
Yakub yang duduk di sofa agak jauh, diam saja. Ia sudah lama mengenal Azlan. Mana ungkin Azlan berbuat tidak senonoh terhadap perempuan. Begitu pikirnya. Yakub meneguk kopi hangat yang tadi disediakan OB untuk Azlan. Tidak ada jarak yang memisahkan antara Azlan, Yakub dan Arul karena mereka adalah sahabat. Sampai-sampai kopi untuk Azlan pun bisa direbut oleh yang lain.
“Ya udah, kalau memang lo dan mereka semua pengen tahu apa yang sebenernya terjadi di lift, mendingan kita sama-sama ngeliat rekaman cctv-nya,” tegas Azlan menatap Arul penuh percaya diri.
“Iya, deh gue percaya,” celetuk Arul meski masih cekikikan.
Kemudian Azlan menceritakan apa yang telah terjadi di dalam lift.
Yakub menyandarkan kepala di sandaran sofa sembari mengulumm senyum, ia tidak menyangka Alexa bisa bersikap seperti yang Azlan ceritakan. Sementara Arul langsung melempar tubuhnya ke sofa sembari mengusap wajah kasar.
“Ah ya ampuuuun... Kenapa Azlan yang dapet rejeki itu? Kenapa bukan gue aja yang ada di dalam lift? Kan gue yang bisa peluk Alexa,” gumam Arul sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
“Mulai, deh. Ngelantur tuh anak. Pasti otaknya ngeres,” sahut Yakub sembari melempar bantal sofa ke muka Arul yang segera disambut dengan tangkas oleh Arul. “Antum perlu banyak-banyak beristighfar biar yang ngeres bisa bersih.”
“Lantai kali dibersihin? Selalu Azlan yang beruntung. Kenapa nggak gue? Kalo aja gue yang ada di lift itu, pasti gue sudah manfaatkan kesempatan emas itu. Beruntung banget lo, Lan.”
“Beruntung?” Azlan mengangkat kedua tangan heran. “Ya ampun Arul, ini musibah, bukan keberuntungan. Dan sekarang gue nggak tau mesti ngomong apa kalau ketemu Pak Joan, Direktur kita. Gue harap dia melihat rekaman cctv itu, sehingga dia nggak salah paham kalau sampai beliau mendengar gosip orang-orang. Semoga.” Azlan mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
“Sabar. Bawa istighfar. Entar pasti lebih tenang,” ucap Yakub.
“Lihatlah, mereka semua ngeliatin lo terus. Lo udah kayak layar tancap aja di mata mereka,” komentar Arul mengawasi mereka yang melintas dan menoleh ke arah Azlan.
“Itu perasaan lo aja. Wajar mereka menoleh kesini, kacanya aja bening. Kita keliatan dari luar.” Yakub mengomentari sambil menggeser-geser layar ponselnya. Ia duduk di sofa dengan santai. “Belum tentu mereka ngeliatin Azlan, bisa aja mereka ngeliatin gue, kan?” Yakub tersenyum melihat kepanikan Azlan. Tidak pernah Azlan sepanik ini sebelumnya, ia selalu tenang dalam menghadapi masalah.
__ADS_1
“Kenapa sepanik itu, sih? Nyantai aja lagi, Lan. Ini hanya perkara pandangan para karyawan terhadap lo, kan? Udahlah, cuek aja. Biarin aja mereka ngomong apa, kenapa mesti diperduliin?” sela Yakub masih dengan senyum.
“Ini bukan perkara pandangan mereka, tapi ini mengenai harga diri,” sahut Azlan kemudian berdiri dan sekarang berjalan hilir mudik.
“Harga diri? Kenapa dengan harga diri?” sahut Arul pura-pura ****. “Kagak ada yang nawar berapa harga diri lo juga.”
“Kesannya gue main gila sama perempuan. Ya Tuhan. Gue juga nggak mau masalah ini terdengar sama Bunda. Beliau pasti akan salah paham dan menilai yang bukan-bukan kalau sampai ada yang ngelaporin ke sana.” Azlan ingat dia juga pernah berbuat hal gila dengan Kikan. Tapi setidaknya tidak seheboh sekarang karena kali ini dia dipergoki banyak orang.
Yakub mengangguk-angguk. Bunda. Ya, Azlan sangat menghormati bundanya. Wajar Azlan gelisah.
TBC
__ADS_1