan menapak di meja makan. Lalu ia memerintah Weni untuk membuatkan teh hangat. Tak lama kemudian Weni muncul membawa segelas teh hijau sesuai selera Alexa.


Baru saja Alexa meletakkan gelas setelah meneguk isinya, ia merasakan pelukan dari belakang. Ya, lengan kokoh melingkar di perutnya, disusul dengan dagu yang mendarat di atas pundaknya.


“Aku mencintaimu, sayang. Aku hanya mencintaimu.” Suara yang tidak asing berbisik di telinga Alexa. Tak lain Azlan.


Alexa menarik nafas dalam-dalam. Iya, dia tahu kalau Azlan mencintainya. Tapi ia ragu, apakah kini Azlan hanya mencintainya, atau membagi cintanya kepada wanita lain? Setiap kali mengenang Azlan yang pernah menikahi wanita lain, hati Alexa seperti tersayat-sayat. Ngilu.


“Lepasin!” geram Alexa.


“Enggak!”


“Aku bilang lepasin!”


“Jangan marah padaku!”


“Apa kamu pikir aku harus tertawa girang di saat begini?” Alexa melepas lingkaran tangan di perutnya. Kemudian ia balik badan hingga menghadap pada Azlan. “Aku benci padamu. Sampai sekarang entah kenapa aku belum bisa mengerti dengan keadaan ini.” Alexa berjalan meninggalkan ruang makan. Menelusuri beberapa ruangan, menaiki ana tangga hingga menuju ke kamarnya. Ia membuka pintu kamar dengan sekali sentak lalu masuk. Pintu ditahan dari luar saat ia mengayunkan hendak menutupnya.


Tangan Azlan menahan hingga pintu terganjal.


Alexa dan Azlan bertukar pandang.


“Aku nggak ingin kamu ada di kamar ini,” ucap Alexa tegas.

__ADS_1


“Apa?” Azlan terkejut. “Kamu mengusirku?”


Alexa menuju ke ranjang. Lalu mengambil satu bantal dan selimut. Azlan menyusul masuk. Alexa menyerahkan barang-barang yang baru saja dia ambil itu ke tangan Azlan hingga Azlan kesulitan menerimanya akibat barang-barang tersebut cukup besar.


“Alexa, jangan lakukan ini!” Azlan menampilkan ekspresi memelas.


“Lalu aku harus melakukan apa?” balas Alexa sambil mendorong dada Azlan hingga Azlan berjalan mundur menuju ke pintu.


“Ayolah, sayang. Ini nggak baik untuk kita. Kamu harus pikirkan hubungan kita jika kita tidur terpisah begini.” Azlan tak kuasa melawan Alexa yang terus mendorongnya keluar kamar.


“Aku nggak peduli,” ketus Alexa.


Brak!


Azlan membeku di tempat melihat pintu yang dtutup di jarak beberapa centi dari wajahnya. Ya ampun.


“Terserah kamu!” ketus Alexa yang masih menyandar di balik pintu.


“Kamu pikir ini baik untuk perkembangan hubungan kita? Kapan kita punya anak kalau kamu menyuruhku tidur terpisah begini?” Azlan menoleh ke kiri kanan setelah mengucapkan kalimat itu, takut ada yang melintas dan mendengar ucapannya. Itu pasti kedengaran knyol dan membuat geli yang mendengar.


Untung saja tidak ada yang mendengar ucapan Azlan hingga Azlan tidak perlu merasa malu.


Azlan mengetuk pintu agak kesulitan akibat kedua tangannya yang membopong bantal dan selimut tebal.


“Sayang, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. harus berapa kali aku mengatakan ini? Bukalah pintunya!” Azlan menatap pintu lekat-lekat, berharap Alexa bersedia membukanya.

__ADS_1


“Aku benci melihat wajahmu!” balas Alexa.


“Tapi ini nggak akan menyelesaikan masalah.”


Sunyi.


Azlan mendekatkan daun telinga ke pintu. Tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka.


“Sayang, apa kamu tega membiarkanku diketawain Mama Atika jika dia mendapatiku tidur di sofa, atau mungkin tidur di kamar lain? Ayolah buka pintunya!” tidak ada respon, Azlan menyandarkan punggungnya di pintu. “Aku akan tetap di sini sampai kamu emmbuka pintunya. Kamu tahu kenapa aku begini? Inilah bukti cintaku ke kamu.”


Sunyi.


“Alexa, bukalah pintunya!” Azlan mengesah. Namun detik berikutnya... Gubrak! Tubuh Azlan terbanting sesaat setelah pintu tempat punggungnya bersandar itu dibuka. Ya ampun, sial sekali nasib punggungnya.


Alexa terkejut melihat tubuh Azlan terbanting. Namun ia tidak mau memperlihatkan ekspresi iba. Ia balik badan lalu mengambil sehelai permadani dari lemari kecil tempat penyimpanan barang dan melemparya ke lantai.


“Tidurlah di bawah!” Alexa melempar tubuhnya ke ranjang.


Azlan menutup pintu setelah bangkit bangun. Ia menatap sehelai permadani yang masih terlipat dan tergeletak di lantai. “Aku harus tidur di sini?”


“Ya.” Alexa membalikkan tubuh membelakangi Azla sambil mearik selimut sampai ke perut.


“Baiklah. Aku akan menjalani hukuman ini dengan penuh cinta. Terima kasih atas hukumannya, sayang. Mmuuuah...” Azlan mencium ke udara kemudian membanting tubuhya di atas permadani yang sudah dia bentang.


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


TUNGGU KELANJUTANNYA YAAAA


__ADS_2