Suami Sensasional

Suami Sensasional
Dua Ratus Tujuh


__ADS_3

“Mekka!” lirih Yakub melihat Mekka sesenggukan dengan air mata berlinangan.


“Aku ngak nyangka jika ini takdir yang harus dilalui oleh Mas Azlan.”


Yakub mengernyit melihat reaksi Mekka. Apakah ini artinya cinta Mekka terhadap Azlan masih utuh? Apakah Mekka belum bisa melupakan Azlan?


“Mekka, kamu begitu terpukul atas kepergian Azlan?” Yakub ingin menghibur Mekka, namun ia tidak tahu kalimat apa yang pantas untuk diajukan. “Seberapa besar jasa dan kebaikan Azlan padamu, semoga itu akan menjadi amalan baik untuknya, jika itu yang membuatmu merasa sangat kehilangan Azlan.”


“Meski aku udah berpisah dengan Mas Azlan, tapi perasaanku kepadanya nggak berubah.”


Yakub terdiam tidak mengerti. Ini persoalan wanita.


“Aku dulu juga istrinya Mas Azlan. Dan rasa kehilangan ini nggak bisa dipungkiri,” ucap Mekka sesenggukan.


Yakub masih diam.


“Mas Azlan! Aku sangat merasa kehilanganmu. Aku sedih. Semoga kamu mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya.” Mekka memajukan tangannya dan menyentuh tangan yang sudah bersidekap tertutup selimut. Air matanya membanjir, terus menetes dan isak tangisnya pun semakin pilu.


“Mbak, kok nangisin kematian suami saya? Mbak ini siapa?” Tanya seorang wanita yang baru saja masuk kamar menggandeng seorang bocah.


Sontak tangis Mekka terhenti, ia bertukar pandang dengan Yakub.


“Lah, ini ada apa kenapa ada orang-orang tidak dikenal di sini?” Wanita dengan penampilan glamour, tas dipundak, rambut keriting ala salon itu menatap heran ke arah Mekka dan Yakub.

__ADS_1


Tidak mendapat jawaban, wanita itu pun membuka selimut yang menutup muka si mayat. “Wuaaa…. Huaaaa….. Mas Paijo, kok mati secepet ini? Lha wong anak bojomu masih butuh kamu lho ini, jangan tinggalin kami. Huuuwaaaaaa….” Tangis wanita berbadan gemuk itu meledak.


Mekka terpaku melihat wajah mayat yang ternyata bukanlah Azlan. Ia menghapus air matanya malu-malu sambil melirik Yakub. Seharusnya ia tidak perlu membuang air mata sampai sepilu tadi.


“Loh, tadi dokter bilang pasien ini adalah Azlan, kok jadi Paijo?” Yakub bingung.


“Aslan Jan Paijo, ngapa memangnya? Ini bojoku!” hardik wanita gemuk berlipstik menor itu menghentikan tangisnya untuk sejenak membentak Yakub.


“Eh, maaf. Ya sudah, kami permisi. Turut berduka cita, Bu!” Yakub melangkah keluar setelah menganggukkan kepala mengajak Mekka.


Mekka mengikuti Yakub keluar. Hatinya mendadak plong rasanya. Ternyata mayat itu bukanlah mayat Azlan. Syukurlah. Lalu bagaimana kondisi Azlan sekarang?


“Aku ternyata menangisi orang yang salah,” ucap Mekka malu-malu.


“Keluarga Azlan Brilyan Ubaidillah!” panggil suster yang baru saja keluar dari sebuah kamar di ujung koridor.


Yakub yang mendengar panggilan itu pun berlari mendekati suster. “Saya, sus!”


“Silahkan, dokter ingin bicara!” Suster tersebut menunjuk dokter yang baru saja keluar.


“Keluarga Tuan Azlan?” sebut dokter menatap Yakub.


“Ya, dok?”

__ADS_1


“Kami harus segera melakukan tindakan operasi terhadap pasien,” ucap dokter membuat Yakub semakin cemas. Kemudian dokter menjelaskan kondisi Azlan yang sudah banyak kehilangan darah dan lain sebagainya.


Setelah itu suster mengatakan supaya istri pasien bernama Azlan atau siapapun yang bisa bertanggung jawab untuk segera menandatangani segala surat yang berkepentingan dalam tindakan operasi.


Setelah turut mendengar penjelasan dokter, Mekka yang berdiri di jarak kejauhan pun segera menghambur menuju ruang persalinan. Ia kini sudah berada di depan sebuah pintu kamar ruang bersalin, tepat dimana perawat menunjukkan tempat persalinan Alexa.


Dengan membawa sehelai kain bedung, ia melangkah masuk. Hanya satu orang yang diperbolehkan masuk ke ruang persalinan. Azlan tidak ada di sisi Alexa, jadi Mekkalah yang akan mewakili. Bunda Dinda juga belum datang, Mekka sudah menelepon menanyakan keberadaan Bunda Dinda. Dan Bunda Dinda mengaku masih di dalam perjalanan.


Dengan langkah lebar, Mekka mendekati Alexa yang terbaring lemah dengan posisi miring. Wajah Alexa memucat.


Mekka menyentuh tangan Alexa dan berbisik, “Kamu pasti kuat.”


Alexa tersenyum meski pandangannya tidak begitu jelas.


Belum sempat Mekka mengatakan banyak hal sbeagai motivasi, dokter berseru akan membawa Alexa ke ruang caesar. Mekka tidak begitu paham dengan istilah medis meskipun dokter menyebutkan alasan Alexa tidak bisa melahirkan secara normal. Mekka hanya bisa mengikuti bed yang didorong menuju ruang operasi dengan kedua tangannya yang menggenggam tangan Alexa. kata-kata semangat terus dia bisikkan ke telinga Alexa. ia juga mengingatkan Alexa supaya terus menyebut Asma Allah.


BERSAMBUNG


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2