
“Memangnya apa yang bisa kulakukan sekarang?” Mekka berbicara dengan nada tinggi. “Orang tuaku melepasku hidup bersamamu, mereka meyakini kalau hidupku akan bahagia bersama lelaki yang mereka percayai. Lalu sekarang aku harus bilang apa kepada mereka? Aku malu, Mas. Aku malu mengakui kenyataan ini, bahwa sesungguhnya ku dinikahi lelaki yang sebenarnya sudah beristri.”
“Kalau memang kamu nggak bisa jujur pada orang tuamu, juga seluruh keluargamu, biar aku yang bicara pada mereka, biar aku ceritakan semuanya,” ucap Azlan lembut.
“Ini bukan perkara berani atau nggak berani bicara jujur kepada mereka, tapi perkara malu. Hidupku yang diyakini akan bahagia bersama pria yang dianggap soleh, ternyata kenyataannya berkebalikan. Hidupku mengenaskan.”
“Lalu sekarang apa yang harus kulakukan?” Azlan menatap mata Mekka intens. Ia menunggu saat lidah Mekka menuntut pisah darinya. Sebab mungkin akan sangat menyakitkan jika dia yang lebih awal meminta pisah. Azlan sangat memahami perasaan Mekka yang tentunya tersakiti, dan ia menyerahkan keputusan pada Mekka supaya wanita itu tidak merasa tersudut andai Azlan yang mengambil keputusan.
“Ceraikan Alexa,” singkat Mekka membuat Azlan terkejut.
Azlan mengira kalau Mekka akan meminta pisah, tapi ternyata wanita itu justru meminta hal lain padanya. Dugaan Azlan meleset.
“Kenapa kamu diam, Mas? Jawab aku!” pinta Mekka dengan mata berair.
“Aku nggak bisa, Mekka.”
“Nggak bisa? Kenapa?”
__ADS_1
Azlan diam saja.
“Jawab aku, Mas! Kenapa kamu nggak mau menceraikan Alexa? Apa kamu sungguh-sungguh mencintainya?”
Dengan berat hati, Azlan menjawab, “Ya.”
Air mata Mekka kembali berguguran. Jawaban Azlan sangat menyakitkan.
“Maaf kalau aku harus jujur, tapi ini akan lebih baik. Jujur di belakangan justru akan jauh lebih menyakitkan. Sama seperti kenyataan yang kita alami sekarang. Kejujuran di akhir hanya membuat masalah menjadi semakin runyam,” ujar Azlan tegas. Ia tahu, Mekka menrasa semakin tersakiti. Tapi ia tetap harus bicara jujur, karena kenyataannya ia memang sangat mencintai Alexa.
“Tapi tahukah kamu? Ini semua nggak adil untukku. aku yang selama ini menumpuk harapan setinggi bukit padamu, tiba-tiba harus menerima kenyataan ini. Kenapa kamu tega padaku? Apa kamu nggak mencintaiku, Mas?”
“A...”
“Cukup! Jangan katakan apapun, Mas. Aku udah tahu jawabannya,” potong Mekka. Ia sudah tahu apa yang akan Azlan katakan, sorot mata Azlan cukup menjadi saksi. dan Mekka telah menangkap isi hati Azlan melalui sorot mata pria itu. bahwa Azlan kesulitan untuk mengatakan kalau dia tidak mencintai Mekka, kalau pria itu hanya mencintai Alexa. Mekka merasa sangat sakit melihat sorot mata itu, bagaimana jika ia mendengar pernyataan Azlan? Tentu itu akan jauh lebih menyakitkan. Mekka lebih baik tidak mendengar jawaban Azlan dari pada kata-kata Azlan akan menjadi boomerang yang akhirnya melumpuhkan semangat hidupnya secara perlahan.
“Aku sama sekali nggak menginginkan hal ini terjadi, Mekka. Aku bahkan nggak bisa mengatur perasaanku sendiri. Rasa itu mengalir begitu aja dan aku hanya bisa mengikutinya. Apakah akan adil buatmu kalau aku berpura-pura mencintaimu?”
__ADS_1
“Cukup, Mas. Jangan bicara apa pun. Aku ingin sendiri. Aku butuh sendiri. Saat ini aku belum bisa mengambil keputusan apa pun. Aku memiliki keluarga besar, dan aku butuh waktu untuk mengambil keputusan sehingga aku bisa menghadapi pendapat mereka mengenai hal ini. tinggalkan aku, Mas.”
Azlan terdiam menatap setiap tetes air mata yang berjatuhan di pipi bening Mekka. “Baiklah, tapi bolehkah aku minta satu hal padamu?”
Mekka hanya menatap Azlan tanpa memberi jawaban.
“Plis, jawab aku. Bolehkah aku minta satu hal saja padamu?” tanya Azlan memohon.
“Katakan!”
“Jangan cintai aku!”
Tetes-tetes air mata Mekka semakin deras. “Tinggalin aku, Mas! Biarkan aku sendiri dulu!”
“Aku siap dengan keputusan apapun darimu. Semoga kamu bisa memutuskan dengan bijak. Maafin aku.” Azlan melangkah mundur kemudian balik badan, ia melenggang keluar.
Tangis Mekka kembali pecah. Ia terduduk di sofa memuaskan tangisnya.
__ADS_1
TBC