Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Sembilan Puluh Delapan


__ADS_3

Azlan mengambil jilbab di tangan Alexa, lalu memasangkan jilbab tersebut dan mengancingnya dengan sebuah bros yang ia dapatkan dari plastik asal, sengaja Azlan membeli jilbab lengkap dengan brosnya supaya Alexa tidak kebingungan saat akan mengenakannya. Dengan sekali lilit, Azlan telah berhasil memasang jilbab ke kepala Alexa. kebetulan Alexa memakai celana panjang dipadu baju dengan lengan tiga perempat. Jika saja saat itu Alexa memakai celana sepanjang betis dan baju berlengan pendek, tentu akan lucu jika Azlan mencoba untuk memasang jilbab di kepala Alexa.


“Perfect. Kamu cantik banget,” puji Azlan sambil mengacungkan jempol.


“Ya udah, kita foto lagi.” Alexa kembali mengambil ponsel lalu pasang aksi dengan berbagai gaya. “Ini akan kuunggah di lain waktu aja. Sebab aku baru aja mengunggak foto.” Alexa menyimpan ponselnya ke tas.


Azlan tidak pernah protes dengan kebiasaan dan kesenangan istrinya. Ia tidak mau membuat Alexa merasa sakit hati atau pun sekedar tidak nyaman atas protesannya tersebut. Selama kesenangan tersebut tidak keluar dari jalur yang benar, bagi Azlan tidak masalah.


Alexa dan Azlan memasuki rumah. Mereka bertemu Pak Joan saat melintasi ruangan depan.


“Azlan, Alexa, kebetulan kalian pulang. Aku ingin bicara pada kalian,” ucap Pak Joan dengan manik mata yang bergerak menatap Alexa dan Azlan silih berganti.


Alexa dan Azlan bertukar pandang. Kemudian Azlan mengangguk, mengajak Alexa duduk di sofa, depan Pak Joan yang sudah lebih dulu duduk di sana.


“Ada apa, Pa?” Tanya Alexa.


Pak Joan menghela nafas dan terbatuk kecil. Lalu ia berkata, “Azlan, Alexa adalah anak semata wayangku. Dan sebentar lagi dia akan memberikan cucu untukku, maka kau harus menjaganya baik-baik. Sebentar lagi aku akan ke luar negeri untuk sebuah urusan keluarga, dan aku percayakan Alexa padamu. Jaga putriku baik-baik.”

__ADS_1


“Tentu. Aku akan menjaganya dengan baik,” jawab Azlan.


“Selama ini aku terlalu sibuk dnegan para wanita, dan saat aku melihat perut Alexa membesar, aku sadar kalau aku akan memiliki cucu, aku sudah tidak muda lagi. Waktu seperti telah memberi kabar kepadaku kalau aku tidak boleh bermain dengan umur. Sebab usia tidak bisa diprediksi. Dan bisa saja besok, lusa atau kapan pun maut menjemput. Beberapa hari terakhir, aku terbayang almarhum istriku. Aku juga sering memimpikannya. Entahlah apa maknanya, tapi aku jadi banyak merenung setelahnya. Yaaa… Mungkin aku harus beralih dari jalanku sekarang. Setelah berpisah dengan Atika, aku tidak akan mencari penggantinya. Sudah cukup semua yang kujalani.”


Azlan tersenyum senang mendengar kalimat yang diucapkan mertuanya. “Apa yang papa katakan itu benar. Usia tidak ada yang bisa memprediksi. Kita hanya bertugas mengumpulkan kebaikan sebanyak-banyaknya.”


“Inilah sebabnya aku akan pergi ke luar negeri menemui saudara-saudara istriku. Mungkin dengan memperpanjang silaturahmi, aku akan merasa lebih nyaman,” sahut Pak Joan.


Sungguh tidak disangka, cara Pak Joan berbicara dan kalimat yang dia ucapkan jauh berbeda. Seakan-akan pria yang sedang berbicara dengan Azlan bukanlah pak Joan. Inilah sisi lain dari pak Joan yang belum dikenali. Seburuk-buruknya manusia, pasti ada sisi baiknya.


“Good. Aku sayang Papa.” Alexa pindah posisi duduk dan melingkarkan lengannya ke leher Pak Joan dari arah samping. Kepalanya menyandar di pundak papaya itu.


“Aku terharu.” Alexa tersenyum.


“Besok aku akan pergi ke luar negeri, kau harus menjaga kandunganmu dengan baik. Prediksi kelahiran tidak lama lagi. Aku juga akan usahakan secepatnya pulang.”


“Iya iya. Ah, kenapa hanya akan pergi saja rasanya seperti akan berpisah lama.” Alexa membenamkan wajahnya di lengan Pak Joan. Baru kali ini ia merasakan kepedulian papanya, tentu hal itu menjadi momen tersendiri baginya. Hatinya terasa basah karenanya.

__ADS_1


“Masih saja seperti anak kecil. Kau sudah bersuami,” celetuk pak Joan membuat Alexa bersungut. Pandangan Pak Joan beralih ke wajah Azlan. “Azlan, kabari aku saat cucuku lahir.”


“Tentu,” jawab Azlan. “Apa perlu kuantar ke bandara besok?”


“Tidak perlu. Alexa lebih membutuhkanmu. Aku terbiasa pergi sendiri,” jawab Pak Joan.


“Bukankah papa bilang akan cepat pulang? Lalu kenapa minta dikabari saat bayiku lahir?” Alexa melepas rangkulannya dan menatap papanya lekat.


“Tidak ada yang tahu kapan proses persalinan itu berlangsung. Prediksi bisa saja meleset,” jawab Pak Joan membalas tatapan Alexa lekat.


“Huh… Padahal aku ingin melahirkan bayiku dengan ditunggui suami dan papaku.”


Pak Joan menghela nafas. “Akan kuusahakan cepat kembali untukmu. Lalu bagaimana hasil USG-nya? Apa jenis kelamin anakmu?”


“Laki-laki dan perempuan,” jelas Alexa girang.


Pak Joan membelalak. “Kembar?”

__ADS_1


Alexa mengangguk mantap dengan senyum lebar.


BERSAMBUNG


__ADS_2