Suami Sensasional

Suami Sensasional
Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

Azlan mengguyur tubuhnya di bawah siraman air shower. Matanya terpejam dengan dahi bertaut. Ia ingat bagaimana wajahnya dan wajah Alexa berada sangat dekat sekali. Jarak mereka terkikis habis dan kenikmatan itu benar-benar telah ia rasakan. Namun entah kenapa memori ingatannya seperti hilang sebagian hingga ia tidak bisa mengingat apa saja yang dia lakukan dengan Alexa saat itu. Di awal-awalnya, Azlan ingat betul bagaimana mereka melakukan agedan panas, namun hingga pertengahan dan akhir, Azlan lupa karena kepalanya terasa sangat berat. Ia terbangun dengan sekujur tubuh dalam keadaan berkeringat, kondisi sprei yang berantakan, bajunya berserakan di lantai, dan Alexa sudah tidak ada di sana.


Ya Tuhan…


Apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Alexa. apakah mereka sudah melakukannya?


Azlan menyesali kejadian itu. Sungguh, ia mengakui imannya benar-benar lemah setiap kali dihadapkan pada urusan wanita. Dia sangat ingin membenahi diri, namun cobaan itu datang begitu saja tanpa ia bisa menahan diri.


Mungkin semua itu terjadi akibat dari minuman yang diberikan oleh Kikan. Gadis itu seperti menginginkan dirinya sampai-sampai dia memberikan sesuatu pada minuman yang diberikan.


Azlan ingat Alexa pernah bilang kalau dia masih perawan. Cepat-cepat Azlan menyelesaikan mandinya, kemudian keluar untuk segera mengecek alas kasur. Ia terkejut melihat kasurnya sudah berubah rapi, alas kasur sudah diganti. Ya ampun, artinya asisten rumah tangga sudah membersihkan kamarnya. Bagaimana jika asisten rumah tangga melihat noda atau apapun itu di alas kasur? Azlan mengusap rambutnya yang basah. Kemudian ia menoleh saat mendengar suara pintu dibuka.


“Eh, maaf Mas Azlan, saya Cuma mau narok kopi ini ke kamar mas Azlan.” Muka Weni memerah melihat Azlan yang hanya mengenakan lilitan handuk di pinggangnya.

__ADS_1


“Ya, tarok aja di meja.” Azlan menuju ke lemari mengambil pakaiannya. Ia menoleh ke arah Weni yang masih diam mematung di dekat meja tempat ia meletakkan segelas kopi. “Apa ada lagi yang kamu tunggu?”


“Eh.. Emm… enggak.” Weni malu-malu kemudian melenggang menuju pintu. Ia sampai terpana menatap tubuh Azlan yang tanpa lapisan.


“Tunggu, Wen!”


“Ya, mas? Ada apa?” Weni menghentikan langkah kakinya dan menoleh. Mukanya cerah berbinar mendengar namanya disebut oleh Azlan. Panggilan Azlan seperti suara Adzan yang memanggil hati orang-orang beriman hingga yang dipanggil merasa gembira mendapat panggilan itu.


“Kamu udah beresin kamarku?” tanya Azlan.


Azlan ingin melihat apakah ada noda di sprei itu, namun mustahil ia menanyakan hal itu pada Weni.


“Apa kamu menemukan sesuatu di atas ranjangku?” Azlan sengaja memancing pembicaraan. Barang kali Weni akan mengatakan kalau dia menemukan noda di sprei.

__ADS_1


“Menemukan apa?”


“Jam tanganku.” Terpaksa Azlan berbohong, padahal berbohong tidak pernah ada di daftar kamus hidupnya.


“Ooh… enggak. Aku nggak menemukan apa-apa saat aku bersihin kamarmu, Mas. Hanya saja….” Kata-kata Weni terputus.


“Hanya saja apa?” sergah Azlan cepat. Mungkin Weni akan mengatakan kalau dia menemukan bercak darah atau apa pun itu di sprei yang dia bereskan.


“Kamar Mas Azlan tumben kok berantakan banget?”


“Oh… Nggak apa-apa.” Azlan tidak mau menjawab pertanyaan Weni. “Ya sudah, pergilah.”


Weni mengangguk kemudian menutup pintu.

__ADS_1


Jika mendengar kata-kata Weni, kelihatannya Weni tidak menemukan noda di sprei, tapi bagaimana jika Weni tidak begitu memperhatikan kondisi sprei yang dia ambil?


***


__ADS_2