Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Tiga Puluh Dua


__ADS_3

“Ayah, jika diantara kita di sini nggak ada yang buka mulut akan kejadian di sini, maka nggak akan ada orang kampung yang mengetahui kejadian ini,” sahut Mekka, suara wanita itu tidak lagi lemah. “Ibu benar, aku nggak perlu memaksakan cinta Mas Azlan yang jelas-jelas bukan untukku. hati Mas Azlan udah diisi oleh wanita lain, dan di hatinya nggak ada lagi sisa ruang untukku. Maka aku lebih memilih mundur.”


Azlan sebenarnya tidak tega mendengar pengakuan Mekka, namun itulah yang terbaik. Ia mengagumi kebesaran hati Mekka.


“Aku memberitahukan ayah dan Ibu soal ini untuk meminta pendapat dari ayah dan Ibu dalam menyelesaikan masalahku, itu aja. Aku mohon, besok pagi, Ayah dan Ibu pulang ke kampung dan tidak perlu mengatakan tentang ini pada siapapun,” lanjut Mekka.


“Kamu menyuruh kami pulang ke kampung? Lalu bagaimana denganmu?” tanya Veti.


“Aku akan tetap di Jakarta. Aku udah diterima bekerja di sebuah perusahaan besar. Dan aku yakin Allah telah memberiku rejeki melalui pekerjaanku ini untuk menafkahi hidupku di sini. aku akan hidup layak di sini. dan percayalah, aku akan bisa menjaga diri. Dengan begini, nggak akan ada orang kampung yang akan mengetahui kondisiku dan menggunjingkan keluarga kita. Besok aku akan mengurus perceraianku dengan Mas Azlan.”


Pandangan Mekka kini tertuju ke arah Dinda. “Bunda, terimakasih udah ikut kemari untuk menemui kami dan membicarakan masalah ini baik-baik. Sejak pagi Bunda berada di sini bersama kedua orang tuaku hanya demi aku. Maaf, aku belum bisa memberikan yang terbaik selama pernikahanku dengan Mas Azlan.”


“Ya Allah Nak, justru kamu adalah bidadari terbaik yang Allah kirimkan buat Bunda. Hanya saja, jalan yang kalian tempuh nggak bisa menyatukan kalian. Maafkan Bunda yang nggak bisa memberikan kebahagiaan kepadamu melalui Azlan.” Bunda Dinda mendekati Mekka kemudian memeluknya erat, tangisnya kembali pecah. Ia merasa sangat bersalah karena seperti telah menelantarkan wanita itu.

__ADS_1


“Jangan menangis, Bunda. Bunda nggak salah, kok.” Mekka melepas pelukan dan mengusap air mata di pipi Dinda dengan jemari lentiknya.


“Kamu luar biasa, Nak. Bunda bangga padamu.”


Mekka tersenyum. Pandangannya kemudian beralih ke wajah kedua orang tuanya. “Ayah, Ibu, beristirahatlah di kamar. Besok ayah dan Ibu harus udah kembali ke kampung. Insyaa Allah, jika rejekiku banyak, pasti aku akan sering mengirim uang untuk Ayah dan Ibu.”


Tanpa bicara sepatah kata pun, Anjas melenggang menuju sebuah kamar. veti mengikutinya.


Azlan dan Mekka bertukar pandang, hingg akhirnya Dinda yang memulai pembicaraan.


“Azlan, adik-adikmu ada di kamar,” ucap Dinda. “Mereka mungkin kelelahan.”


“Jadi, Bunda membawa adik-adik?” kejut Azlan.

__ADS_1


“Bunda nggak tega meninggalkan mereka.”


“Mereka sudah besar-besar, Bunda. Tapi ya sudah, Bunda besok nggak usah ikut pulang ke kampung. Bunda tetaplah di Jakarta, aku akan carikan rumah untuk Bunda dan adik-adik. Biar sekolah adik-adik dipindah ke sini. dengan begini, aku akan bisa dengan mudah menemui bunda dan adik-adik.”


“Ya. mungkin begitu akan lebih baik.” Manik mata Dinda kini tertuju ke arah Mekka. “Mekka, Bunda masuk ke kamar dulu. Bunda ingin beristirahat.”


Mekka mengangguk sambil tersenyum.


Sepeninggalan Bunda Dinda, Azlan dan Mekka bertukar pandang.


“Aku ingin bicara, Mas,” ujar Mekka kemudian ia balik badan dan berlalu pergi memasuki kamarnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2