
Usia kandungan Alexa sudah empat minggu. Azlan melihat tanggal pembuatan surat dokter yang ternyata sudah hampir tiga minggu berlalu. Azlan tidak tahu apakah ia harus bahagia atau bersedih. Ditengah kebahagiaan yang membuncah, sisi lain hatinya merasa sedih karena Alexa masih bersikeras dengan egonya yang mempertahankan kecemburuan hingga tidak memberitahukan informasi besar itu kepadanya.
Azlan keluar kamar sambil menyelipkan surat ke kantong celana. Ia menuju ke ruangan keluarga yang ada di lantai dua. Feelingnya benar, Alexa ada di sana. Wanita itu tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Ia melirik sebentar ke arah Azlan yang memasuki ruangan. Kemudian pandangannya kembali fokus ke layar ponsel.
Azlan berdehem melihat sikap acuh tak acuh yang ditampilkan oleh Alexa. Tidak ada senyum dan tegur sapa dari wanitanya itu. Azlan menghampiri Alexa dan berdiri di belakang sofa tempat Alexa duduk. Ia melipat tangannya dan menyandarkan siku tangan ke sandaran sofa.
“Alexa!”
“Hm.” Alexa masih fokus ke ponselnya.
“Apa kamu nggak ingin menyampaikan kabar gembira itu padaku?”
“Kabar apa?”
Azlan menghela nafas melihat sikap dingin Alexa. “Aku ayah dari anak yang kamu kandung bukan?”
Alexa sedikit terkejut mendengar pertanyaan Azlan. Ia memutar mata tanpa melirik ke arah Azlan. Mulutnya membungkam. Ia sedang tidak ingin bicar dengan suaminya itu disaat perasaannya sedang kacau, sebab ia takut menjadi marah dan ujungnya malah menyakiti perasaan Azlan.
Azlan memutari sofa, kemudian duduk di sisi Alexa.
Alexa melirik tangannya yang digenggam oleh Azlan.
“Kita akan menjadi orang tua.” Azlan memiringkan tubuhnya hingga sedikit menghadap ke arah Alexa. “Apa kamu nggak ingin mengenalkanku pada anak kita? Seenggaknya ijinkan telapak tanganku untuk menyentuhnya.” Azlan meletakkan telapak tangannya ke permukaan perut Alexa. “Aku akan menjadi seorang ayah. Dia anak kita.”
Alexa mengangkat wajah, lalu tersenyum tipis. “Iya, ini anak kita.”
Mendengar jawaban Alexa, hati Azlan merasa lega. Jawaban itu seperti hujan yang menyiram batinnya yang gersang. Ya, batinnya menjadi gersang saat Alexa menjauhinya.
“Aku menemukan surat keterangan dari dokter. Aku bahagia karena kerja kerasku setiap malam akhirnya berhasil juga.” Azlan tertawa setelah mengucapkan kalimat itu.
Berbeda dengan Alexa yang hanya diam.
__ADS_1
Azlan tidak mau membahas perasaannya yang bersedih karena Alexa tidak memberitahukan kabar itu kepadanya, ia menyisihkan rasa itu demi mendapat senyuman dari istrinya. Ia tidak mau merusak momen kembalinya senyuman Alexa dengan membicarakan hal-hal yang sensitif.
“Kamu akan menjadi seorang ibu,” bisik Azlan.
“He’em.” Alexa tersenyum lagi.
Azlan tidak menyangka jika ternyata pembicaraan mengenai calon bayi akan kembali menyatukan mereka.
“Terakhir kamu cek kehamilan adalah tiga minggu yang lalu. Bagaimana kalau kita cek lagi? Aku ingin melihat kondisinya.” Azlan meraih gelas dan menuang air mineral ke gelas tersebut, lalu meneguknya. Tenggorokannya terasa kering setelah berbicara banyak, rasa bahagia menguras tenaganya.
“Apa lagi yang harus dicek? Saat usia kandungan lima bulan, baru kita cek lagi.”
Azlan tersenyum mendengar Alexa menyebut kata ‘kita’. Artinya istrinya itu sudah bisa membuka hati secara perlahan.
Alexa bangkit berdiri.
“Mau kemana?” Tanya Azlan sambil mendongakkan wajah menatap Alexa yang berjalan ke arah pintu.
Azlan mengangkat alis tak yakin. “Ke dapur? Ngapain?”
Alexa tidak menjawab. Ia terus melangkah hingga sampai ke ruangan khusus tempat para asisten rumah tangga. Tampak para asisten rumah tangga tengah menonton televisi, kecuali Idris yang tentunya tidak bisa ikutan nimbrung karena harus duduk manis di pos penjagaan. Ia sudah mendapat tontonan yang sama dengan adanya televisi yang dipasang di pos.
“Wen, ikut ke dapur, yuk!” titah Alexa.
Weni membelalak. “Nggak salah, Non? Ke dapur?”
“Gue ngajakin lo ke dapur kok malah bengong, sih? Buruan!” kesal Alexa membuat Weni bergegas mengikuti Alexa menuju ke dapur.
“Ambilin celemek!” titah Alexa lagi saat ia sudah berdiri di meja dekat kompor gas.
Meski dengan perasaan bingung, Weni menuruti perintah majikannya dari pada mendapat semburan majikannya lagi. Weni membuka lemari atas meja dan mengambil salah satu celemek bersih.
__ADS_1
“Ini, Non.” Weni memberikan kain yang baru saja dia ambil.
“Weni!” hardik Alexa sambil menatap kain tersebut. “Gue minta celemek!”
“Lah ini!” Weni menatap kain di tangannya. “Eeeh… Maaf. Kirain ini celemek.” Weni melempar kain lap ke sudut meja lain. Ia kemudian kembali membuka lemari atas dan mengambil celemek. Kali ini ia memperhatikan kain yang diambil dengan seksama, takut salah ambil lagi.
Alexa meraih celemek yang diberikan oleh Weni dan mengenakannya.
“Non, mau ngapain?” tanya Weni heran melihat Alexa yang mendadak ingin mengenal celemek. Alexa tidak memiliki celemek, tentu saja majikannya itu meminjam celemek milik asisten rumah tangganya.
“Mau shoping,” jawab Alexa menatap Weni sebal. “Yam au masaklah, masih nanya aja.”
“Ooh… Ya heran aja, masak sih seorang Non Alexa niat banget masak? Sejak kapan gitu?”
“Gue mau masak udang galah bakar. Lo ambil gih semua bahan-bahannya.”
“Bahannya apa aja, Non?”
Alexa menatap Weni kesal. “Kok, nanya? Mana gue tahu bahannya apa aja. Lo yang lebih tahu kan? Lo ambil aja semua bahan-bahannya. Udah itu kasih tau gue cara masaknya.”
“Ooh begitu. Oke, siap laksanakan!” Weni menghambur menuju kulkas dan mengambil semua bahan yang dibutuhkan. Ia dengan telaten memberi tahu tata cara memasak udang dan Alexa mengerjakannya meski dnegan gerakan kaku karena tidak terbiasa. Weni membantu Nonanya, mencuci udang, memblender bumbu, dan lain sebagainya.
Alexa tidak butuh waktu lama untuk memasak karena ia dibantu oleh Weni. Saat udang dimasukkan ke dalam tempat pemanggangg, Alexa menungguinya dengan sabar di meja makan. Sebentar-bentar ia bertanya pada Weni, kapan udang bisa dimakan. Bahkan mungkin sudah ada tujuh kali Alexa menanyakan pertanyaan yang sama.
“Ya udah deh, lo anta raja ke kamar kalau udah mteng nanti, ya!” perintah Alexa kemudian ia pergi meninggalkan dapur setelah melepas celemeknya.
Alexa masuk ke kamar. Pertama-tama ia mendengar suara ponsel bordering. Ia mendekati sumber suara dan melihat ada telepon masuk di ponsel suaminya yang diletakkan di nakas. Alexa terkejut melihat nama yang tertera. Mekka.
TBC
So, cerita ini update-nya gantian sama ceritaku yg berjudul. SALAH NIKAH
__ADS_1