
Selama dua hari Azlan menjalankan tugas di luar kota, ia pergi bersama dua asistennya serta Alexa yang juga turut serta.
Perjalanan menuju Jakarta masih harus memakan waktu tiga jam lagi. Azlan memerintah Sunil, supirnya agar mobil berbelok ke memasuki area hotel. Azlan dan Alexa turun dari mobil menuju ke area hotel.
Dua asisten yang menaiki mobil berlainan pun ikut memasuki hotel yang sama. Mereka memesan kamar hotel untuk beristirahat sebelum menjelang pagi.
Azlan mengambil kunci kamar sesaat setelah memesan kamar. Alexa mengikuti Azlan berjalan menaiki anak tangga sementara kedua matanya fokus ke ponsel yang sedang asik ia pentengi, jemari lentiknya asik mengetik-ngetik di ponsel.
“Lexa, berhentilah memainkan ponselmu. Kamu bisa terjatuh kalau nggak ngeliat jalan,” pinta Azlan menatap Alexa yang begitu asik dengan ponselnya.
“Kan ada kamu yang bakalan nolongin aku,” jawab Alexa dengan ringan, pandangannya masih terus menunduk tertuju ke layar ponsel.
__ADS_1
Azlan tidak mengomentari lagi. Ia hanya perlu menjadi suami siaga, yang akan melindungi dan menjaga Alexa dengan baik, supaya wanita itu mengerti bahwa keperduliannya terhadap Alexa tidak main-main. Alexa berhenti saat ada yang menelepon, ia menjawab telepon dan menyandarkan punggung di dinding.
Azlan teerus melangkah tanpa emnyadari Alexa yang berhenti di belakangnya. Azlan terpaku seketika saat berbelok dan ia mendapati pemandangan yang mengejutkan. Tampak di depan sana, Pak Joan yang berjalan dengan arah berlawanan sedang berjalan di koridor bersama seorang wanita yang menggelayuti lengannya, Kikan.
Oh…
Inikah jawabannya kenapa Pak Joan bersikukuh mempertahankan Kikan di perusahaan? Ternyata dia adalah simpanan Pak Joan. Ya ampun.
“Kita ke luar sekarang!” Azlan menarik pergelangan tangan Alexa membuat tubuh Alexa berputar balik dan terseret mengikuti langkah Azlan.
“Hei, kamu mau bawa aku kemana? Aku letih sekali dan ingin segera tidur,” protes Alexa. “Badanku pegel-pegel gini setelah perjalanan jauh.”
__ADS_1
“Kita pulang aja.”
“Hentikan, Azlan! Kamu yang putuskan untuk menginap di sini, kenapa berubah pikiran?” Alexa menghentak-hentakkan tangannya minta dilepaskan. Matanya sudah mengantuk dan ia ingin segera merebahkan tubuh ke kasur.
“Ada hal penting yang harus segera diselesaikan.”
“Oh ya ampun, lalu gimana dengan kamar yang udah kita pesan?”
“Batalin aja.” Azlan meletakkan kunci ke meja resepsionis kemudian melenggang menuju parkiran sesaat setelah menelepon supir dan mengajak supirnya untuk segera kembali ke Jakarta. Azlan tidak ingin Alexa mengetahui hubungan antara Pak Joan dan Kikan, hal itu pasti akan membuat Alexa merasa jauh lebih sakit dan kecewa. Setelah Alexa bersedih atas kepergian ibunya yang dibunuh, kemudian ia kehilangan kasih sayang papanya karena papanya menikah dengan wanita yang terus saja menyita waktu papanya, apakah ia juga harus mengetahui kejadian itu lagi?
Tidak. Azlan tidak ingin Alexa menumpuk beban masalah yang bertimbun. Cukup masalah yang ada menjadi beban pikirannya, jangan ditambah. Alexa sekarang bahkan sampai harus mengenal narkoba akibat beban masalahnya. Azlan tidak ingin Alexa semakin terpuruk. Azlan ingin menyelesaikan masalah Pak Joan dengan caranya sendiri. Alexa adalah tanggung jawabnya sekarang, masalah apapun yang menimpa Alexa juga menjadi bagian masalahnya.
__ADS_1
TBC