Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Sembilan Puluh Lima


__ADS_3

Seperti detik jam berjalan, kepala Azlan menghitung jarak yang tersisa antara wajahnya dengan wajah Alexa. tiga centi, dua ceti satu centi… dan…. Gerakan kepala Azlan terhenti saat bibirnya hampir menyentuh mulut Alexa, ia menatap telapak tangan Alexa yang menahan dadanya. Kemudian kelopak mata Alexa bergerak terbuka, detik berikutnya tawa wanita itu pecah.


Melihat Alexa tergelak, muka Weni seperti orang bloon. Idris pun tepuk jidat. Dan Azlan… Tidak perlu ditanya seberapa begonya ekspresi wajahnya saat ini. Dia yang sejak tadi mencemaskan Alexa, kini terbengong dan ingin menggunduli istrinya detik itu juga. Untung saja tidak ada gunting rumput atau benda-benda tajam lainnya yang berkeliaran di sekitar sana.


“Alexaaa!” geram Azlan dengan suara rendah seperti ingin menggeletukkan gigi.


Alexa masih tertawa, kemudian ia menepuk pelan pipi Azlan dengan kedua tangannya. “Kamu pikir aku selemah itu? masak sih Cuma jatuh doang bisa langsung pingsan? Ha haaa…”


“Alexa, beraninya kamu mempermainkan emosiku? Apa kamu nggak tahu seberapa gilanya aku saat kamu dalam keadaan nggak sadar tadi? Aku bahkan hampir mati konyol.”


Alexa mengamati ekspresi wajah Azlan yang kecemasannya masih tersisa. Perkataan Azlan tidak main-main, pria itu memang sangat mengkhawatirkannya. “Ya, aku tau, kamu sangat mencintaiku. Oleh sebab itu aku hanya berani ngerjain kamu, soalnya aku nggak yakin orang lain akan bisa mencemaskanku secemas kamu.”


“Jangan lakukan ini lagi padaku. Aku bisa jantungan, Alexa.”


“Iya iya..” Tawa Alexa masih tersisa. Ia meraih caruk leher Azlan dengan kedua tangannya yang melingkar di sana, kemudian menarik kepala pria itu hingga kening keduanya menyatu.


Melihat pemandangan itu, Idris bergegas pergi. Keromantisan Alexa dan Azlan tidak baik untuk dilihat. Akan menjadi buruk jika ia baper dan menginginkan hal yang sama. Calonnya saja belum ada, bagaimana ia bisa mengaplikasikan hal itu?


Weni mengikuti Idris meninggalkan Alexa dan Azlan.

__ADS_1


“Eeh… kamu kok ngintilin aku mulu?” celetuk Idris melihat Weni yang ada di belakagnya.


“Masak sih? Nggak tau nih kaki jalan sendiri main selonong aja.” Weni mencubil manja pahanya.


Idris hanya geleng-geleng kepala saja.


Azlan membangunkan badan Alexa. “Ayo, kita pulang. Kita udah dapat banyak keringat. Bentar lagi panas nih.” Azlan sekilas menatap langit yang cerah.


“Oke, yuk pulang.” Alexa bangkit berdiri. Ia mengernyit melihat Azlan yang malah memposisikan tubuhnya dalam keadaan jongkok di hadapan Alexa. Alexa mengangkat alis menatap Azlan yang menoleh ke arahnya.


“Yuk, kugendong.” Azlan tersenyum. “Belum pernah digendong suamimu dengan posisi begini, kan?”


Alexa balas tersenyum kemudian menjatuhkan dirinya di punggung Azlan dan kedua lengan yang mengalung di leher pria itu.


“Ternyata enak digendong begini,” celetuk Alexa menikmati ayunan langkah kaki Azlan dengan mata yang amsih terpejam. “Tapi kalau usia kandunganku udah bertambah, kamu nggak bisa gendong aku begini lagi, Azlan.”


“Siapa bilang? Aku akan tetap bisa menggendongmu dengan posisi yang sama.”


“Perutku akan membesar dan kamu akan keuslitan melakukannya.”

__ADS_1


“Aku bisa, Lexa.”


“Baiklah, terserah padamu. kita lihat aja nanti.”


“Dalam waktu beberapa hari ke depan, aku masih ingin tetap di sini, Azlan. Kita pulangnya jangan terburu-buru, ya.”


“Tapi kita hanya punya waktu tiga hari, sebab hari keempat ada scedhule kerja yang harus ditangani. Ini nggak bisa dipending, sayang.”


Alexa tidak menjawab lagi.


Azlan membawa Alexa masuk ke vila. Pertama yang dituju oleh Azlan adalah kamar mandi. Ia menurunkan Alexa di lantai kamar mandi. Wanita itu berdiri menyandar di dinding, ia menatap ke atas. Tepat di atasnya tergantung shower yang kemudian memancarkan air sesaat setelah Azlan membukanya. Pria itu tersenyum berdiri di hadapan Alexa dengan satu telapak tangan menyandar di dinding sisi pundak Alexa. tangan lainnya menyentuh pipi Alexa yang diguyur air shower.


Alexa menatap wajah Azlan yang juga basah oleh siraman air shower, rambut pria itu sudah kuyup.


Siraman air shower sudah membasahi sekujur tubuh mereka.


“Kamu tampan saat basah begini,” bisik Alexa.


“Jadi kalau dalam keadaan kering, aku nggak tampan?” balas Azlan sambil menciumi wajah Alexa.

__ADS_1


“Enggak.” Alexa tertawa kecil.


BERSAMBUNG


__ADS_2