Suami Sensasional

Suami Sensasional
Lima Puluh Tujuh


__ADS_3

“Any body home?” Alexa berjalan sampai ke ruang makan dan membuka kulkas. Menyambar apel dan mengunyahnya dengan nikmat. Kemudian dia berjalan menuju dapur, namun langkahnya terhenti di ambang pintu melihat dapur yang gelap. Kulit halusnya kembali meremang dan langsung lari ngibrit menuju ke depan lalu membuka salah satu pintu. Langkahnya kembali terhenti melihat sebuah kamar yang hanya diterangi lampu nakas. Lagi-lagi ia harus melihat ruangan remang-remang dan sepi. Menyebalkan. Ia menarik badannya kembali keluar. Tapi sepertinya ia baru saja melihat sesuatu, dan ia mengulang pandangannya ke arah ranjang di tengah-tengah kamar luas. Ada sosok tubuh terbaring di sana.


Alexa melepas napas lega menatap wajah Azlan, karena ternyata dia bersama Azlan, pria itu tentunya bisa melindunginya.


Alexa berjalan mendekati ranjang, menatap wajah yang tengah tertidur pulas. Untuk sesaat Alexa memperhatikan wajah tampan yang bernapas teratur itu. Dalam keadaan tidur pulas pun, lelaki itu terlihat sangat tampan. Mulai dari bibir, hidung pipi, dan dahi, wajah itu memiliki cirri khas.

__ADS_1


Alexa mengenal sosok lelaki yang ada di hadapannya itu. Pria dingin yang selalu bersikap cuek. Pria yang menurutnya adalah pria baik-baik. Dari wajahnya yang adem saja sduah kelihatan kalau Azlan adalah pria sopan. Lalu bagaimana bisa pria itu membawanya ke rumah itu?


Alexa tersenyum geli mengenang soal ubi yang pernah dia teriakkan. Dia menutup mulut dengan telapak tangan supaya tawanya tidak meledak dan mengganggu tidur pria itu. Masih dengan senyum mengembang, Alexa mengarahkan kamera ke wajah Azlan dan mengabadikan wajah pria itu beberapa kali di galerinya.


“Halo, ganteng!” lirih Alexa sembari menepuk pipi Azlan dua kali. Azlan tetap pulas, sama sekali tidak terganggu dengan tepukan itu. “Ya ampun, kamu tuh ganteng banget. Idung mancung, bibir tomat, jidatnya ada lekuk sedikit, apaan ini?” Alexa mengusap kening Azlan dengan jempolnya. “Kecubles kerikil kali, ya?”

__ADS_1


Lalu dengan entengnya, Alexa menghempaskan tubuh, berbaring di sisi ranjang dan meletakkan bantal guling di tengah-tengah sebagai batas wilayah. Lebih baik dia berada di sana, nyari aman dari pada dia ketakutan sendirian di kamar yang gelap. Dia yakin lelaki seperti Azlan tidak akan memperkosanya karena Azlan lelaki soleh yang menurutnya tahan godaan. Buktinya selama ini Azlan terkesan selalu menghindarinya. Dia tidak tahu jika Azlan saja berjuang keras melawan godaan. Alexa pun merasa nyaman di kamar itu.


Dua jam berlalu.


Azlan menggeliat dan kelopak matanya terbuka. Pandangannya tertuju ke dinding dan ia langsung duduk. Saatnya melaksanakan amalan para kekasih Allah dan orang-orang sholeh, shalat tahajud. Ia turun dari ranjang, memakai sendal dan berjalan menuju pintu kamar mandi.

__ADS_1


Langkah kaki Azlan terhenti melihat selimut yang dia tinggalkan, selimut itu bergerak-gerak. Azlan terdiam sesaat untuk memperhatikan selimut. Dia mengucek mata lalu menyalakan lampu. Tidak salah lihat, selimut di atas kasur itu terlihat menggulung dan membukit, seperti ada isinya. Baru saja Azlan bergerak mendekati ranjang hendak membuka selimut, selimut tersebut kembali bergerak-gerak, membuat jantung Azlan deg-degan, Azlan sedikit takut. Adakah binatang yang menyusup masuk ke selimutnya? Buaya mungkin. Atau anaconda? Ya ampun, korban film. Pemikirannya pun jadi ngawur.


TBC


__ADS_2