Suami Sensasional

Suami Sensasional
Dua Ratus Tiga


__ADS_3

Azlan meringis menahan dorongan kuat di punggungnya yang semakin lama semakin menghimpit tubuhnya, hingga ruangan terasa semakin menyempit. Dengan keringat dingin dan tubuh yang gemetar, Azlan tetap menahan tubuhnya supaya himpitan dari arah depan tidak mengenai Alexa, sebisa mungkin Azlan memberi jarak antara perutnya dan perut Alexa, supaya perutnya tidak menghimpit perut istrinya.


“Azlan! Azlan, bagaimana ini?” Alexa juga memeluk pria itu.


Azlan tidak menjawab. Punggungnya sudah sangat sakit dan kepalanya juga mengeluarkan cairan berwarna merah sesaat setelah tadi terbentur sisi mobil.


Alexa memejamkan mata saat mobil masih bergerak sebelum akhirnya berhenti dalam kondisi memprihatinkan.


Alexa kembali membuka matanya. Seperti dalam keadaan setengah tak sadar, ia mengamati sekeliling. Sepi. Tidak ada siapa pun di luar mobil. hanya ada truk yang ketinggiannya melebihi ketinggian mobil yang dia naiki. Supir truk menghilang entah kemana. Jalanan pun sepi, tidak ada orang melintas. Alexa menarik nafas dalam-dalam, berusaha menyadarkan diri kalau dirinya masih bernyawa. Dan benar, dia memang masih hidup. Nafasnya masih terus berjalan. Lalu kenapa situasi di sekeliling sangat sunyi?


Alexa bahkan sadar sepenuhnya baru saja nyawanya terancam setelah mobil yang dinaikinya tersambar truk. Tragedi mengerikan seperti hampir menarik nyawanya saat itu juga. Namun faktanya, dia merasa kalau tubuhnya baik-baik saja. Tidak ada luka, tidak ada rasa sakit parah akibat proses tabrakan itu. hanya rasa ngilu di pinggang dan pahanya yang tertekan oleh tubuh Azlan dari arah depan.


Eh tapi tunggu dulu, rasa ngilu di pinggangnya bukanlah efek dari proses tabrakan, namun karena ia akan menjalani proses persalinan. Ya Tuhan, bahkan Alexa sampai hampir lupa jika dirinya berada di ambang persalinan.

__ADS_1


Leo di bagian kemudi sudah dalam keadaan menelungkup tak sadarkan diri, ceceran darah berserakan di tubuh pria itu. Kaca depan mobil hancur.


Pandangan Alexa tertuju ke sosok pria dalam pelukannya. Pria yang sudah lemas dan seperti tak bertenaga itu dalam keadaan terpejam, tak lain Azlan.


“Azlan, bangun! Bangun, sayang! Buka matamu!” Air mata Alexa menganak sungai, jatuh berguguran membasahi wajah Azlan di bawah wajahnya. “Azlan, jangan pejamkan matamu. Aku membutruhkanmu, sayang. Sebentar lagi anak kita lahir, apa kamu nggak mau melihat bayi kita? Buka matamu, sayang!” bahu Alexa bergetar menahan tangis yang pecah membahana.


Alexa kemudian membelalak saat melihat kelopak mata Azlan sedikit bergerak, lalu terbuka.


“Sa… sayang!” lirih Azlan terbata, menahan sakit yang menghunjam di tubuhnya. “Anak kita harus selamat.”


“Kamu juga harus selamat, sayang!” Alexa mengusap rambut Azlan, mengusap keringat yang membanjir di wajah itu. Menciuminya dengan isak tangis.


“Ak… Aku ikhlas. Kamu harus jaga anak kita baik-baik, sayang.”

__ADS_1


“Ayo, kita harus keluar dari sini! Kamu jangan bicara sembarangan. Kita akan punya anak! Ingat itu!” Alexa histeris. Tangsinya kian pecah.


“Ak… Aku men... aku mencintaimu.” Azlan mengangkat tangan menyentuh pipi Alexa, tak lama pandangannya gelap.


“Aku juga mencintaimu, sayang.”


Tubuh dalam pelukan Alexa itu langsung lemas dan terasa sangat berat seiring dengan mata Azlan yang terpejam. Lengan kokoh Azlan terjatuh dan terayun.


“Azlaaaaaan…!”


Sebuah motor melintas, menghampiri. Segera pengendara motor tersebut memberi pertolongan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2