
Rumah sederhana yang terletak tak jauh dari perempatan jalan kampung tampak dilanda kesibukan yang luar biasa. Beberapa orang memasak di dapur untuk menyambut kedatangan Azlan.
Dinda, bundanya Azlan membantu putranya itu turun dari mobil dengan cara memegangi kedua lengannya. Kemudian Dinda menyerahkan beberapa lembar uang yang baru saja dia ambil dari dompet kepada supir mobil yang menjemputnya dari rumah sakit. Setelah itu mobil melesat pergi.
Dinda membimbing Azlan memasuki rumah. Rara, adik paling besar membawa tas. Lala, adik kedua mengikuti di belakang.
__ADS_1
Beberapa orang tetangga yang bertugas memasak di dapur sudah menyelesaikan pekerjaan dan hasil masakan sudah tersaji di meja makan.
Azlan mengedarkan pandangan sesaat setelah memasuki rumah. Ia melihat Sasa, adik bungsunya terbaring di sofa, gadis kecil berusia tiga belas tahun itu langsung bangkit bangun dan berlari menyambut kakak tertuanya. Ia memeluk pria itu dan menggelayut di lengannya.
“Mas, Sasha kangen sama Mas Azlan. Mas lama banget di rumah sakitnya,” celetuk Sasha.
__ADS_1
Ini adalah hari pertama Azlan pulang ke rumah setelah satu bulan yang lalu ia meninggalkan Jakarta untuk tujuan menjalankan proyek di Riau, namun kemudian ia justru putar haluan mobil, yang seharusnya tujuan ke bandara, mobil putar haluan menuju ke kampung setelah mendengar kabar buruk tentang bundanya. Ditengah rasa cemas akan kondisi sang bunda, mobilnya terguling sesaat setelah menghantam mobil lawan yang melaju kencang hingga di jalan sempit menuju perkampungan itu, Azlan terpaksa harus banting stir ke kiri. Bukan hanya karena terkejut saja mobilnya bisa sampai mengalami kecelakaan, namun juga akibat konsentrasinya yang pecah dan pikirannya tidak stabil saat menyetir.
Ketika itu, mobilnya terbalik dan terseret sampai sepuluh meter kemudian berhenti saat menabrak pohon. Tubuhnya terantuk-antuk benda-benda di dalam mobil, kepalanya entah berapa kali kejeduk dashboard dan atap mobil. Dalam keadaan sadar, ia merasakan darah segar mengalir di pelipisnya. Dan saat dalam posisi terbalik, Azlan hanya mengingat satu hal, kematian. Ia seperti akan mati saat itu juga, maut seperti sudah berada di depan mata. Hati kecilnya berkata, seandainya Tuha mencabut nyawanya saat itu juga, maka ia memohon agar Tuhan menerima taubatnya. Tangannya menggapai ke atas, meminta pertolongan entah kepada siapa. Bisikan syahadat terucap di lidahnya. Namun ia tidak melihat siapapun yang melintas hingga sampai pandangannya kabur dan gelap.
Dua bulan lebih, Azlan dirawat di rumah sakit akibat mengalami masa kritis. Ia koma selama satu bulan lebih. Bunda Dinda yang saat peristiwa kecelakaan itu terjadi, sadar dari pingsan setelah mengalami pusing yang sangat berat. Ia dan Lala langsung menuju ke rumah sakit tempat Azlan dilarikan setelah kecelakaan. Sementara bungsunya ditinggal di rumah karena kondisi si bungsu yang memang tidak sehat tidak memungkinnya untuk bepergian, dan Rara-lah yang menunggu Shasa di rumah.
__ADS_1
Setelah sadar dari koma yang panjang dan menjalani perawatan di rumah sakit, Azlan pun kini sudah diperbolehkan pulang.
TBC