Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Tiga Puluh Lima


__ADS_3

“Halo, putri kesayanganku. Apa kamu mau sarapan?” Atika tersenyum lebar, gaya bicaranya terdengar seperti sedang meledek. Bagaimana mungkin dia memanggil putri kesayangan sementara Alexa adalah satu-satunya orang yang tidak dia sukai?


Alexa tidak menjawab, ia hanya mengangkat alis dengan tatapan tajam ke arah Atika.


“Kemarilah, kita bisa makan bareng. Aku udah menunggumu sejak tadi. Kapan lagi kita bisa makan bersama kalau nggak dimulai dari sekarang. Ayo, kemarilah!” Atika melambaikan tangan. Lagi-lagi bibirnya memperlihatkan senyum lebar.


“Nikmatilah sarapanmu! Lidahmu dulu nggak pernah mencicipi nikmatnya roti keju, sandwich dan sejenisnya bukan? Sekaranglah saatnya, jangan sia-siakan!” Alexa menatap sinis.


“Aduuh… Hatiku rasanya sakit mendnegar kata-katamu, Alexa.” Atika sok memegang dadanya dengan gaya lebai, kayak sedang main sinetron saja. Cih.. “Sayang, lihatlah putrimu bilang begitu. Aku kan jadi nggak nyaman kalau begini, padahal aku sudah berniat ingin tinggal di sini bersamamu, sayang.” Atika menggelayut manja di pundak Joan.

__ADS_1


Joan menghentikan gerakan makannya. Manik matanya bergerak menatap Alexa yang masih terlihat sinis.


“Alexa, Atika sekarang adalah mamamu, Papa minta bersikaplah selayaknya anak pada ibu.” Joan berbicara tegas.


Alexa malas menjawab ucapan papanya. Sekarang bahkan ia seperti anak yatim yang kekurangan kasih sayang. Ia berpikir, lebih baik menjadi anak yatim yang jelas-jelas tidak memiliki kedua orang tua hingga merasa kekurangan kasih sayang orang tua, dari pada masih memiliki orang tua tapi berasa yatim piatu. Oh my God, ampuni Alexa yang berpikiran demikian.


Alexa muak sekali melihat tingkah wanita yang usainya hanya terpaut dua tahun di atasnya itu, yang dengan ringannya mengusap-usap lengan Joan di hadapan Alexa. Seakan-akan wanita itu ingin menunjukkan kalau Joan sudah dia kuasai. Dan memang benar, Joan sudah berada dalam genggaman wanita itu. Lihatlah, apa saja yang diminta oleh Atika dituruti.


Alexa menyilangkan tangan di dada tanpa memberi jawaban.

__ADS_1


“Atau, kalau kamu nggak mau bicara langsung padaku, bicaralah pada papamu, biar papamu yang sampaikan padaku. Katakan apa kesalahanku, apa yang emmbuatmu membenciku,” sambung Atika.


“Ya, biar aku bicara pada papaku,” sahut Alexa akhirnya. “Pa, katakan pada istri barumu, aku muak padanya. Nggak akan cukup waktuku untuk mengatakan semua kesalahannya. Dia hadir di kehidupanku aja udah salah. Dan sampai kapanpun aku nggak akan menerimanya.” Alexa kemudian balik badan dan melenggang pergi. Ia tidak perduli dengan seruan Atika yang memanggil-manggil namanya, juga memohon dengan manja pada Joan supaya mendidik mulut Alexa lebih sopan terhadapnya.


Dengan langkah lebar, Alexa berjalan menuju keluar. Mukanya memerah menahan amarah. Andai saja tadi di depannya ada gelas, termos, kuali atau sendok, tentu saja Atika sudah dilempar dengan salah satu diantara barang-barang itu. Tapi sayangnya hanya ada benda-benda berat di sekelilingnya yang tidak akan mungkin ia kuat untuk mengangkat dan melemparkannya.


Bagaimana bisa Atika meminta untuk tinggal di rumah itu sementara dia sudah dibelikan rumah elit di luar kota? Apa sebenarnya yang diinginkan wanita itu? Setelah perhatian Joan, harta, bahkan salah satu perusahaan cabang sudah dikuasai oleh Atika, sekarang wanita itu muncul dan mengatakan akan tinggal di rumah itu. Cih… Alexa tidak akan sudi menerimanya. Apa jadinya jika mereka hidup satu atap? Yang ada pecah perang besar-besaran setiap hari. Hanya dengan melihat muka Atika saja rasanya Alexa ingin muntah, bagaimana ia bisa berdamai dengan wanita itu? Ya ampun… Inilah yang dulunya membuat Alexa merasa tertekan, kesal, marah dan ingin melepas beban dengan obat.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2