Suami Sensasional

Suami Sensasional
Enam Puluh Tiga


__ADS_3

Kini tinggalah Azlan dan Pak Joan yang bertukar pandang. Jika sudah begini, Azlan bingung harus berkata apa. Penjelasan Alexa tadi merupakan anugerah atau bencana baginya?


“Ya sudah, ayo masuk!” Pak Joan balik badan dan berjalan memasuki rumah.


Pak Joan bahkan terlihat tenang setelah mendengar penjelasan Alexa. ia tidak marah mendengar putrinya tidur di rumah seorang pria. Soal ekspresi Pak Joan yang tidak berubah, tetap sengak dan tidak ada manis-manisnya, itu memang sudah dari sononya begitu. Alzan tidak perlu memikirkan itu. Mungkin benar apa kata Arul, saat lahir Pak Joan langsung ngegelinding dan mukanya kepentok dinding, makanya muka Pak Joan judes mulu.


Azlan bergerak masuk ke rumah megah mengikuti Pak Joan.


Setelah melewati beberapa ruangan, kini akhirnya Azlan berdiri di sebuah ruangan nyaman, tentunya ruang makan. Di tengah-tengah ada sebuah meja panjang yang di atasnya sudah ada sepasang sendok dan pisau yang dililit dengan tisu.


Azlan menarik kursi dan duduk mengikuti pergerakan bosnya. Mereka duduk berhadapan.

__ADS_1


Entah kenapa jantung Azlan selalu merasa was-was setiap kali berdekatan dengan pak Bos.


Azlan kini semakin mengenal keluarga Alexa. Alexa benar-benar hidup serba bebas tanpa ikatan perhatian dan pengawasan orang tua. Dia diperbolehkan menginap di rumah kontrakan seorang laki-laki. Apa jadinya jika Azlan adalah lelaki mesum yang menginginkan keperawanan? Dan Pak Joan seperti tidak memikirkan hal itu. Dia adalah sosok ayah yang sama sekali tidak perduli dengan jiwa dan perkembangan anaknya.


Alexa muncul entah dari mana dan kini sudah duduk di sisi Azlan. Gadis itu menyilangkan kaki sambil menggoyang-goyangkannya kakinya hingga ujung kakinya sesekali mengenai betis Azlan.


Mendapat gerakan itu, Azlan segera menggeser kakinya supaya menjauh dari wanita itu. Ya ampun, godaan di sana terlalu kuat. Azlan mendadak pening dibuatnya.


Azlan melirik gadis itu hendak protes, namun baru saja mulutnya terbuka untuk bicara, Azlan merasakan kakinya nyeri terinjak sesuatu. Azlan meyakini kalau itu adalah ujung heel dari sendal Alexa. Kini Azlan lebih fokus merasakan nyeri di kakinya ketimbang protes yang hendak dia sampaikan.


“Baju siapa yang kau pakai? Sepertinya itu baju laki-laki?” tanya Pak Joan menatap pakaian yang dikenakan di tubuh Alexa.

__ADS_1


“Ini baju milik Azlan. Dia minjemin aku baju.” Alexa menarik baju di bagian dadanya hingga terlihat molor akibat tarikannya. “Tumben papa memperhatikanku?”


Pak Joan diam saja atas pertanyaan yang bernada protes barusan.


Alexa memerintah asisten rumah tangganya untuk membuat jus. Tak lama jus yang dipesan dihidangkan. Alexa segera meneguknya. Ia terbiasa hidup sehat, setiap pagi selalu minum jus. Pantas saja kulitnya halus.


Sarapan berlangsung tanpa ada perbincangan. Semuanya terlihat asik menyantap, kecuali Azlan, yang isi kepalanya disibukkan dengan berbagai macam terkaan tentang isi pikiran pak Joan sekarang. Burger yang seharusnya gurih dan nikmat, kini rasanya malah hancur di lidah.


Baru kali itu Azlan merasakan sarapan yang sama sekali tidak nikmat, kacau-balau.


“Sebentar lagi aku akan berangkat ke kantor. Tapi aku ganti baju dulu. Tunggu aku di depan!” ucap Alexa Alexa kemudian meninggalkan meja makan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2