
“Kamu dateng tepat waktu,” ucap Alexa menatap Azlan lega.
Azlan sekilas melirik Alexa kemudian pandangannya kini terarah ke dua preman itu. “Siapa kalian?”
Dua pria itu saling pandang. Kemudian salah satunya berkata, “Justru kami yang bertanya, kau siapa kenapa mengganggu kami?”
“Aku…”
“Kau bukan siapa-siapa gadis itu lalu kenapa berani mengurusinya?” potong si pria sangar.
“Aku suaminya,” hardik Azlan tegas.
Alexa tersentak mendengar jawaban Azlan.
Sontak dua preman itu kembali saling pandang, ekspresi keduanya berubah sedikit rileks. Keduanya menatap Azlan dengan mata menyipit. Azlan memasang ekspresi garang, dengan sorot mata tajam, rahang mengeras, dan dagu diangkat.
“Jangan berbohong, kau mengakui wanita itu istrimu tapi kenyataannya tidak,” sergah si preman.
“Apa perlu kucium wanita ini di hadapan kalian? Tentu saja istriku nggak akan menolak, ini bukan istri KW,” balas Azlan.
__ADS_1
Dua preman kembali bertukar pandang, kemudian mereka melenggang pergi.
“Ck ck ck…” Alexa geleng-geleng kepala sembari menatap wajah Azlan dengan seulas senyum. “Aku masih nggak percaya, kamu bisa bilang kayak tadi. Kamu yakin akan menciumku di depan dua manusia gil tadi?”
“Cara itu membuat mereka dengan mudah ngelepasin kamu bukan?”
“Ya ya, aku ngerti.” Alexa mengangguk-angguk.
“Kamu tahu kenapa mereka terlihat segan mengganggumu saat aku mengatakan kalau aku adalah suamimu?”
Alexa menggeleng. “Kenapa?”
Alexa tersenyum. Suaminya itu memang luar biasa.
“Seenggaknya kamu bisa ambil kesimpulan dari kejadian tadi,” lanjut Azlan.
“Beri tahu aku kesimpulan apa yang bisa kuambil.”
“Hijab akan membuatmu terhindar dari gangguan lelaki mata keranjang seperti mereka tadi.”
__ADS_1
“Hijab?” Alexa terperangah. Selama ini ia hidup ditengah kehidupan kelas elit yang tidak pernah mengenal hijab, dan sekarang Azlan membahas hijab.
“Seenggaknya menggunakan pakaian terhormat,” lanjut Azlan.
Alexa menundukkan pandangan dan menatap pakaian yang dia kenakan saat itu. Kemeja tanpa lengan, rok sepan di bawah lutut.
“Apa ada yang salah dengan penampilanku? Azlan plis, aku udah afkirkan semua pakaian yang katamu terbuka. Dan sekarang aku juga udah pakai baju yang lebih sopan, jangan ngejudge aku lagi.” Alexa tampak kesal.
“Ini..” Azlan menempelkan jari telunjuknya ke lengan Alexa kemudian menariknya ke bawah seperti sedang menggaris. “Hanya untukku bukan? Jangan perlihatkan pada orang lain. Menurutmu penampilanmu udah sopan, tapi enggak bagi yang melihat. Kamu tahu, aku bahkan saat ini sedang menahan keinginan gara-gara melihat lengan halusmu, juga dadamu akibat baju bagian dada yang ketat. Satu lagi, betismu. Kamu tahu kalau dirimu itu sangat indah, nggak ada laki-laki yang nggak terpesona padamu. Nggak selamanya aku berada di sampingmu, dan nggak selamanya aku bisa ngejagain kamu. Kuminta jagalah dirimu dengan menjaga penampilan.”
Alexa terdiam mendengar suara lembut Azlan. Sebenarnya ia ingin membantah, ia ingin membela diri, kenapa ia selalu salah di mata Azlan, namun entah kenapa cara Azlan berbicara dan kelembutan pria itu membuat Alexa lumpuh dan tak kuasa membantah.
“Kamu mau mengubahnya untukku kan?” Tanya Azlan. Awalnya Azlan meminta Alexa untuk mengubah diri demi dirinya. Namun seiring berjalannya waktu, Azlan akan meminta Alexa untuk mengubah diri demi Yang Maha Kuasa.
Rintik hujan mengenai hidung mungil Alexa dan gadis itu mengusapnya dengan punggung tangan.
“Hari mau hujan, ayo ke mobil. Bahaya bisa aja mengancammu lagi kalau kamu sendirian di sini.” Azlan menatap mobilnya yang terparkir agak jauh.
Mereka baru saja berjalan beberapa langkah, namun hujan yang terbawa angin mendadak turun sangat deras seperti mengejar mereka. Azlan tanpa sadar mengikuti Alexa yang menarik lengannya berteduh di bawah atap mall. Saat itu sekeliling mall memang sedang sepi.
__ADS_1
TBC