Suami Sensasional

Suami Sensasional
Dua Ratus Sembilan


__ADS_3

Setelah urusan di ruang operasi selesai, Alexa dibawa ke ruang pemulihan. Rasanya seperti mati rasa mulai dari bawah dada sampai ujung kaki, semuanya kebas dan tidak berasa. Namun saat malam tiba, sakitnya mulai terasa. Bius sudah habis, mendadak badan menggigil luar biasa padahal sudah dikasih selimut uap panas dan segala rupa, tapi badan tetap gemetaran, kedinginan. Belum lagi selama beberapa jam tidak boleh angkat kepala sama sekali, kemudian dua puluh empat jam tidak boleh bangun dari tempat tidur.


Alexa mengaku merasakan nyeri yang luar biasa. Sebab luka dan jaringan kulit yang disayat memerlukan pemulihan. Namun dokter mengatakan setelah masa nifas yang berlangsung sekitar empat puluh hari, biasanya kondisinya akan semakin membaik.


Bayi Alexa kini berada di dalam inkubator.


Mekka beberapa kali menelepon bunda Dinda, kenapa belum sampai juga di rumah sakit. Dan bunda Dinda mengaku kalau taksi yang beliau naiki mengalami ban pecah, sehingga ia harus mencari taksi lain.


Selama itu, Mekka benar-benar ekstra memberi bantuan pada Alexa. Ia juga menunggui Alexa dengan sabar. Memberikan apa saja yang dibutuhkan Alexa.


Saking sibuknya Mekka mengurusi Alexa, Mekka sampai tidak merespon telepon dari Yakub yang memanggilnya beberapa kali via telepon. Mekka baru menjawab telepon dari Yakub setelah telepon yang kelima. Itu pun ia keluar kamar Alexa supaya suaranya tidak mengganggu Alexa.


“Ya, Mas? Bagaimana di situ? Kondisi Azlan maksudku?” Tanya Mekka.


“Dokter masih belum keluar dari ruang operasi. Doakan untuk Azlan.”


“Pasti.”


“Perawat tadi keluar dan memberitahukan kalau kemungkinan operasi berhasil sangat tipis. Entahlah. Aku hanya berharap yang terbaik untuk Azlan.”


“Ya Allah…” Mekka merasa lemas mendengarnya.

__ADS_1


“Bagaimana dengan Budna dinda, apa beliau udah sampai di situ?”


“Belum. Nggak masalah soal itu, semoga Bunda baik-baik aja dan segera sampai ke sini. Alexa masih dalam proses pemulihan.”


“Oke. Kututup teleponnya.”


Sambungan telepon terputus. Mekka kembali ke kamar Alexa. Ditatapnya wajah Alexa yang memucat. Mekka pun kembali duduk di sisi Alexa.


Ada beberapa hal yang menyebabkan Alexa tidak bisa melahirkan bayinya secara normal. Pertama, saat dilakukan USG, ternyata air ketuban hanya tinggal bersisa sedikit di dalam. Kedua, Leher rahim Alexa ternyata belum bisa mendukung untuk menjalani persalinan normal. Kalau pun mau tetap normal, maka akan ada faktor resiko pendarahan hebat pada ibunya dan membahayakan nyawa bayi.


“Mekka, terima kasih!” ucap Alexa yang masih berbaring di bed, menatap Mekka yang begitu tulus mengurusinya.


“Jangan berkata jika hanya mengucapkan kata terima kasih. Aku justru merasa bahagia bisa ada di dini menemanimu, aku bahkan bisa melihat anak-anakmu yang lucu-lucu itu. Mereka bayi yang luar biasa, mereka adalah anugerah.” Mekka meletakkan piring ke meja samping bed. Ditatapnya wajah Alexa yang masih memucat.


“Jangan pikirkan Azlan, ada Yakub yang menjaganya. Kamu harus pulih lebih dulu. Dua bayimu membutuhkanmu. Depresi dalam pikiranmu berpengaruh besar dengan ASI-mu. Kasihan bayimu. Lihatlah, ASI-mu belum keluar sampai sekarang.”


“Bawalah aku kepada Azlan! Aku mohon!”


“Enggak, Lexa!” Mekka menahan tubuh Alexa yang hendak bangun. “Jangan bergerak dulu! Kamu ingat pesan dokter kan, kamu belum boleh bangun dari ranjang ini selama dua puluh empat jam.”


“Tapi aku sangat ingin tahu kondisi Azlan.”

__ADS_1


“Aku juga belum tahu bagaimana kondisi Azlan saat ini. Tapi percayalah, Azlan sudah ada yang menunggu. Apapun yang terjadi dengan Azlan pasti sudah menjadi kehendak yang maha kuasa. Apa pun itu, jangan terlalu memikirkan itu. pikirkan juga bayimu.”


“Ini sulit, Mekka.” Tangis Alexa pecah. “Terakhir kali aku melihat Azlan nggak sadarkan diri. Ada banyak darah yang keluar dari tubuh dan kepalanya. Apakah dia akan selamat?”


“Alexa.” Mekka meraih lengan Alexa dan memeluknya. “Kamu hanya perlu mendoakan yang baik-baik untuk Azlan, jangan berpikir banyak hal. Sudah cukup, jangan lagi memikirkan itu, bayimu sangat membutuhkanmu. Fokuslah pada bayi-bayimu. Azlan sudah dijaga, bahkan Tuhan pun menjaganya dengan baik. Takdir nggak ada berubah, kita hanya perlu menjalaninya.”


Alexa memejamkan mata, membiarkan air matanya berderaian.


Mekka bangkit berdiri dari kursinya ketika ponselnya berdering dengan irama bervolume kecil. Ia melangkah keluar dan menjawab telepon yang datangnya dari bunda Dinda.


“Assalamu’alaikum, Bunda!” Mekka menjawab. “Bunda dimana? Kenapa belum sampai juga? Bunda baik-baik aja, kan? Aku sekarang menunggui Alexa.”


“Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah baik. Bunda baru aja nyampe rumah sakit. Ini sedang menuju ke tempat Azlan di operasi. Tolong kamu jagain Alexa, ya. Bunda harus melihat kondisi Azlan.”


“Iya, Bunda,” jawab Mekka. Betapa Mekka merasa sedih, di saat begini, Alexa tidak ditunggui oleh orang-orang terdekatnya karena keadaan memang tidak memungkinkan. Perhatian setiap orang terbagi-bagi, dan Mekka merasa harus siaga di sisi Alexa.


Baginya, kepedulian terhadap muslim yang lain menjadi cermin iman seseorang.


BERSAMBUNG


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2