
Hari ini adalah hari ke tujuh untuk Alexa menjalankan tugasnya ‘tidak boleh marah’. Semua tugas yang Azlan berikan kepada Alexa juga berlaku untuk diri Azlan. Pria itu memerintah Alexa untuk membaca buku yang disana tertulis dalil dan hadits tentang tugas dan tanggung jawab suami istri, dan Azlan sendiri sudah lebih dulu membacanya.
Berikutnya, Azlan meminta supaya Alexa tidak suka marah-marah, dan keseharian Azlan sendiri memang tidak pernah marah.
Alexa terlihat lebih kalem dengan sikapnya selama tujuah hari belakangan. Dia tidak pernah marah. Meski sebenarnya dia sedang kesal, namun ia berusaha menahan kekesalannya itu. Dan ajaibnya, setelah hampir tujuh hari dipaksa untuk menjadi wanita kalem, dia merasa lebih tenang karena tanpa kemarahan.
Di kantor, dia tidak pernah marah pada bawahannya meski pekerjaan bawahannya tidak beres. Dia hanya akan menegur baik-baik dan meminta revisi saja.
Menjauhi emosi ternyata dampaknya sangat baik, buktinya Alexa merasa hidupnya lebih nyaman dan damai, batinnya segar seperti disiram salju karena bwaannya adem terus. Hanya satu minggu saja proses ujian yang dia jalani, tapi efeknya sangat cepat dia rasakan.
Dia kini juga tidak lagi menahan emosi setiap kali melihat kesalahan orang lain, sebab emosi di dalam dirinya seperti tersapu dan tidak muncul meski mendapati kesalahan orang lain.
Alexa menarik kursi dan duduk di sisi Azlan yang saat itu tengah berada di meja makan.
“Hai, cantik sekali mala mini!” puji Azlan menatap Alexa yang terlihat santai mengenakan pakaian tidur.
__ADS_1
“Basi! Dari dulu juga cantik,” Alexa mengibaskan rambutnya ke belakang. Ia menelentangkan piring yang menelungkup di meja dan mengambil makanan kesukaannya.
Azlan terkekeh.
“Sebenernya aku tadi mau ngajakin kamu ke restoran makan malam.” Alexa melirik piring Azlan yang isinya sudah habis separuh. “Tapi kamunya udah makan duluan.”
“Kenapa nggak bilang sejak sore? Kalau tahu kan aku bisa atur jadwal untuk nggak makan di rumah malem ini. Tadi siang aku makan di luar bersama klien dari luar kota sekitar jam sebelas, jadi jam segini aku udah laper. Aku tadi mau ngajakin kamu makan, tapi kamunya lagi mandi, jadi kutinggalin aja.”
“No problem. Aku hanya kangen makan berduaan sama kamu di restoran.” Alexa mulai mengunyah makanannya.
Keduanya menyantap hidangan tanpa obrolan. Azlan sudah selesai makan namun masih duduk di sisi Alexa. Dia akan menunggu istrinya itu sampai selesai makan.
“Belum berakhir, sayang. Masih ada waktu lima jam ke depan.”
“Iya, aku tahu. Bagaimana, apa aku berhasil?”
__ADS_1
“Ya. Berhasil. Kamu luar biasa.” Azlan salut pada keteguhan Alexa, yang begitu gigih dengan tekad dan niatnya. Istrinya itu terlihat jauh lebih sempurna dengan sikapnya sekarang yang tanpa kemarahan.
Alexa dan Azlan yang sedang cekikikan pun menghentikan tawa saat kursi lain di meja itu ditarik oleh seseorang.
Atika duduk di kursi, Joan menyusul duduk di sisi istrinya. Mereka mulai menyiduk makanan masing-masing.
“Alexa, bagaimana hari ini?” Tanya Joan sambil memilih lauk.
“Baik,” jawab Alexa.
“Pekerjaanmu?”
“Nggak ada masalah. Tenang aja Pa, ada Azlan. Dia suami yang handal. Kantor pun dihandle dengan baik olehnya.”
“Aku tahu Azlan adalah menantu yang baik. Dia tampan, soleh, dan taat. Benar begitu kan ya, sayang?” Atika menyahuti sambil melirik suaminya.
__ADS_1
Joan mengangguk singkat sambil menyamtap hidangannya.
TBC