Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Lima Puluh Delapan


__ADS_3

Alexa melangkah keluar melintasi pintu utama gedung kantor diikuti oleh Azlan. Pria itu tampak sedang sibuk menelepon. Sesekali Alexa menoleh ke arah Azlan, ia ingin berbicara dengan suaminya itu namun seperti tidak mendapat jeda mengingat Azlan tak henti mengobrol.


Alexa menghentikan langkah kakinya. “Azlan, udah dong ngomongnya! Nelepon siapa sih?”


Azlan mengangkat tangannya memberi isyarat supaya Alexa tidak mengganggu. “Pak Syarif,” ujar Azlan sembari menunjuk-nunjuk ponselnya.


Alexa mengangkat alis saja. Ia mengerti Pak Syarif adalah orang penting. Dan tentu saja Azlan membicarakan urusan pekerjaan. Sudah seharusnya Alexa tidak mengganggu perbincangan Pak Syarif.


“Jadi sekarang Bapak sudah hampir sampai ke kantor saya? Kalau begitu kita minum sebentar, ada restoran di samping kantor saya, kita bisa makan bersama di sana. Saya akan jamu tamu sebaik mungkin. Ha haaa… Baik. Saya tunggu.” Azlan memasukkan ponsel ke kantong balik jasnya.


“Kenapa dengan pak Syarif?” Tanya Alexa dengan kedua tangan terlipat di dada.


“Pak Syarif akan kemari. Beliau hanya sekedar ingin berkunjung, tapi alangkah lebih baik aku menjamunya bukan?”


“Okey, itu bagus. Aku suka kamu berhubungan baik dengan Pak Syarif. Ingat, dia sangat penting bagi perusahaan kita. Dia kolega kita.”

__ADS_1


“Kamu ikut bersamaku, ya!”


“Aku capek, Azlan. Aku ingin pulang saja. Biar Aku pulang bersama Sunil.” Alexa menunjukkan ekspresi lelahnya. Dia tahu, Azlan bisa menghandle segalanya dengan baik, tanpa dirinya.


“Baiklah. Pulanglah!” Azlan mengangguk.


Alexa menelepon Sunil, memerintah supirnya itu supaya membawa mobil dari basement menuju ke depan gedung kantor.


“Kamu hati-hati, ya! Aku mencemaskanmu kalau kamu nggak bersamaku,” ucap Azlan dengan sorot mata penuh perhatian.


“Hm. Aku melalui jalan yang rame kok, semua kana baik-baik aja.”


Alexa menggeleng. Ia menoleh ke arah Pak Syarif yang berjalan menuju ke arahnya.


Pak Syarif tersenyum saat sudah sampai di dekat Alexa dan Azlan. Ia menjabat tangan Azlan penuh semangat. Sytle-nya yang biasa saja, membuat Alexa cukup heran pada pengusaha yang satu itu. Dia tidak berpenampilan selayaknya orang-orang tajir yang bila dipandang langsung kelihatan bahwa dia berada di kelas atas, namun penampilannya sungguh biasa saja. Kaos dengan kerah di leher, celana jeans, dan sandal.

__ADS_1


“Selamat sore, Pak Azlan!” Pak Syarif membenarkan kaca matanya.


“Sore!” singkat Azan diiringi senyum.


“Apa kabar?”


“Baik baik, Pak.”


“Saya sangat menyukai kepemimpinan Bapak, itulah sebabnya saya kemari untuk berkunjung. Bertemu dengan Bapak seperti sudah merupakan sunah untuk saya.”


“Ha haaa…” Azlan dan pak Syarif serentak tertawa.


“Nona Alexa, apa kabar?” Pak Syarif menoleh ke arah Alexa, senyumnya mengembang lebar.


“Baik.” Alexa mengangguk.

__ADS_1


Azlan menoleh ke arah wanita yang berdiri di sebelah sisi kanan pak Syarif. Ia sedikit mengernyit saat sadar bahwa ia mengenali wanita itu, Mekka Gifari. Sejak tadi ia mengabaikan wanita itu hingga baru sekarang ia sadar bahwa ia mengenali wanita itu. Namun luar biasa, ekspresi Azlan sungguh tenang. Tak sedikit pun tampak terkejut, bahkan ia juga terlihat biasa-biasa saja saat bertemu pandang dengan wanita itu. Seakan-akan ia tidak mengenali Mekka.


TBC


__ADS_2