
Suasana vila di Bandung benar-benar sejuk, dingin dan menanangkan. Posisinya yang tak jauh dari pepohonan dan hijaunya suasana alami, membuat situasi vila terasa sangat segar. Selama dua hari berada di vila, Alexa menjalani hari dengan sangat gembira. Setiap pagi, ia berjalan-jalan melihat-lihat situasi di sekitar sana. Sudah hampir sepuluh tahun ia tidak menginjakkan kaki di sana, sekarang suasana sudah berubah. Namun keasriannya tetap terjaga.
Seperti pagi itu, Alexa dan Azlan jalan-jalan di sekitar vila, menuruni jalan setapak beralas semen yang kiri kanannya merupakan rerumputan hijau. Sinar matahari tampak kuning keemasan menerpa setiap wajah yang terpapar di bawahnya. Hari masih pagi sehingga sinar matahari tidak terasa panas saat menyentuh kulit.
Alexa berjalan dengan langkah lebar tanpa peduli pada Azlan di belakang yang mengikutinya. Weni dan Idris beriringan di belakang pada jarak sekitar sepuluh meter dari Azlan.
“Lexa, jangan terlalu cepat berjalan, nanti kamu kelelahan,” seru Azlan sambil mengusap peluh yang mengalir di pelipis menggunakanhanduk kecil yang dia sampirkan di bahu.
“Buruan! Jangan lelet! Aku sedang bersemangat ini,” balas Alexa sambil tertawa girang. Ia menoleh ke arah Azlan mempertontonkan barisan rapi giginya.
“Jangan terburu-buru! Apa kamu nggak lelah?”
“Enggak. Kamu cemen iih… Gini aja nggak bisa ngikutin!” Alexa menjulurkan sedikit lidahnya dengan posisi berjalan mundur.
Azlan geleng-geleng kepala. Dasar Alexa, paling pinter untuk urusan ejek mengejek. “Eh, Lexa awas…”
__ADS_1
Belum selesai Azlan mengucapkan kalimatnya, Alexa sudah terguling sesaat kakinya tersandung batu. Azlan menghambur mengejar Alexa yang sudah terbaring di atas rerumputan.
“Alexa!” Azlan meraih tubuh Alexa dan menepuk pelan pipi wanita yang terpejam itu. perasaan Azlan kacau dan kecemasannya seperti sedang merebus jantungnya hingga mendidih. Melihat Alexa tidak sadarkan diri, Azlan langsung frustasi. Sekilas Azlan melirik ke sekitar Alexa terbaring, tidak ada benda yang membahayakan. Wanita itu hanya tersandung dan kemudian terguling, lalu sekarang dia jatuh pingsan? Apakah hanya karena efek terkejut saja?
“Bangun, sayang! Ayo, bangun!” Azlan mengguncang pelan tubuh dalam pangkuannya. Namun usahanya tidak menghasilkan apapun. Alexa tetap terpejam.
Weni dan Idris berlari mengejar, mendekati Alexa yang sampai detik ini masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Namun sial, gerak langkah kaki Weni yang maju tanpa sengaja tersandung kaki Idris yang kebetulan melangkah dengan posisi menyilang di depan Weni, membuat tubuh wanita itu melayang terbang dan terbanting di jalan.
“Mas Idriiiiis, Sakit nih!” kesal Weni dalam posisi menelungkup dii jalanan.
“Jelas-jelas kaki mas Idris yang nyilang di depanku, masih aja nyalahin aku. Ganteng sih ganteng Mas, tapi jangan petakilan begitu kakinya.” Weni geram.
Idris terkikik geli melihat hidung Weni yang dihinggapi daun kering. “Tuh, hidungmu ketempelan emas,” ucap Idris membuat Weni langsung mengusap hidungnya dan nyengir saat menemukan sehelai daun kering.
Weni bergegas mengikuti Idris berlari menuju ke tempat Azlan.
__ADS_1
“Lan, apa yang terjadi?” Idris jongkok di sisi Azlan.
“Aku nggak tahu. Kita harus cepat bawa Alexa ke rumah sakit. Aku takut terjadi hal buruk terhadapnya.”
“Sepertinya Nona Alexa hanya pingsan. Mungkin dia tadi terkejut saat tadi terjatuh.”
Azlan tampak sangat cemas sambil memperhatikan gerak dada Alexa yang naik turun seiring nafas wanita itu. Ya, setidaknya Alzan masih bisa sedikit merasa lega karena istrinya itu masih bernafas.
“Kali aja gagal nafas. Lo kasih nafas buatan gih,” celetuk Idris tak kalah cemas.
Weni yang berdiri di sisi Idris pun menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri. Nafas buatan? Pejam mata aja kalau gitu dari pada ngiri.
Azlan menyentuh dagu Alexa dan menekannya ke bawah hingga mulut wanita itu terbuka sedikit, kemudian Azlan memajukan kepalanya mendekati wajah Alexa.
TBC
__ADS_1