
Alexa menempelkan ponsel ke pipi, saat telepon tersambung, ia berkata, “Idris, ke atas sebentar!” Alexa menutup ponsel.
Beberapa detik menunggu, Idris muncul. “Ya, Nona. Ada apa?”
“Paggil seluruh penghuni rumah in! Suruh mereka berkumpul di ruang utama lantai bawah!” titah Alexa.
“Tuan Joan juga ya, Nona?”
“Astaga, nggak termasuk Papa dan Azlan. Selain dari dua nama itu maksudku.”
“Baik, Nona.”
“Mereka semua harus udah berkumpul ketika aku turun ke bawah. Aku sekarang mau mandi.”
“Berapa lama, Nona?”
“Lima menit.”
Idris mengangguk. Dalam hati ia bertanya-tanya, bagaimana bisa Alexa mandi dalam waktu lima menit? Waktu yang sangat singkat.
Alexa memasuki kamar. Azlan yang tengah mengancing lengan kemejanya pun menoleh ke arah Alexa. Menatap wanita yang tengah melenggang. Langkah Alexa terhenti saat tubuhnya dipeluk dari belakang. Alexa meletakkan kepalanya di pundak Azlan hingga membuat dagunya terangkat dan pandangannya terarah ke langit-langit kamar. tangannya menyentuh tangan Azlan yang melingkar di perutnya.
“Kenapa?” tanya Alexa.
“Kenapa kamu keluar kamar dalam keadaan seperti ini?” Azlan mengusap telapak tangannya ke paha Alexa, mengangkat ujung baju yang panjangnya hanya sebatas paha waita itu. “Pemandangan ini hanya untukku bukan? Kenapa kamu tunjukkan kepada orang lain?” Azlan menciumi dagu Alexa.
__ADS_1
Alexa tersentum. “Aku lupa.”
“Aku akan berikan semua pakaianmu yang seksi kepada orang lain. Dan kuminta ini adalah hari terakhirmu memakai pakaian minim. Pakaian tidur yang seksi hanya boleh kamu pakai saat di kamar bersamaku,” bisik Azlan. “Aku akan menghukummu jika ini terjadi lagi.”
“Oke, oke.” Alexa tergelak merasakan jemari Azlan yang menggelitiki pahanya.
“O ya sayang, aku punya satu tugas untukmu.”
“Apa itu?”
“Hari ini kamu nggak usah ke kantor.”
“Lalu?” Alexa menoleh dan mendapati wajah Azlan yang begitu dekat dengan wajahnya.
“Lihat itu!” Azlan menunjuk sebuah buku yang tergeletak di atas nakas.
“Buku untuk kamu baca.”
“Ya ampun Azlan, aku nggak hobi baca buku. Jangan becanda deh. Lebih baik kamu suruh aku shoping atau ngapain gitu, jangan malah baca buku. Bisa stres nanti.”
“Justru buku itu akan membuatmu nggak stres. Percayalah!”
“Halah, ngaco kamu! Ogah.”
“Kamu mau ikut denganku ke suatu tempat nggak? Kalau kamu nggak mau, biar aku pergi dengan wanita lain aja.”
__ADS_1
“Apa?” Mata Alexa melotot.
“Itu kalau kamu nggak mau.”
“Kamu yang rugi kalau ninggalin aku. Kamu nggak mendapatkan harta, jabatan dan semua kemewahan ini.”
“Bukan harta yang menjadi tujuanku. Bahkan aku menikahimu juga bukan karena ingin menikmati kemewahan. Justru di sini tanggung jawbku sangat berat. Aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat yang aku yakin kamu akan sangat senang jika ke sana, kalau kamu mau menuruti tugas yang pertama, maka aku akan ajak kamu ke sana.”
“Ke sana, ke suatu tempat, kamu ngomong nggak jelas. Tempat apa itu? bicara aja yang jelas. Menara Eifel di Paris? Piramida di Mesir? Atau apa?”
“Jangan bertanya, aku nggak akan menjawabnya sebelum kamu menyelesaikan tugas pertamamu. Kamu pasti menginginkannya jika kamu udah tahu tempat itu.”
“Tugas pertama? Jadi ada berapa tugas untukku sampai akhirnya aku bisa ikut denganmu ke tempat yang kamu janjikan itu?”
“Tujuh tugas.”
“Astaga, aku jadi balik kayak mahasiswi lagi.”
Azlan mengulumm senyum.
“Katakan satu hal aja, apa kelebihan tempat itu sampai kamu menjanjikannya untukku?”
“Malaikat pun menginginkannya. Nggak mungkin kamu nggak keblinger kalau tahu tempat itu.”
Alexa semakin penasaran.
__ADS_1
TBC