
Alexa melintasi beberapa ruangan lantai dua. Hatinya masih berkecamuk mengingat perilaku Atika yang semakin lama semakin menyebalkan, dan bahkan dia mulai merasa berkuasa di rumah itu. Satu per satu segala yang dimiliki papanya telah dia kuasai, sekarang haruskah rumah yang ditempati Alexa itu juga dikuasai Atika?
Alexa melangkah menuju balkon. Ia berdiri di sisi balkon dengan kedua tangan menyentuh pagar balkon. Manik matanya menatap ke bawah, mengamati kendaraan yang lalu-lalang. Rambutnya berkibar diterpa angin, jemarinya meremas pagar menahan kekesalan.
Azlan pinter banget sih ngebuat aku untuk belajar menahan emosi? Dia pasti ingin melihatku menjadi wanita penyabar. Ya ampun, tapi aku nggak bisa. Ini sulit banget. Sabar itu nggak semudah yang aku bayangkan.
Alexa sangat mengenal Azlan, pria yang penuh dengan kesabaran. Dan Azlan ingin membentuk kepribadian yang sabar dalam diri Alexa. apa itu mungkin? Sosok Alexa yang bar-bar, mudah emosi, pemarah, dan keras kepala itu akan menjadi lembut?
Alexa menarik nafas saat merasakan lengan kokoh melingkar di perutnya. Ia melirik ke samping dan mendapati wajah Azlan yang hanya berjarak dua centi saja dari wajahnya. Pria itu kemudian meletakkan kepalanya di pundak Alexa. tangan yang melingkar di perut Alexa, pelan naik, meraba sampai ke dada. Alexa membiarkan saja perbuatan nakal suaminya. Biasanya Alexa-lah yang nakal, sekarang gliran Azlan. Mungkin itu adalah cara Azlan untuk meredakan kekesalannya. Sungguh manis.
Telapak tangan Azlan berhenti di dada Alexa, mengusapnya sebentar. “Detakannya sangat kuat, kamu masih kesal?”
Alexa memalingkan pandangannya kembali ke jalan di bawah sana. Dasar nih jantung nggak bisa diajak kompromi. Jelas saja orang lagi kesel pasti deg-degannya kenceng banget.
“Tahan, sayang! Jangan diikuti emosimu.”
“Kok, kamu tahu aku di sini?”
“Aku kan selalu tau dimana keberadaanmu. Wangi tubuhmu bisa kucium meski di jarak seratus meter.”
“Gombal!”
__ADS_1
“Aku serius.” Azlan tersenyum. Ia melepaskan rangkulannya. “Ayo duduk!” Azlan duduk di lantai.
Alexa membelalak. “Duduk di lantai?”
“Iya.”
“Kotor ih.”
“Kotor dikit, debu doang. Nggak najis, kok.” Azlan menyapu debu di lantai dekatnya duduk dengan telapak tangannya. “Sini, duduk!” Azlan menepuk lantai di sisinya.
Sudut bibir Alexa tertarik sedikit. Ia kemudian menghempaskan tubuh duduk di sisi Azlan.
“Ini, minumlah!” Azlan menyerahkan gelas yang sejak tadi dia tenteng.
“Ini bukan minyak.”
“Jadi, apa dong?”
“Madu.”
“Ooh…” Alexa mengambil gelas tersebut dan meneguknya. “Manis.”
__ADS_1
“Namanya juga madu.”
“Madu yang ini rasanya manis. Tapi madu istri pasti rasanya pahit.”
Azlan tergugu mendengar Alexa menyebut madu istri. Tanpa Alexa sadari, suaminya sebenarnya telah membuat madu yang pahit itu. Batin Azlan berkecamuk, merasa sangat bersalah.
“Airnya udah nggak anget lagi, kan? Terlalu kebanyakan insiden sampai-sampai air minumnya jadi dingin.” Azlan mengalihkan pembicaraan.
Alexa tertawa. “Badanku emang lagi dingin dan pinginnya yang anget-anget.”
“Apa yang anget-anget itu?”
Alexa menoleh ke arah Azlan. Ia meletakkan gelas ke lantai sisinya. Kemudian ia melipat tiga jemarinya dan menyisakan jari telunjuk dan jari tengah untuk tetap lurus. Ia letakkan dua jemari tersebut ke paha Azlan, kemudian jemari tersebut bergerak maju layaknya seperti kaki sedang berjalan.
Azlan melirik dua jari yang bergerak naik ke atas mendekati pangkal pahanya. Hingga sampai dua jari itu mendekati resletingnya, tangannya pun cepat bergerak menangkap dua jari tersebut.
“Hei, istriku yang nakal! Beraninya menggodai suamimu di tempat begini?” Azlan menarik tangan Alexa hingga tubuh wanita itu menubruk dadanya.
Alexa hanya terkekeh.
Azlan melingkarkan kedua lengannya ke punggung Alexa. “Nah, begini kan udah anget.”
__ADS_1
Alexa menempelkan pipinya ke dada Azlan, merasakan detakan normal di dada itu. Matanya terpejam sambil tersenyum. Nymana sekali berada di pelukan pria gagah itu. Entah kenapa Azlan selalu saja mampu membuatnya merasa sangat nyaman.
TBC